
Sesampai di rumah keluarga Rafindra, Arzan kembali membantu Allura untuk menggendong sang anak, sedangkan tas dan barang-barang milik Bintang minta dibawakan oleh pekerja lain.
"Sini, biar aku yang gendong Bintang," pinta Arzan ketika ia dan Allura sudah turun dari mobilnya.
Allura mengangguk dan tersenyum sambil menyerahkan Bintang pada papanya. Ia sendiri mengikuti langkah Arzan di samping pria itu. Di sana, Ibu Ani sudah menunggu kedatangannya.
"Kalian sudah sampai?" tanya Ibu Ani sambil berdiri dari kursi yang ada di depan teras rumah keluarga Rafindra.
"Sudah, Ma. Mama sudah lama menunggu?" Allura dan Arzan menyalami wanita paruh baya itu.
"Tidak, Mama baru sampai beberapa menit yang lalu. Maaf karena Mama tidak ikut menjemput Bintang," ucap Ibu Ani lagi.
"Tidak apa-apa, Ma. Mari masuk .... Mama dan Papa sepertinya masih di jalan." Arzan membukakan pintu rumah itu dan mempersilakan mertuanya yang masuk ke rumah.
Ketiga orang itupun masuk bersama-sama. Ibu Ani dan Arzan duduk di sofa ruang keluarga, sedangkan Bintang masih berada di gendongannya. Allura sendiri pamit ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Bagaimana rumahnya, Ma. Apa Mama menyukai rumah itu?" tanya Arzan setelah ia dan Ibu Ani duduk.
"Suka, Nak. Terima kasih," jawab Arzan.
Tak lama kemudian, Allura pun datang kembali sambil membawa nampan dengan air dan toples cemilan di tangannya. Gadis itupun duduk di samping sang mama, ikut bergabung di sana.
Allura juga mengambil alih Bintang dari tangan Arzan, ia membiarkan suaminya untuk minum terlebih dulu. Begitupun dengan Ibu Ani. Ketiganya larut dalam pembicaraan mereka hingga tiba-tiba Ibu Ani teringat tentang pernikahan putrinya.
"Nak Arzan, maaf sebelumnya. Mama ingin bertanya tentang surat-surat pernikahan kalian, apa sudah diurus? Maaf, Mama bertanya seperti ini karena tidak mau jika Allura hanya menikah siri saja," ucap Ibu Ani setelah selesai mengutarakan isi hatinya. Sebagai seorang ibu, tentu ia ingin kejelasan mengenai status anaknya.
Arzan tersenyum dan mengangguk. "Tidak apa-apa, Ma. Mama tidak perlu khawatir, semua sudah aku urus," jawabnya.
Ibu Ani tampak menghela napas lega, ia bersyukur karena ternyata Arzan sudah mengurus semua surat-surat pernikahan mereka. Diam-diam Allura tersenyum sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Syukurlah jika semuanya sudah diurus. Mama tenang mendengarnya," ucap Ibu Ani.
Saat mereka sedang mengobrol, Nyonya Fika dan Tuan Anderson pun datang. Sepasang paruh baya itu nampak masih mesra meskipun usia pernikahan mereka sudah lebih dari 30 tahun.
"Assalamualaikum," seru keduanya begitu mereka masuk.
"Wa'alaikum salam ...," jawab Arzan, Allura dan Ibu Ani.
"Mama dan Papa dari mana? Kenapa datangnya telat?" tanya Arzan begitu kedua orang tuanya duduk.
"Mama dan Papa tadi ada keperluan mendadak. Jadi, kami memutuskan untuk menyelesaikannya dulu setelah itu, baru pulang kemari," jawab Nyonya Fika sebelum ia menyeruput air yang sudah disediakan oleh menantunya di atas meja.
"Oh."
Setelah cukup mengobrol, Allura pun pamit undur diri. Ia bermaksud untuk membawa Bintang beristirahat di kamarnya. Namun, ia tidak menyadari jika ternyata Arzan mengikuti langkahnya dan ikut masuk ke kamar yang ditempati oleh Bintang serta Allura.
"Mas, kenapa kamu suka sekali mengejutkanku!" tegur Allura sambil membenarkan tiga kancing baju yang paling atas bekas menyusui Bintang.
