
Hari ini Allura dan Arzan akan kembali lagi ke rumah sakit. Mereka berangkat bersama karen tujuannya sama. Arzan meminta Edwin untuk kembali menggantikan dirinya yang sedang sibuk mengurus semua keperluan Ibu Ani dan Allura.
Allura sendiri merasa tidak enak hati karena harus kembali merepotkan Arzan. Namun, lagi-lagi pria itu menolak ketika Allura melarangnya untuk ikut ke rumah sakit. Allura mengetahui jika Arzan juga bukan orang yang tak punya kerjaan. Bahkan pekerjaan Arzan sangat banyak, sampai-sampai asistennya sendiri mendatanginya kediaman Arzan untuk memberikan beberapa berkas yang harus diperiksa olehnya.
"Tuan, seharusnya Anda berangkat ke perusahaan, bukan malah menemaniku kemari. Anda bisa datang kemari saat jam pulang kerja," ucap Allura untuk yang kesekian kalinya.
"Sudahlah, kamu diam saja. Aku yang paling mengetahui bagaimana kondisi perusahaanku. Jadi, kamu jangan mencoba untuk melarangku," jawab Arzan acuh sambil membukakan pintu mobil untuk Allura, saat ini mereka hendak berangkat menuju rumah sakit.
"Tetap saja, Tuan. Saya merasa tidak nyaman kerena sudah merpotkan Anda dan keluarga. Jika Anda mengatakan ini semua Anda lakukan hanya sebagai balas budi, lebih baik Anda tidak perlu melkukannya. Saya benar-benar ihklas menolong Anda dari kecelakaan itu," ucap Allura yang tak mendapat tanggapan apa-apa dari Arzan. Pria itu seolah berpura-pura tak mendengar ucapan Allura.
Di lantai atas, Nira mengepalkan tangannya kuat-kuat. Dia meresa sangat kesal sekali pada sepupunya itu. Bahkan, Nira juga merasa sangat marah ketika mengetahui tadi malam Arzan rela membuatkan Allura air jahe dan meminta mamanya untuk memberikannya pada Allura. Sedangkan Arzan sendiri segera berlalu ke luar, setelah menerima telpon dari seseorang yang Nira ketahui itu adalah panggilan dari dokter.
"Si*l, kenapa makin hari, mereka makin dekat seperti itu? Apa Papa sama sekali tak melakukan apapun pada Allura? Bukankah dia sudah berjanji untuk membantuku menyingkirkan Allura dari sisi Mas Arzan," geram Nira sambil menghentakkan kakinya beberapa kali.
Padahal, tanpa sepengetahuan Tuan Anderson dan Nira, Nyonya Fika serta Arzan sudah menggagalkan rencana busuk mereka.
Saat Nira sedang marah-marah di kamar, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya dengan cepat, layaknya orang yang tak sabaran agar pintu itu segera terbuka.
"Iya, sebentar," teriak Nira seraya melangkah menuju daun pintu itu.
__ADS_1
Nira terdiam saat ia melihat jika Nyonya Fika–lah yang tengah megetuk pintu Rumahnya.
"Bagus kamu segera membuka pintu," ucap Nyonya Fika sambil menatap sinis Nira.
Gadis itu merasa sedikit aneh dengan perubahan sikap Nyonya Fika padanya, tidak biasanya Nyonya Fika datang ke kamarnya. Apalagi dengan wajah yang tampak marah dan kesal.
"Ma–mama, ada apa?" Tanya Nira pelan.
Nyonya Fika mendorong pintu kamar Nira dengan cukup keras, sehingga membuat gadis itu mundur beberapa langkah dan pintu kamarnya pun terbuka lebar. Setelah pintu itu terbuka lebar, tanpa mengatakan sepatah kata, Nyonya Fika langsung masuk dan menguncinya.
Nira memundurkan dirinya, tak kala Nyonya Fika semakin mendekatinya. "Ma–mama, ada apa? Kenapa Mama bersikap seperti aneh seperti ini?" tanyanya dengan sedikit gemetaran karena takut.
