Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 25


__ADS_3

Malam ini Allura benar-benar tidur sendirian, Nyonya Fika memaksa Bintang untuk tidur di kamarnya bersama Tuan Anderson. Bahkan box bayinya pun dipindahkan ke kamar atas.


Sedari tadi, Allura tidak dapat memejamkan matanya, ia benar-benar merasa kehilangan bayi itu. Jika biasanya Allura akan cepat tertidur dengan memeluk Bintang di sampingnya, kini yang ia perlukan hanyalah guling


"Bi, Mbak kangen kamu," gumam Allura sambil menyeka air yang tiba-tiba saja keluar dari pelupuk matanya.


Jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam, tapi matanya tak kunjung tertutup karena ia memang tidak bisa tidur tanpa Bintang di sampingnya.


Namun, saat waktu menunjukkan pukul setengah satu malam, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya dengan diiringi suara tangis bayi yang sangat Allura kenali.


Bintang, batin Allura dengan girang.


Gadis itu pun segera menyingkirkan selimut dan guling yang tadi ia peluk, Allura bergegas menghampiri pintu yang tak jauh dari tempat tidurnya.


Ceklek


"Lura, tolong tenangkan Bintang sekarang. Dari tadi dia terus-menerus menangis dan tidak mau berhenti," ucap Nyonya Fika begitu Allura membuka pintu kamarnya.


"Baik, Nyonya," jawab Allura sambil menerima Bintang dan gendongannya.


Bayi itu masih terus menangis, bahkan suaranya pun sudah hampir serak. Hati Allura sangat sakit kala mendengar tangisan Bintang yang sangat menyayat hatinya, bayi itu tersedu-sedu sambil terus meronta dalam dekapannya.


"Sayang, Nak. Ini Mbak, Adek kenapa, hem?" tanya Allura sambil terus menimang bayi kecil itu.


Nyonya Fika terus memperhatikan Allura yang tengah menenangkan cucunya, bahkan Nyonya Fika sama sekali tidak melihat guratan kesal pada wajah Allura, yang ada hanyalah wajah khawatir pada gadis itu kala melihat Bintang yang terus menangis.


Allura benar-benar menyayangi Bintang, bahkan gadis itu tidak merasa kesal saat Bintang tidak kunjung berhenti menangis, batin Nyonya Fika.

__ADS_1


Allura segera masuk ke dalam kamarnya dengan membawa Bintang, gadis itu pun mulai membuka tiga kancing atas piyamanya untuk mulai menyusui Bintang.


"Mimi, ya, Nak."


Allura mengeluarkan salah satu asetnya untuk ia berikan pada Bintang dan secara ajaib bayi itu langsung terdiam seketika sambil melahap sumber nutrisinya.


Nyonya Fika dan Allura bernafas dengan lega saat melihat Bintang yang sudah mulai tenang, meskipun masih sedikit tersedu-sedu akibat lamanya ia menangis tadi.


"Oh, ternyata dia tidak mau ASIP, Ra," ucap Nyonya Fika seraya mengusap kepala Bintang.


Allura tersenyum dan mengangguk sambil menatap mata polos Bintang yang bulat, bayi itu juga mengerjap beberapa kali saat ibu susunya.


"Benar, Nyonya. Ternyata Bintang tidak mau minum ASIP—ku," jawab Allura.


Dalam hatinya, Allura merasa bersyukur karena kemungkinan Bintang akan kembali tidur bersamanya.


Alhamdulillah, akhirnya Bintang kembali tidur bersamaku, batin Allura sambil tersenyum penuh arti.


"Ya sudahlah, Ra. Kamu tidak apa-apa, kan jika malam ini Bintang tidur bersamamu lagi?" tanya Nyonya Fika sebelum ia keluar dari kamar Allura.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya sama sekali tidak keberatan, saya senang karena bisa tidur bersama Bintang," jawab Allura sambil menoleh pada Nyonya Fika.


Nyonya Fika pun berlalu dari kamar Allura dan membiarkan keduanya untuk beristirahat, sedangkan Allura sendiri masih terus menyusui Bintang sambil berdiri membelakangi pintu yang tidak terlalu rapat. Sesekali gadis itu mengajak Bintang untuk berbicara di sela-sela acara menyusunya.


"Bintang mau tidur bareng Mbak, ya? Lain kali, kamu jangan menangis seperti tadi. Kasian tenggorokannya nanti sakit," ucap Allura sambil sedikit menyentuh tenggorokan Bintang yang membuat bayi itu tertawa pelan. Allura merasa terharu karena ia bisa mendengar tawa pertama yang keluar dari bibir mungil Bintang.


Tanpa mereka ketahui, Arzan sedang melihat pemandangan itu dari balik celah pintu yang tidak tertutup rapat. Lagi-lagi pria itu itu mencuri pandang Allura bersama anaknya.

__ADS_1


Ya Tuhan, kenapa aku merasa sangat terharu saat melihat mereka akur seperti itu? tanya Arzan dalam hatinya, pria itu menyentuh dadanya yang terasa menghangat.


Ya, Arzan merasakan ketenangan saat melihat bagaimana Allura memperlakukan Bintang layaknya anak kandung sendiri. Bahkan Arzan pun bisa menilai sendiri saat Allura yang sedang menenangkan anaknya dengan penuh kesabaran.


Aku penasaran, kira-kira apa yang akan dilakukan Rivera jika Bintang menangis seperti tadi? batin Arzan.


Setelah cukup lama terdiam di depan pintu kamar Allura, akhirnya Arzan pun memberanikan diri untuk mengetuknya.


Tok ... tok ... tok ....


Allura yang sedang membelakangi pintu, segera menoleh saat mendengar pintu kamarnya diketuk seseorang.


"Tuan, apa yang sedang Anda lakukan malam-malam di sini?" tanya Allura dari dalam kamarnya, sedangkan Arzan masih berdiri di luar kamar dengan pintu yang sudah sedikit terbuka.


"Emh, itu ... tadi ... tadi aku tidak sengaja mendengar Bintang yang sedang menangis, jadi aku datang kemari untuk melihatnya. Tapi, sepertinya sekarang dia sudah tidur," ucap Arzan tanpa masuk kedalam kamar Allura.


Allura mengangguk dan membenarkan ucapan Arzan. Gadis itu masih tahu tata krama, jadi ia tidak membiarkan Arzan masuk ke dalam kamarnya.


"Benar, Tuan. Tadi Bintang menangis saat tidur bersama Nyonya dan Tuan besar di kamar mereka. Jadi, mereka membiarkan Bintang untuk tidur bersama saya lagi," jawab Allura tanpa mengada-ada.


"Oh, baiklah. Jangan lupa kunci kamarmu dengan rapat sebelum tidur, jangan sampai ada orang lain yang masuk kamar ini tanpa sepengetahuanmu," kata Arzan yang sedikit membuat Allura mengernyit heran.


"Apa maksudmu, Tuan?"


"Tidak ada. Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Ikuti saja saranku," ucap Arzan sebelum ia berlalu meninggalkan Allura dan Bintang dalam kebingungan.


"Dasar aneh," gumam Allura sambil mendelik ke arah pintu yang hendak tertutup.

__ADS_1


Arzan tersenyum tipis saat mendengar umpatan yang baru saja dilontarkan Allura padanya. Namun, lagi-lagi pria itu menggeleng kuat menampik pikirannya sendiri.


"Hah, ada apa denganku?"


__ADS_2