
Beberapa hari telah berlalu, kesehatan Bintang sudah kembali stabil. Bahkan, dokter pun sudah memperbolehkannya untuk di bawa pulang. Kini di ruangan itu hanya ada Allura dan Bintang, sementara Ibu Ani sudah kembali ke rumah terlebih dulu.
Allura juga mendapat kabar jika kemarin Rivera sudah dipindahkan ke rumah sakit jiwa. Ya, wanita itu mentalnya jadi sedikit terganggu setelah keinginannya tidak terpenuhi. Meskipun begitu, pihak kepolisian tetap mengawasi keadaannya dan berjaga-jaga agar Rivera tidak sampai kabur.
Ketika Allura sedang menyiapkan semua barang-barang milik Bintang, Arzan datang dengan perlahan. Pria itu berniat untuk mengejutkan istrinya. Semenjak selesai akad dadakan beberapa hari lalu, mereka sama sekali tidak punya waktu berdua. Bahkan, Arzan merasa Allura lupa jika mereka sudah menikah. Tanpa sepengetahuan Allura, Arzan juga sudah mendaftarkan pernikahan mereka dan saat ini masih dalam proses pembuatan buku nikah, sedangkan untuk resepsi ia memilih untuk membicarakannya terlebih dulu dengan sang istri.
Allura terkejut saat sepasang tangan tiba-tiba melingkar di perut rampingnya. Ia hampir saja berteriak sebelum Arzan membekap mulutnya.
"Shut, jangan berisik. Nanti Bintang terganggu," ucapnya di samping telinga Allura.
"Aku terkejut, Mas. Lagi pula, kamu kebiasaan selalu mengejutkanku seperti ini." Allura melepaskan dirinya dari tangan Arzan yang melingkar, sebelum berbalik dan menatap pria yang sudah resmi menjadi suaminya. Allura masih tidak menyangka jika kini dirinya sudah menjadi seorang istri, semua terasa mimpi.
"Kenapa diam?" tanya Arzan sambil membingkai wajah sang istri dengan kedua tangannya.
Allura mengerjapkan matanya beberapa kali saat mendengar pertanyaan Arzan, wanita itupun mengalihkan pandangannya ke arah lain. Wajahnya pun mendadak terasa panas seketika.
"Sayang, aku bertanya padamu," ucap Arzan lagi saat Allura malah berpaling dari tatapannya.
"Hmmm ... itu ... anu .... Aku ... a–"
Belum sempat Allura menyelesaikan kata-katanya, Arzan sudah lebih dulu membungkamnya dengan sebuah ciuman. Namun, kali ini Allura tidak membiarkan apa yang dilakukan Arzan berlangsung lama karena ia melihat bayangan kedua mertuanya hendak masuk ruangan itu.
"Kenapa, Ra?" tanya Arzan saat Allura tiba-tiba mendorongnya.
"Ada Mama dan Papa, Mas." Allura menujuk ke arah jendela dan ternyata di sana ada Nyonya Fika serta Tuan Anderson yang hampir mendekati pintu.
"Oh, baiklah. Sekarang aku mengalah. Tapi ... nanti malam kamu tidak akan bisa lari lagi," ucap Arzan seraya mengedipkan sebelah matanya dan mencubit kecil puncak hidung Allura.
__ADS_1
Mendengar penuturan Arzan, Allura seketika mematung. Tentu saja ia tahu apa arti dari ucapan suaminya tadi. Debaran jantung seketika bertalu-talu di dada Allura. Sedikit banyaknya ia paham apa maksud Arzan tadi.
Ya Tuhan ... kenapa aku tiba-tiba merinding, batin Allura seraya menyentuh tengkuknya yang terasa meremang.
Arzan sendiri hanya tersenyum kecil ketika melihat istrinya yang tengah memegangi tengkuk. Lucu sekali dia, batinnya.
Arzan pun menghampiri Bintang yang sedang terlelap. Semua kabel dan selang yang beberapa terpasang, kini sudah terlepas. Tinggal jejak jarum infus saja yang masih sedikit berbekas di kaki bayi itu.
Rivera, apa sekarang kamu sudah membayar perlakuan burukmu pada Bintang? Lihatlah, dia sekarang mendapatkan kasih sayang yang tulus dari wanita lain. Jangan salahkan orang lain jika nanti anakmu tidak menyayangimu, batin Arzan seraya mengusap kening putranya.
"Assalamualaikum," sapa Tuan Anderson dan Nyonya Fika saat hendak masuk ke ruang rawat cucunya.
"Wa'alaikum salam, Pa, Ma." Allura dan Arzan mengalami kedua paruh baya itu. Setelahnya, ia pun mempersilakan mereka untuk duduk di sofa yang berada tak jauh dari brankar.