"Maaf, sayang. Aku tidak bermaksud untuk mengejutkanmu. Aku hanya lelah dan ingin istirahat saja," jawab Arzan tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Allura.
"Apa Bintang sudah tidur?" tanya Arzan lagi.
"Sudah, Mas. Kenapa?"
"Tidak ada. Tunggu ...." Arzan bangkit dan beringsut untuk memindahkan Bintang ke dalam box tempatnya tidur.
"Lho, kenapa Bintang dipindahkan?"
"Tidak ada. Aku hanya tidak ingin istirahatnya terganggu saja. Jadi, aku memindahkannya ke sana," jawab Arzan sambil menunjuk ke arah box.
__ADS_1
Arzan pun kembali naik ke atas tempat tidur, sedangkan Allura hanya terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Gadis itu terlalu gugup, dia tidak pernah sekali pun berada satu ruangan dengan seorang pria.
Ya Tuhan ... apa yang harus kulakukan sekarang? Tidak mungkin Mas Arzan ingin melakukannya sekarang 'kan? Ini ... ini msih siang, batin Allura sudah ketar-ketir dibuatnya.
Arzan pun kembali naik ke atas tempat tidur, sedangkan Allura hanya terdiam, ia tidak tahu harus berbuat apa. Gadis itu terlalu gugup, dia tidak pernah sekali pun berada satu ruangan dengan seorang pria.
Tanpa sadar, gadis itu menggigiti bibir bawahnya karena gugup. Lain halnya dengan Arzan, ia melihat tingkah Allura malam tampak begitu menggoda menurutnya. Tadinya ia hanya ingin beristirahat, tetapi setelah melihat Allura yang begitu mempesona, sesuatu dalam dirinya pun bangkit.
****, Allura benar-benar begitu menggoda. Jika seperti ini aku tidak akan tahan sampai nanti malam, rutuk Arzan dalam hatinya.
Tidak menunggu lama, Arzan pun menghampiri Allura dan mulai mendekati gadis itu. Biar saja di luar masih siang, toh mereka sudah sah, begitu pikirnya.
Jantung Allura semakin berpacu tak kala Arzan yang tiba-tiba menindihnya. Apalagi pria itu mulai mendekat pada bibir dan perlahan menyapu kulitnya semakin membuat Allura menahan napas. Meskipun masih sedikit kaku, Allura mulai mengimbangi permainan Arzan, ia tidak ingin jika suaminya kecewa karena Allura hanya diam layaknya patung.
Arzan tersenyum tipis disela-sela kegiatannya, ia merasa Allura sudah memberikan lampu hijau atas tindakan yang akan ia lakukan. Pria itupun mulai memberanikan diri untuk menggapai tempat lain, aset yang selalu diberikannya pada Bintang, kini ia pun merasakannya juga. Arzan juga mulai melampiaskan hasrat terpendamnya pada bagian lain.
Allura sudah pasrah menerima semua perlakuan Arzan. Gadis itu mulai terbawa suasana, ia mulai berani mengalungkan tangannya ke leher Arzan. Pria itu bagai menemukan oase di padang tandus, Arzan ingin mereguk nikmatnya bercinta setelah sekian lama tidak merasakannya. Statusnya memang duda, tapi Arzan hanya pernah sekali seumur hidupnya melakukan kal itu bersama Rivera. Tentu saja hal itu ketika Rivera mabuk dan salah masuk kamarnya, sehingga terjadilah apa yang seharusnya terjadi saat itu.
Akan tetapi, untuk saat ini rasanya sangat berbeda. Arzan akan melakukannya dengan penuh cinta bersama orang yang akan menemaninya sampai tua nanti. Ya, dia percaya jika Allura adalah wanita terakhir yang sudah ditakdirkan untuknya, untuk menemani dia dalam suka dan duka, serta dalam keadaan sehat maupun sakit. Jadi, saat ini Arzan merasa sangat bahagia, dia berjanji akan membahagiakan wanita itu sepenuh hatinya.
Keduanya larut dalam permainan panas mereka. Namun, ketika permainan itu hendak berlanjut ke hal yang lebih serius, tiba-tiba mereka tersadar saat mendengar suara nyaring Bintang yang menangis.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Rekomendasi Novel kakak-kakak 🤗🤗🤗
Jangan lupa mampir, ya 🤗🤗
__ADS_1