Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 116


__ADS_3

Kabar kematian Rivera cukup menggemparkan, banyak spekulasi-spekulasi yang muncul, banyak pula ragam komentar yang dilontarkan oleh orang-orang padanya. Namun, tidak jarang juga orang-orang menyalahkan Rivera karena sudah mengetahui buruknya wanita itu.


Allura menatap layar televisi di depannya dengan tatapan kosong, ada sudut hatinya yang terasa hampa ketika mendengar berita itu. Walau bagaimanapun, wanita itu turut ikut memberikan jalan kehidupannya hingga ia sampai di titik ini. Ia sangat menyayangkan tindakan Rivera yang memilih untuk melenyapkan dirinya dari pada berdamai dengan keadaan.


"Bi, kamu jangan sedih, ya .... Meskipun Mama Vera sudah tidak ada, kamu masih mempunyai Mama Rara di sini. Kamu tidak sendirian. Mama akan selalu menyayangimu, Nak!" ucap Rivera sambil memeluk Bintang yang ada di pangkuannya.


Saat ini ia sedang menunggu kedua mertua serta suaminya yang tengah berganti pakaian. Mereka berencana untuk menghadiri prosesi acara pemakaman Rivera. Meskipun sebenarnya Nyonya Fika enggan untuk hadir, tapi Tuan Anderson tetap memaksanya. Beliau tidak ingin sampai ada orang-orang yang berspekulasi buruk terhadap keluarganya, jika tidak menghadiri acara pemakaman mantan menantunya.


"Ayo, Ra," ajak Tuan Anderson pada sang menantu yang masih duduk di depan televisi.


"Iya, Pa." Allura bangkit dan ikut berjalan bersama suami serta kedua mertuanya.


Mereka akan ke pemakaman dengan menggunakan satu mobil saja. Arzan juga berniat untuk menjelaskan rumor-rumor buruk yang menyebar tentangnya.


"Ra, aku harap nanti kamu jangan sampai terpengaruh oleh ucapan-ucapan buruk mereka, ya. Kami akan selalu membelamu," ucap Nyonya Fika yang merasa khawatir terhadap Allura. Bukan tanpa alasan Nyonya Fika khawatir, wanita muda itu adalah termasuk orang baru, tidak menutup kemungkinan jika akan ada orang yang menyalahkannya atas hal yang Rivera lakukan.


"Tentu, Ma. Aku percaya terhadap kalian," jawab Allura sambil tersenyum. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja, meskipun dalam hatinya Allura begitu was-was dan takut.


Perjalanan itu pun mereka tempuh dengan keheningan. Semuanya sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Allura dengan segala ketakutannya dan Arzan yang merasa khawatir jika orang-orang akan menilai buruk istrinya.


Semoga saja mereka tidak menyalahkan Allura. Semua ini bukan kesalahan dia, batin Arzan.


Waktu berlalu begitu saja, kini mobil yang keluarga itu naiki sudah sampai di areal pemakaman umum. Arzan menuntun Allura, pria itu sama sekali tidak menjauh dari wanitanya. Ia senantiasa melindungi Allura karena khawatir akan ada orang yang mencelakainya.

__ADS_1


Saat Arzan diminta untuk membantu proses pemakaman, ia menitipkan Allura dan Bintang pada mamanya, sementara dia dan sang papa ikut turun ke liang lahat.


"Kasihan sekali Rivera, hidupnya harus menderita karena suaminya lebih memilih baby sitter yang ia percayai untuk mengurus anaknya. Tapi, malah menikam dia dari belakang," ucap salah satu wanita yang hadir di sana.


"Iya, ya .... Padahal, Rivera juga pernah minta untuk rujuk, tapi mantan suaminya tidak mau dan malam menikah dengan perempuan lain," sahut wanita yang lainnya.


"Hei, kalian tidak tahu apa-apa. Apa kamu lupa, waktu pemotretan saat itu, Rivera tiba-tiba hadir. Padahal, dia belum genap melahirkan satu minggu, tapi lebih memilih menginap di luar kota. Kalau memang dia wanita baik-baik, dia tidak akan melakukan hal itu," tanggap wanita lain lagi yang lebih menyalahkan Rivera. Meskipun dia salah satu teman Rivera, tapi dia tidak berniat untuk membela wanita itu.


