
Arzan pulang ke rumah Nyonya Fika saat sore hari. Setelah kepulangan Bintang dari rumah sakit, pria itu enggan untuk kembali ke rumahnya sendiri dan memilih pulang ke rumah orang tuanya.
Apalagi saat ini ada anaknya yang juga tinggal di sana. Jadi, ia benar-benar mempunyai alasan kuat untuk datang ke rumah Nyonya Fika dan Tuan Anderson. Biasanya pria itu paling enggan jika harus berbaur dengan orang tuanya, tapi kali ini ia tidak merasa keberatan saat harus tinggal di sana.
Suara mobil berhenti tepat di pelataran rumah mewah itu. Dua orang pria turun dari mobil secara bersamaan, Nyonya Fika sudah menanti kedatangan anak dan suaminya yang baru pulang bekerja.
"Tumben kalian pulang bersama-sama?" tanya Nyonya Fika saat melihat anak dan suaminya.
"Iya, Ma. Mobilku sedang di servis. Jadi, aku ikut pulang bersama Papa, lagian kita juga searah dan satu tujuan," jawab Arzan sambil menyalami tangan Nyonya Fika.
Perkataan Arzan diangguki oleh Tuan Anderson yang sedang berdiri disampingnya.
"Iya, Ma. Papa yang menyuruh dia untuk rutin menyervis kendaraannya, Papa tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi," ucap Tuan Anderson dengan lirih.
Pria paruh baya itu masih membayangkan kejadian mengenaskan yang menimpa sang anak beberapa minggu lalu, hingga sampai saat ini ketakutan itu masih ada dalam hatinya, sampai saat ini pula ia masih berusaha untuk mencari seseorang yang sudah menyelamatkan nyawa anaknya dari peristiwa kejadian nahas itu.
"Sudahlah, Pa. Papa tidak perlu mengingat kejadian menakutkan itu lagi. Lagipula sekarang aku baik-baik saja dan akan lebih berhati-hati," timpal Arzan yang mengetahui sang papa masih selalu khawatir terhadapnya.
"Tetap saja, Zan. Apa yang kami rasakan sebagai orang tua, akan kamu rasakan juga suatu saat nanti. Jadi, hargailah kecemasan kami," tuturu Nyonya Fika yang sama halnya dengan sang suami, ia juga selalu cemas terhadap anaknya.
"Baiklah, baiklah. Aku mengerti. Sebaiknya kita masuk dan istirahat di dalam." Arzan segera mengalihkan perhatian kedua orang tuanya saat melihat wajah kedua paruh baya itu mulai kembali mendung, ia juga tidak ingin membuat kedua orang tua itu khawatir terhadap dirinya.
Setelah pembicaraan singkat itu teralihkan, mereka pun mulai melangkah masuk ke rumah. Arzan mengedarkan pandangannya kala ia tak melihat keberadaan anak dan ibu susunya.
Nyonya Fika yang melihat gelagat sang anak pun tersenyum tipis, ia tahu jika Arzan saat ini sedang mencari keberadaan Bintang.
"Bintang dan Allura masih di dalam kamarnya. Kamar mereka berada di dekat tangga," ucap Nyonya Fika sambil menunjuk pintu yang berada tepat di samping tangga.
"Mama membiarkan mereka tidur berdua?" tanya Tuan Anderson pada sang istri.
__ADS_1
"Iya, Pa. Ada apa? Apa ada yang salah?" tanya Nyonya Fika saat melihat reaksi Tuan Anderson yang seolah terkejut dengan ucapannya.
"Bukan apa-apa. Aku hanya berfikir jika Mama terlalu berlebihan dalam memperlakukan dia."
"Tidak, Pa. Bahkan Mama merasa apa yang kita berikan padanya itu masih kurang. Ingat, dia sudah memberikan jasa yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh apapun, Pa." Nyonya Fika menolak ucapan Tuan Anderson.
Bagi Nyonya Fika, menyusui adalah hal yang sangat spesial, itu adalah tugas seorang ibu yang tidak akan pernah bisa dibalas oleh apapun. Meskipun Nyonya Fika seorang ibu, tapi dia tidak sempat merasakan bagaimana bahagianya menyusui bayi. Beruntung Arzan dulu tidak memiliki alergi terhadap laktosa, jadi ia bisa memberikan susu formula sebagai gantinya.
