
Malam hari ....
Allura merasa sedikit heran, pasalnya tidak seperti biasa Arzan tak ada kabar saat malam hari. Biasanya pria itu selalu menghubunginya, apalagi ketika menjelang tidur. Namun kali ini, pria itu sama sekali tak menghubunginya selain sore tadi.
"Bi, tumben Papa tidak menghubungi kita, ya?" tanya Allura pada Bintang yang tengah ia susui. Seakan merespon, bayi itu melepaskan pu*ing pay*dara Allura dan meraih jemari ibu susunya untuk dia mainkan.
Allura bangkit dan menggapai ponsel yang ia simpan di atas nakas, dia bermaksud untuk menghubungi Arzan terlebih dulu. Entah kenapa, perasaannya saat ini mendadak resah.
Panggilan pertama tak mendapatkan jawaban dan hanya terdengar suara operator. Percobaan pertama gagal, Allura kembali menghubunginya, tapi hasilnya sama saja. Gadis itupun mendesah kecewa.
"Mungkin dia sedang sibuk sampai-sampai tidak sempat menghubungiku lagi," gumam Allura sambil membaringkan kembali tubuhnya disamping Bintang yang masih main dengan tangannya.
"Bi, mungkin Papa sedang sibuk, dia tidak menjawab panggilan kita," ucap Allura pada anak asuhnya.
Allura masih berharap ada panggilan masuk ke ponselnya, tapi hingga matanya tak kuat lagi terbuka, panggilan itu tak kunjung datang. Ibu susu Bintang pun memilih untuk menyibukkan dirinya dengan dunia mimpi.
***
Pukul satu dini hari.
Suasana sepi yang menyambut kedatangan Arzan seorang diri, Tuan Anderson memperbolehkan dia untuk pulang lebih dulu, sedangkan pria paruh baya itu sendiri akan pulang esok hari setelah meeting terakhir selesai. Arzan sampai rumah saat semua orang sudah terlelap dalam dunia mimpinya masing-masing dan hanya beberapa orang petugas keamanan yang masih terjaga di depan rumahnya.
Saat memasuki ruang keluarga, Arzan sempat menatap pintu kamar Allura yang tertutup rapat, sebelum akhirnya dia bergegas naik ke lantai atas tempat kamarnya berada.
Apa sekarang Bintang sudah tidak pernah bergadang lagi? gumam Arzan saat ia mengingat jika biasanya bayi itu akan terbangun malam hari. Namun, kali ini dia sama sekali tidak mendengar suara tangisan Bintang.
"Sudahlah, sebaiknya aku istirahat saja. Besok aku akan memberinya kejutan," ucap Arzan lagi pada dirinya sendiri. Lantas, pria satu anak itu memasuki kamar untuk mengistirahatkan tubuh lelahnya. Tidak lupa, Arzan juga menyempatkan diri untuk membersihkan tubuh sebelum akhirnya dia berbaring di kasur.
Rasa lelah setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, membuat Arzan dengan cepat terlelap dalam tidurnya. Bahkan pria itupun lupa untuk menghubungi seseorang.
__ADS_1
Keesokan harinya, Allura beraktivitas seperti biasa. Gadis itu akan keluar kamar saat dia sudah dalam keadaan rapi dan segar. Meskipun masih gadis, Allura jarang sekali memakai make-up dia hanya akan memakai pelembab dan sunscreen serta lipbalm sebagai pelengkapnya. Untuk pakaian pun Allura memilih kemeja, hal itu supaya mempermudah dia saat menyusui Bintang.
Bintang sendiri baru akan bangun pada pukul tujuh. Maka dari itu, selesai Allura merapikan diri, dia akan bergegas ke dapur untuk membantu bibi pekerja rumah itu menyiapkan sarapan. Namun, saat Allura memasuki dapur, dia sedikit heran karena tidak menemukan siapa-siapa di sana. Padahal, waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi.
"Tumben dapur masih sepi? Apa Bi Endah belum bangun?" gumam Allura sambil memakai celemek untuk melindungi pakaiannya yang masih bersih.
Setelah itu, Allura pun menghampiri kulkas untuk mengambil beberapa bahan makanan. Baru saja Allura menyimpan bahan-bahan masakan di atas meja, tiba-tiba sepasang tangan kekar melingkar di perutnya sehingga membuat gadis itu terkejut. Andai Arzan tak bersuara, pasti Allura sudah menyikut perut orang itu.
"Aku merindukanmu," gumam Arzan seraya memeluk Allura dari belakang dan menyembunyikan wajahnya diceruk leher gadis itu. Dia mencium dalam-dalam aroma tubuh Allura yang harum akan sabun mandi.
Allura sendiri hanya bisa mematung, dia tidak berani bergerak sedikit pun. Rasa terkejut sekaligus heran karena keberadaan Arzan membuat jantungnya bertalu, Allura hanya berharap Arzan tidak mendengar suara itu.
