Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 68


__ADS_3

"Apa benar ... gadis itu anak Adnan?" tanya Tuan Darion dengan mimik wajah serius sambil menatap Ibu Ani.


"Tentu saja itu anaknya Mas Adnan. Kenapa Anda menanyakan hal itu?" Ibu Ani bertanya dengan wajah kesal disertai kilatan amarah yang terpancar dari kedua bola matanya, dia tidak terima jika Tuan Darion meragukan Allura sebagai anak dia dan suaminya.


"Oh, ya? Tapi–"


"Cukup, Tuan Darion!" Ibu Ani sudah mengetahui apa yang selanjutnya akan dikatakan oleh Tuan Darion. Jadi, dia menghentikan perkataan pria itu terlebih dulu.


Baik Ethan dan Bibi Erni tak bisa ikut campur dalam urusan kedua orang itu. Meskipun mereka sangat penasaran, tapi mereka berusaha untuk menempatkan diri dan tidak bertanya apapun pada Ibu Ani maupun Tuan Darion.


"Kenapa kamu menghentikan perkataanku? Apakah ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku? Atau ... dugaanku benar?" cecar Tuan Darion sambil menyunggingkan senyum sinisnya.


"Jangan menduga-duga suatu hal yang mustahil, Tuan. Allura adalah anakku dengan Mas Adnan. Meskipun kamu sudah melakukan suatu yang buruk padaku, tapi hal itu tidak jadi masalah untuk Mas Adnan dan juga diriku," jawab Ibu Anin dengan lantang.


"Oh, ya? Tapi kenapa rasanya anak itu mirip sekali denganku?"


"Sudah kukatakan, Tuan. Allura adalah anakku dan Mas Adnan!"


Ibu Ani sempat bersitegang dengan Tuan Darion, tapi hal itu tak berlangsung lama karena Bibi Erni segera melerainya dan menenangkan Ibu Ani.


"An, sudah, kamu jangan terbawa emosi dulu. Ingat, dokter menyarankan kamu agar beristirahat dan belajar mengatur emosi," ucap Bibi Erni sambil mengusap lengan Ibu Ani.


"Baiklah, karena aku merasa kasihan terhadap kondisimu, jadi aku mengalah. Tapi ... aku akan mencari tahu tentang kebenaran anak itu." Tuan Darion masih bersikukuh dengan dugaannya. Sedangkan Ibu Ani terus menampik dugaan Tuan Darion.


"Jangan sampai Anda berani menyakiti anakku, Tuan. Jika Anda tetap melakukannya, maka aku tidak akan tinggal diam!" ancam Ibu Ani sambil menunjuk wajah Tuan Darion. Bahkan wajah wanita paruh baya itu sudah merah padam dengan napas memburu akibat emosi tinggi.


Bibi Erni segera membawa Ibu Ani kembali ke dalam kamarnya, ia tak ingin sampai terjadi sesuatu yang buruk pada sepupunya. Setelah Ibu Ani masuk kamar, Bibi Erni pun kembali keruang tengah rumah kontrakan.


"Tuan, saya memang tidak mengetahui masalah apa yang sedang kalian hadapi. Tapi tolong, untuk saat ini jangan memancing emosi Ani. Dia baru saja melakukan operasi beberapa hari lalu," ucap Bibi Erni pada Tuan Darion dan Ethan.


Tuan Darion tampak sedikit terkejut saat mendengar penuturan Bibi Erni, tapi dia langsung mengubah mimik wajahnya kembali datar hingga tak ada yang menyadari hal itu.


"Terserahlah, yang pasti aku akan mencari tahunya sendiri," jawab Tuan Darion sambil bangkit dari duduknya dan berjalan keluar rumah kontrakan Ibu Ani dengan rasa kesal.


Ethan mengikuti langkah kaki papa angkatnya dari belakang, ia tak berani bertanya apapun tentang wanita paruh baya yang ditemuinya di dalam rumah tadi.


Flashback off


Ada banyak pertanyaan yang ingin diajukan oleh Bibi Erni pada Ibu Ani. Semenjak kepergian Tuan Darion dari rumah kontrakannya, Ibu Ani terlihat lebih murung dan dan tak banyak bicara seperti biasa.

__ADS_1


Namun, untuk saat ini Bibi Erni lebih memilih diam dan tidak menanyakan apapun pada Ibu Ani. Dia takut jika penyakit sepupunya itu akan kembali kumat.


Saat Bibi Erni dan Ibu Ani sedang duduk, tiba-tiba mereka mendengar suara ketukan disertai salam dari luar rumah.


"Siapa yang bertamu, An?" tanya Bibi Erni.


"Aku tidak tahu, Ni. Coba saja kamu lihat," jawab Ibu Ani dengan tubuh yang lesu tanpa semangat. Saat ini dia sangat merindukan putrinya, Allura.