"Terserah Mama saja, tapi Papa kurang setuju dengan apa yang Mama lakukan padanya. Kita belum lama mengenalnya. Jadi, kita belum mengetahui seperti apa dan bagaimana perangai seorang Allura," jawab Tuan Anderson sebelum pria itu bangkit dari duduknya dan melangkah meninggalkan Nyonya Fika yang masih duduk di sofa ruang keluarga.
Sementara itu ....
Allura baru saja selesai memandikan baby Bi, bayi merah itu terus bergerak aktif saat Allura mengangkatnya dari air. Allura yang melihat tingkah baby Bi merasa gemas sendiri, gadis itu terus dibuat terus tersenyum dan seolah lupa dengan beban yang sebenarnya sedang ia pikul.
Saat hendak memakaikan baju pun, kaki baby Bi terus menendang-nendang kecil, seolah menghindari Allura yang hendak memakaikan popok padanya.
"Sayang, coba Mbak pinjam dulu kakinya," ucap Allura seraya menggapai kaki mungil milik Bintang.
Allura tersenyum hangat saat melihat bayi itu melahap pu*ingnya dengan semangat.
Ya Tuhan, aku benar-benar cinta pada bayi ini, batin Allura sambil mengusap kepala bayi di tangannya.
Tanpa Allura ketahui, sedari tadi Arzan terus memperhatikannya dari balik pintu yang tak tertutup rapat. Bukan bermaksud melakukan tindakan yang tidak sopan, Arzan hanya sedikit penasaran saja dengan cara Allura yang merawat bayinya. Apalagi dia tahu jika gadis itu tidak mempunyai pengalaman apa-apa dalam mengurus bayi.
Untuk seukuran pemula, ternyata pekerjaannya cukup rapih dan cukup memuaskan. Bintang juga sepertinya terlihat sangat nyaman saat bersama gadis itu, batin Arzan.
Saat Arzan masih terus memperhatikan Allura dan Bintang dari luar pintu, tiba-tiba seseorang datang dan menepuk bahunya hingga membuat dia terkejut.
"Zan, kamu sedang apa?" tanya Nyonya Fika dengan mengerutkan kening karena heran melihat sang anak yang sedang memegangi dadanya.
__ADS_1
"Mama membuatku terkejut," gerutu Arzan dengan kesal.
Nyonya Fika menggeleng pelan saat mendengar gerutuan sang anak.
"Kalau kamu memang mau melihat mereka, sebaiknya temui langsung dan jangan berbuat seperti tadi! Itu tidak baik, Zan," tegur Nyonya Fika pada anaknya.
"Iya, Ma. Aku tahu. Aku hanya berniat untuk melihatnya sebentar," jawab Arzan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Allura segera melangkah menuju pintu saat mendengar kegaduhan yang terjadi di depan kamarnya. Gadis itu menatap heran pada sepasang ibu dan anak yang masih berdiri di sana.
"Nyonya, apa yang sedang terjadi?" tanya Allura pada Nyonya Fika tanpa menatap Arzan, ia masih kesal dengan pria itu.
"Tidak apa-apa, Lura. Itu, Arzan mau menengok Bintang. Apa dia sudah tidur?" tanya Nyonya Fika sambil mengerlingkan matanya pada Arzan.
Allura membalikan badannya dan menatap pria itu langsung. Meskipun hatinya masih kesal, tapi ia berusaha untuk menutupinya.
"Tuan mau melihat Bintang?" tanyanya dengan ramah yang dipaksakan.
"I–iya."
"Sebentar, biar saya gendong Bintang keluar," ucap Allura sambil melangkah masuk kedalam kamarnya. Sedangkan Nyonya Fika langsung pergi dari sana, saat melihat Allura yang masuk ke kamar untuk mengambil Bintang.
Hingga tak lama kemudian, Allura membawa bayi mungil itu dalam gendongannya.
"Ini, Tuan. Silakan."
Allura hendak menyerahkan Bintang pada papanya, tapi Arzan tak kunjung menerima uluran tangan Allura untuk menerima Bintang.
"Anda kenapa, Tuan?" tanya Allura dengan heran.
__ADS_1
"Saya ... saya tidak bisa menggendong bayi. Saya tidak tahu caranya."