
Hari ini Allura berniat untuk kembali menjenguk Ibu Ani, tapi kali ini ia datang bersama dengan Arzan. Pria itu terus membuntuti Allura kemanapun gadis itu pergi. Dia masih berusaha untuk mengambil hati gadis yang menjadi ibu susu anaknya. Meskipun Allura sudah menolaknya beberapa kali, tapi Arzan tak berniat untuk menyerah.
"Tuan, seharusnya Anda tidak perlu mengantarkan saya seperti ini. Saya masih bisa pergi sendiri dengan menggunakan angkutan umum, bukankah Anda juga harus pergi ke perusahaan," ucap Allura yang kini sudah duduk di samping kemudi.
Arzan sendiri tidak menanggapi ucapan Allura. Setelah dia memasukkan gadis itu ke dalam mobilnya, Arzan pun bergegas untuk mengemudikan mobil agar tidak terjebak macet. Hari memang masih pagi, tapi Arzan sudah menyuruh Allura untuk bersiap-siap agar dia bisa mengantarkan gadis kesayangannya itu ke rumah sakit.
"Sudah kukatakan, mulai sekarang aku yang akan mengantarkanmu kemana-mana. Kamu tidak boleh keluar rumah sendirian, aku melarang untuk itu!" ucap Arzan dengan tegas.
Allura mengerutkan keningnya sambil sedikit melebarkan mata bulatnya, kata-kata Arzan membuat Allura sedikit terkejut sekaligus berdebar. Namun, debaran itu masih bisa Allura kendalikan sehingga ia tak terlihat begitu gugup.
"Ma–maksud Anda apa, Tuan?" tanyanya dengan sedikit terbata-bata.
Arzan tersenyum tipis saat mendengar pertanyaan dari pujaan hatinya. Pujaan hati? Sejak kapan aku mengaguminya? Kenapa aku baru menyadarinya sekarang, gumamnya dalam hati.
"Mas. Panggil aku dengan sebutan itu. Aku sudah tidak mau lagi menjadi majikanmu!" perintah Arzan. Lagi-lagi pria itu berbicara dengan nada yang tegas, sehingga membuat Allura kembali terdiam sambil menatapnya dengan mata yang berkedip-kedip.
Arzan sangat merasa gemas pada wanita di sampingnya, ia pun mulai menggoda Allura dengan meniup mata gadis itu.
"Tuan, apa yang sedang Anda lakukan!" tegur Allura dengan nada tinggi yang tertahan. Dia cukup terkejut dengan perlakuan Arzan yang melebihi batas dari biasanya.
"Apa? Aku tidak melakukan apapun padamu," kilah Arzan sambil membenarkan lagi posisi duduknya.
Allura berdecak kesal saat melihat Arzan yang kembali berkilah dari ucapan dan tindakannya.
"Calon duda aneh," gumam Allura dengan suara yang sangat pelan.
Namun, sepelan-pelannya gumaman Allura di dalam mobil, Arzan tetap bisa mendengarnya. Pria itu langsung kembali menghadap Allura dan membulatkan matanya menatap gadis di depannya.
__ADS_1
"Hei, apa kamu lupa? Duda aneh ini adalah calon suamimu juga. Jadi, jangan sekali-kali lagi kamu mengataiku aneh. Atau ...." Arzan memandang Allura dengan tatapan mata mengancam sebelum kembali berkata, "Aku akan memberikan hukuman padamu," sambungnya.
Allura bergidik ngeri saat mendengar ancaman Arzan, tapi sedetik kemudian, ia kembali bersikap biasa seolah-olah tak merasa takut dengan ancaman pria itu.
"Anda mengancam saya, Tuan?" tanya Allura sambil memandang Arzan, dia ingin mengetahui sampai mana keberanian pria itu terhadapnya.
"Tidak. Aku tidak pernah mengancam wanita lemah sepertimu," jawab Arzan.