"Assalamualaikum," sapa beberapa orang dari luar rumah.


Bibi Erni segera bangkit dari duduknya dan membuka pintu. Betapa terkejutnya ia saat melihat Allura yang sedang berdiri sambil menggendong seorang bayi di depannya, di samping Allura pun ada Arzan yang sedang berdiri seraya menampilkan senyum hangatnya untuk Bibi Erni.


"Wa'alaikum salam .... Ya Tuhan, Ra. Ini benar kamu 'kan?" tanya Bibi Erni begitu heboh kala melihat keponakannya sedang berada di sana.


Ibu Ani segera bangkit saat mendengar sepupunya menyebut nama seseorang yang sangat dia rindukan.


"Allura," lirih Ibu Ani dengan suara pelan sambil menatap nanar sang anak yang sedang menggendong bayi di tangannya.


"Mama ...." Allura segera menghampiri Ibu Ani dan memeluknya.


"Mama sangat merindukanmu, Nak," ungkap Ibu Ani di sela-sela pelukannya.


Sepasang ibu dan anak itu terus berpelukan, hingga seorang bayi yang berada ditengah mereka sedikit terusik karena merasa tidurnya sudah diganggu.


"Ya Tuhan ... maafkan Mama, Ra. Mama lupa kalau kamu sedang menggendong bayi," ucap Ibu Ani sambil menyentuh pipi Bintang yang terlihat gembul. "Apa ini putra Tuan Arzan?" tanya Ibu Ani yang ditujukan untuk Arzan.


"Benar, Bu. Namanya Bintang," jawab Arzan sambil tersenyum ramah.


Ibu Ani hanya mengangguk-anggukan kepalanya untuk menanggapi jawaban Arzan, lantas ia pun membiarkan kedua orang dewasa itu untuk memasuki rumah kontrakannya.


"Ayo masuk, Lura. Ajak juga Tuan Arzan!" perintah ibu Ani yang langsung diangguki oleh Allura.


"Mari, silakan masuk, Tuan."


Allura dan Arzan pun masuk ke rumah kontrakan sederhana Ibu Ani.


"Maaf, di rumah ini tidak ada sofa ataupun kursi, Tuan," ucap Allura saat ia mempersilakan Arzan untuk duduk di atas tikar yang sudah tergelar.


"Sudahlah, tidak apa-apa."

__ADS_1


Bibi Erni segera ke dapur untuk membuatkan minuman, Allura sendiri mengambil sebuah bantal di kamarnya. Ia meninggalkan mamanya beserta Arzan yang masih duduk di sana.


"Bagaimana keadaan Ibu saat ini?" tanya Arzan pada Ibu Ani yang sedang duduk di hadapannya.


"Alhamdulillah, Tuan. Keadaan saya sudah lebih baik," jawab Ibu Ani. Dia masih sedikit kaku saat sedang berbicara dengan majikan anaknya.


Arzan tersenyum kecil saat mendengar jawaban Ibu Ani. Namun, ia berusaha untuk tetap seramah mungkin.


"Ibu, bisakah mulai sekarang jangan memanggilku dengan panggilan 'Tuan?" tanya Arzan.


Ibu Ani, menunjukkan reaksi sedikit terkejut saat mendengar permintaan majikan Allura.


"Lho, kenapa seperti itu? Bukankah Anda majikan Allura?"


Arzan sedikit menundukkan kepalanya, ia merasa bingung ketika harus mulai berbicara dengan ibu dari gadis yang ia sayangi.


Ayolah, Zan. Kamu pasti bisa menyakinkan Mamanya Allura. Ingat, beliau adalah calon Ibu mertuamu. Jadi, kamu harus bisa mengambil perhatiannya terlebih dulu, batin Arzan.


"Iya ... tidak ... maksudnya ... saya sudah bukan majikan Allura," ralat Arzan.


Ibu Ani mengernyit heran, ia tidak mengerti dengan maksud dari ucapan pria muda di depannya.


"Lalu, siapa majikannya Allura?"


Arzan terdiam, ia mengambil napas dalam untuk menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba melanda dirinya.


"Sebenarnya ... sebenarnya saya menyukai Allura, Bu," ucap Arzan dengan lantang.


.


.


.


.


Halo Kakak-kakak πŸ‘‹πŸ‘‹πŸ‘‹ maaf kemarin cuma up 2 bab πŸ™πŸ™ Tapi, insyaallah hari ini di usahakan 3 bab 🀭🀭 di jam biasa ya πŸ€—πŸ€—. Sambil nunggu, baca juga rekomendasi novel-novel yang aku saranin, ya 😁😁. salah satunya novel milik teman Author ini πŸ‘‡πŸ‘‡πŸ‘‡ jangan lupa mampir, ya πŸ€— makasih πŸ™


__ADS_1


__ADS_2