Arzan sendiri diam-diam tersenyum saat mendengar degup jantung Allura yang begitu nyaring sampai-sampai ia bisa mendengarnya.
"Hei, kenapa tidak menjawab pertanyaanku, sayang?" tegur Arzan lagi saat Allura masih belum menjawab pertanyaannya.
"M–mas ... to–tolong lepas dulu. Malu kalau sampai ada yang melihat kita," pinta Allura sambil melepaskan tangan Arzan yang mesti melingkar di perutnya.
"Mas ada Mama," tunjuk Allura pada bayangan seseorang yang tidak ia ketahui.
Arzan refleks melepaskan pelukannya dan mengikuti arah telunjuk Allura. Namun, dia tak melihat seorang pun ada di sana. Allura sendiri segera menjauhkan dirinya dari Arzan agar pria itu tak lagi memeluknya. Dia bergegas menuju tempat yang aman, sangat tidak baik jika Arzan kembali memeluknya lagi seperti tadi.
Syukurlah, dia mau melepaskanku, ujar Allura dalam hatinya sambil terkekeh pelan.
Arzan menyadari kepergian Allura. Pria itu pun hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis saat melihat gadis yang dicintainya pergi menjauh dari dapur.
"Ada-ada saja, dia mengerjai untuk melepaskan dirinya," gumam Arzan.
Setelahnya, Arzan pun memanggil para pelayan yang ada di rumah itu untuk mengerjakan kembali pekerjaan mereka masing-masing, tadi dia sempat melarang mereka memasuki rumah utama, tentu saja dia menggunakan waktu itu untuk mengobati rasa rindunya pada sang pujaan hati.
__ADS_1
Allura memasuki kamarnya dengan perasaan yang membuncah. Bagaimana tidak, kehadiran Arzan yang tiba-tiba membuat dia terkejut sekaligus bahagia. Dia yang tadi malam menunggu kabar darinya ternyata sudah kembali saat pagi hari.
Setelah perasaannya kembali tenang, Allura keluar kamar dengan Bintang di tangannya. Saat Allura memasuki kamar, ternyata Bintang sudah terjaga dari tidurnya. Gadis itupun segera memangku Bintang dan memberikannya ASI.
Di ruang keluarga, Arzan sedang duduk santai dan sibuk dengan tab di tangannya. Nyonya Fika sendiri sedang berada di dapur, beliau tengah membantu para pelayan. Allura memilih untuk menghampiri Nyonya Fika di dapur dari pada duduk bersama Arzan. Lagi pula pria itu juga sedang sibuk dengan kegiatannya.
"Allura, Bintang, kalian sedang apa di sini?" tanya Nyonya Fika saat menyadari kehadiran Allura di samping pintu.
"Anu ... itu ... maaf, Ma. Tadi ... tadi aku berniat masak, tapi ...." Allura melirik Arzan yang kini punggungnya sudah menegak.
"Tidak apa-apa. Mama mengerti, pasti tadi karena Bintang keburu bangun, 'kan?" Nyonya Fika salah mengira jika Allura tidak jadi memasak karena Bintang yang sudah terbangun. Dia tidak tahu jika Arzan–lah yang sudah mengacaukan pagi Allura dan membuat gadis itu pergi dari dapur.
"I–iya, Ma. Maaf," ucap Allura lagi sambil menundukkan kepalanya.
"Ya sudah, sekarang kamu bawa bintang duduk di sana. Jangan dibawa kemari," tanggap Nyonya Fika dengan menuju ke ruang keluarga tempat Arzan berada.
Allura sedikit ragu, tapi ia tetap melangkah menuju sofa keluarga. Bukan tanpa alasan Allura ragu berdekatan dengan Arzan, tetapi dia merasa sedikit kurang nyaman jika Arzan bersikap berlebihan padanya. Pria itu sudah jauh berbeda dari saat pertama kali mereka bertemu, Arzan yang sekarang terlalu sering membuat jantungnya berdebar. Terkadang Allura merasa risih akan hal itu.
Arzan tersenyum saat Allura sudah duduk di seberangnya dengan Bintang yang tak lepas dari tangan gadis itu.
"Apa Bintang rewel kemarin?" tanya Arzan seraya menyimpan tab yang tidak ia pegang.
"Tidak, Mas. Bintang sama sekali tidak rewel," jawab Allura sambil memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
"Oh, syukurlah." Arzan bangkit dari duduknya dan berpindah kesamping Allura.
"Iya, Mas."
Jantung Allura lagi-lagi berdebar kencang, gadis itu tetap merasa gugup saat Arzan ada disebelahnya.
__ADS_1
"Oh, iya, sayang ... keadaan Kakek Okta sudah lebih baik. Dia mencarimu."