Nira semakin bergerak gelisah saat mendengar pertanyaannya Fika. Nira masih belum mengerti jika Nyonya Fika sudah mengetahui siapa dia yang sebenarnya.
"Kenapa tidak menjawab?" tanya Nyonya Fika dengan tatapan tajam dan sebelah alis yang terangkat.
"A–apa ma–maksud Ma–mama?" tanya Nira lagi. Bahkan kini ucapan Nira pun sudah terbata-bata.
"Jangan membuatku bertanya tiga kali! Jika kamu tidak mau mengatakan padaku yang sebenarnya, maka saat ini juga riwayat hidupmu akan tamat!" ancam Nyonya Fika sambil menyeringai.
__ADS_1
Nira semakin memojokkan tubuhnya saat melihat seringai tak biasa dari Nyonya Fika. Gadis itu tampak ketakutan tak kala mengingat jika hanya ada mereka berdua di kamar.
"Ma–mama, mohon jangan seperti ini," pinta Nira dengan sedikit mengiba, ia tidak mau sampai terluka di tangannya Fika.
"Oke. Jika kamu tidak mau mengatakan siapa kamu yang sebenarnya. Maka, aku sendiri yang akan memberikan bukti-bukti palsumu pada suamiku. Kamu tidak tahu 'kan, kalau suamiku itu termasuk orang yang kejam." Nyonya Fika semakin memojokkan Nira, ia berusaha untuk membuat gadis itu mengakui siapa dia yang sebenarnya.
Beberapa saat yang lalu, Nyonya Fika baru saja menerima laporan dari orang suruhan Arzan, yang dia minta ini untuk memata-matai Nira, serta mencari latar belakang gadis itu. Hasilnya sangat mengejutkan, ternyata Nira selama ini sudah membohongi keluarga mereka.
Selain dia bukan anak dari Adnan, kedua orang tua Nira juga masih ada dan masih lengkap. Bahkan, orang suruhan Arzan pun memberikan bukti jika kedua orang tua Nira dan Allura ternyata adik kakak kembar. Namun, berbeda nasib. Yang lebih mengejutkannya lagi, Allura–lah putri dari Adnan yang sebenarnya.
Saat ini bukti-bukti itu masih dipegang oleh Nyonya Fika dan belum diberikan pada Tuan Anderson, dia masih ingin memberikan kesempatan untuk Nira agar pergi dari rumah itu secara baik-baik. Jika sampai Tuan Anderson mengetahui yang sebenarnya, maka bukan hanya Nira saja yang akan dihukum, tapi juga kedua orang tuanya.
Maka dari itu, sekarang Nyonya Fika mendatangi Nira dan meminta gadis itu untuk berkata yang sejujurnya. Namun, tampaknya Nira tidak berniat untuk mengatakan hal itu. Karena sampai saat ini, dia masih bungkam dan memilih untuk menenangkan Nyonya Fika yang terlihat marah padanya.
"Mama, apa maksud Mama berkata seperti itu? Aku sungguh anak Papa Adnan, aku tidak berbohong." Nira masih terus berkilah, bagaimanapun usahanya tidak boleh hanya sampai di sini.
"Wah ... wah ... wah ... ternyata kamu gadis yang cukup keras kepala, ya? Apa kamu pikir, kamu bisa membodohiku? Jangan bermimpi! Aku sudah mengetahui siapa kamu sebenarnya. Sekarang, kamu pergi dari sini! Keluar!" Nyonya Fika berteriak sambil menunjuk ke luar pintu yang sudah dibukanya, ia juga membuka lemari Nira dan menyimpan semua baju-baju Nira dengan asal ke dalam tas yang Nira bawa saat pertama kali dia datang.
Saat Nyonya Fika masih memasukkan baju-baju Nira, tiba-tiba datang seseorang orang tak disangka-sangka.
__ADS_1
"Berhenti, Ma!"