"Bagaimana keadaan Bintang sekarang, Ra? Maaf, Mama kemarin tidak jadi datang kemari," tanya Nyonya Fika setelah ia duduk.
"Oh, syukurlah ... Mama dan Papa tenang mendengarnya. Tapi ... tentang Rivera, apa benar dia masuk rumah sakit jiwa?" tanya Tuan Anderson. Pasalnya ia tidak terlalu mengetahui kabar terkini tentang mantan menantunya karena harus sibuk dengan urusan pekerjaannya.
"Benar, Pa. Pihak kepolisian sendiri yang menghubungiku. Wanita itu terus meracau jika dia adalah seorang model terkenal. Tapi dia tidak ingat anaknya sendiri," jawab Arzan seraya menggelengkan kepalanya.
Allura tidak ikut bergabung dalam obrolan antara suami dan mertuanya, ia memilih untuk menghampiri Bintang karena bayi itu sudah terbangun.
"Benarkah? Rivera jadi separah itu? Lalu, bagaimana dengan Bapaknya? Apa dia marah padamu?" tanya Tuan Anderson lagi.
"Tidak, Pa. Beliau menyerahkan semua urusan hukum Rivera padaku. Tapi ...."
"Tapi apa, Zan?" tanya Nyonya Fika saat Arzan tak meneruskan ucapannya.
__ADS_1
"Tapi aku sedikit penasaran, Ma. Bapaknya Rivera selama ini belum pernah bertemu Bintang. Kira-kira, apa alasannya? Padahal, Bintang adalah cucu pertamanya."
Selama enam bulan ini orang tua Rivera tak sekalipun menjenguk Bintang. Dia seakan lupa jika mereka mempunyai ikatan melalui Bintang. Arzan sudah beberapa kali mengundang Bapaknya Rivera untuk datang ke rumah, tapi tidak pernah ditanggapi. Bahkan, untuk alasan penolakannya pun hanya sekedar mengatakan jika dirinya sedang sibuk.
"Entahlah ... Papa juga tidak tahu, Zan." Tuan Anderson dan Nyonya Fika sama-sama menggeleng. Mereka sendiri pun tidak mengetahui penyebabnya.
Dari balik tirai penutup, Allura mendengarkan semua percakapan yang dilakukan oleh mertua serta suaminya. Dia sama sekali tidak merasa marah pada mereka. Justru, Allura merasa sedih karena ternyata Bintang tidak dianggap ada oleh kakek dari pihak ibunya.
Ya Tuhan, Nak. Ternyata tidak hanya Ibumu saja yang mengacuhkanmu. Tapi, Kakekmu juga melakukan hal yang sama, batin Allura seraya kembali melabuhkan sebuah kecupan ringan di puncak kepala anak sambungnya.
Setelah selesai menyusui dan semua barang-barangnya Bintang beres dirapikan, Arzan pun memboyong keluarga kecilnya untuk pulang. Rencananya mereka masih akan tetap tinggal di rumah keluarga besar Rafindra, sampai rumah yang Arzan bangun selesai. Ya, Arzan memilih utuk membuat rumah baru ketimbang menempati rumah yang pernah ia tinggali bersama Rivera. Arzan ingin memulai semuanya dari awal. Dia tidak ingin ada masa lalu lagi yang terus menghantui keluarga barunya.
"Ayo sayang," ajak Arzan ketika ia sudah menenteng tas milik Bintang di tangannya.
"Iya, Mas." Allura mengukuti langkah Arzan dari belakang. Namun, saat akan mencapai pinti lift, Arzan menunggu Allura untuk masuk terlebih dahulu, sebelum akhinrnya ia menggandeng wanita itu.
Tuan Anderson tersenyum bahagia ketika melihat senyuman yang terpancar dari wajah anak serta menantunya. Ia merasa lega karena kini Allura sudah resmi menjadi menantunya, itu berarti ia sudah mengabulkan keinginan Pak Adnan untuk menjodohkan mereka berdua.
Adnan, sekarang kamu bisa tenang di sana. Putrimu sudah di jaga sepenuhnya oleh putraku. Semoga tidak ada hal buruk lagi yang menimpa rumah tangga mereka, batin Tuan Anderson.
Arzan mambawa Allura dengan mobil miliknya, sedangkan Tuan Anderson dan Nyonya Fika pulang dengan menggunakan kendaraan mereka sendiri. Akhirnya mereka pun berpisah di pelataran rumah sakit.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Rekomendasi novel hari ini, Kakak-kakak 🤗🤗🤗
Jangan lupa mampir, ya
__ADS_1