"Sen, kamu jangan seperti itu. Biar bagaimanapun Rivera adalah teman kita. Setidaknya kamu jangan menyalakan dia di saat-saat terakhirnya," tegur wanita pertama yang tadi membela Rivera.


"Aku tidak peduli, yang salah tetap salah. Rivera memang temanku, tapi aku tidak akan pernah membelanya karena dia sudah salah," jawab wanita yang dipanggil dengan nama 'Sen' itu. Dia pun pergi dari pemakaman setelah menjawab teguran wanita tadi.


Allura tersenyum kecut ketika mendengar percakapan mereka. Meskipun dia tidak ada sangkut pautnya, tetapi dua wanita tadi tetap menyalahkan dia dan juga Arzan, suaminya.


Nyonya Fika hanya bisa mengusap punggung menantunya, ia berharap Allura tidak memasukkan omongan kedua wanita di dalam hatinya.


"Ra, sebaiknya kita tunggu Papa dan Arzan di mobil saja. Mama sedikit kurang nyaman dengan tatapan orang-orang yang ada di sini," ajak Nyonya Fika sambil menarik tangan Allura dari kumpulan orang-orang yang masih melihat proses pemakaman Rivera.


"Baik, Ma."


Kepergian Nyonya Fika dan Allura ternyata diketahui oleh sebagian orang-orang yang mengenal Rivera. Mereka kembali saling berbisik dan membicarakan Nyonya Fika, tetapi tentu saja hal itu tidak membuat Nyonya Fika melepaskan genggaman tangannya dari Allura.


Inilah yang membuatku enggan untuk hadir ke acara seperti ini. Apalagi aku takut mereka menyerang Allura dengan kata-kata pedasnya, batin Nyonya Fika.

__ADS_1


Sesampai di dekat mobil, Nyonya Fika meminta alura untuk masuk dan menunggu di sana.


"Ma, apa tidak sebaiknya jika aku tetap berada di sana?" tanya Allura sambil menatap areal pemakaman dari dalam mobil.


"Jangan, Ra. Sudah, kita tunggu Arzan dan Papa di sini. Lagi pula sebentar lagi acaranya akan selesai dan kita akan langsung ke rumah orang tuanya Rivera. Tadi mereka sedikit terlambat dan tidak sempat ke kediaman orang tua Rivera. Jadi, mereka langsung ke pemakaman.


Allura menurut dan tidak lagi bertanya apa-apa. Ia memilih untuk memperhatikan orang-orang dari dalam mobil. Tak lama kemudian, acara pemakaman itu pun selesai. Arzan dan Tuan Anderson kembali ke dalam mobil mereka. Keluarga itu tidak berlama-lama berada di pemakaman.


"Ra, aku minta maaf karena kamu harus terbawa-bawa oleh keburukan Rivera dan menjadi buah bibir orang-orang," ucap Arzan yang merasa tidak enak hati terhadap sang istri.


"Tidak apa-apa, Mas. Aku tahu konsekuensinya. Jadi, jangan khawatirkan aku. Insyaallah aku baik-baik saja," jawab Allura sambil tersenyum.


Arzan sedikit bersyukur karena ternyata Allura bisa memakluminya. Bahkan, Allura tampak tak mempedulikan orang-orang yang sudah berkata buruk tentangnya.


Perjalanan mereka kembali ditempuh dalam waktu kurang lebih lima belas menit untuk sampai ke rumah orang tua Rivera. Di sana, sudah berkumpul saudara-saudara Rivera. Banyak dari mereka yang menyambut kedatangan keluarga mantan besannya, tetapi ada juga yang bersikap acuh dan tidak mempedulikannya.


"Assalamualaikum," siapa keluarga Arzan begitu mereka turun dari mobil.


"Wa'alaikum salam," jawab Paman Rivera.


Tuan Anderson membawa anggota keluarganya untuk bersalaman. Ada beberapa dari mereka yang menatap sinis Allura, tapi diabaikan oleh wanita itu. Ia lebih fokus pada Bintang yang ada di tangannya.


"Inikah bayi milik Rivera?"

__ADS_1


__ADS_2