Allura tidak terima dengan jawaban dari pria disampingnya, gadis itu mengerucutkan bibir sebagai tanda dia sedang merajuk. Allura tidak lagi menanggapi ucapan Arzan, dia membuang pandangannya kearah jendela. Terlalu lelah untuknya jika harus terus berdebat dengan Arzan dan Allura memilih untuk mengalah.
Setelah beberapa saat keduanya saling terdiam, Arzan pun mulai menjalankan mobilnya menuju rumah sakit tempat Ibu Ani berada. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Allura benar-benar mendiamkannya. Gadis itu sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun, bukan hanya rasa kesal yang hinggap dalam hatinya, tapi karena ia pun tidak mengetahui apa yang harus mereka bicarakan.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Allura dan Arzan pun sampai di pelataran rumah sakit. Arzan segera memarkirkan mobilnya dan turun terlebih dulu untuk membukakan pintu mobil bagi Allura.
"Terima kasih, Tuan. Tapi–" Belum sempat Allura menyelesaikan perkataannya, Arzan sudah terlebih dulu meninggalkan dia.
Setelah memastikan Allura turun dari mobilnya dengan selamat, Arzan pun menekan tombol lock sehingga membuat mobil itu terkunci otomatis.
"Tuan, Anda kenapa?" tanya Allura saat mereka sedang berjalan di antara lorong rumah sakit.
Arzan sama sekali tidak menanggapi pertanyaan Allura, pria itu terus menatap jauh ke depan, dengan tangan yang dimasukkan ke dalam sakunya, seakan-akan yang ada disana hanya dia sendiri. Hal itu membuat Allura mendengus kesal, ia tidak mengetahui di mana kesalahannya, tapi Arzan dengan senang hati mendiamkan dia.
"Tuan, apa saya sudah berbuat salah?" tanya Allura lagi sambil mencoba untuk mensejajarkan langkahnya.
Arzan masih tetap dengan sikapnya yang diam, hingga membuat Allura sedikit kesal pada pria itu. Allura memperlambat langkahnya dan membiarkan Arzan untuk jalan terlebih dulu. Dia masih perlu menenangkan hatinya yang kembali kesal.
Huft, andai saja dia bukan majikanku, sudah kupastikan untuk tidak menghiraukan semua sikapnya, gumam Allura sambil melangkah pelan mengikuti Arzan yang sudah beberapa meter lebih jauh darinya.
__ADS_1
Namun, saat Allura berjalan dengan tertunduk, tiba-tiba ada seorang pria paruh baya yang tak sengaja menabraknya, sehingga membuat Allura terduduk karenanya.
"Aduh," rintih Allura sambil memegangi bo*ongnya yang terasa sakit.
"Maafkan saya, Nona. Anda tidak apa-apa?" tanya pria itu.
Allura mematung sesaat sambil memperhatikan pria yang kira-kira seusiaan dengan Tuan Anderson. Entah kenapa, Allura merasa seperti pria paruh baya itu hampir mirip dengan seseorang. Pria paruh baya itu pun sama halnya dengan Allura. Untuk sesaat, mereka merasa waktu seperti berhenti begitu saja. Keduanya masih sama-sama terdiam, hingga Allura tersadar dengan panggilan Arzan yang tengah memanggilnya.
"Ma–maaf, Tuan. Saya ... saya baik-baik saja, permisi," ucap Allura sambil membungkukkan badannya sesaat dan meninggalkan pria paruh baya yang masih menatap dengan lekat.
Allura sesekali menengok ke belakang untuk melihat pria paruh baya itu, sungguh mengejutkan karena ternyata dia pun masih terus memantau Allura.
Kenapa aku merasa wajahnya tidak asing dengan seseorang? Tapi ... siapa? Kenapa aku tidak mengingatnya? tanya Allura dalam hatinya. Dia pun kembali berjalan menghampiri Arzan yang masih mematung di lorong rumah sakit itu.
"Kenapa kamu jalannya lama sekali?" sergah Arzan pada gadis di depannya.
"Maaf, Tuan. Tadi–"
"Cepat jalan!"
Lagi-lagi Arzan bersikap dengan semena-mena padanya. Bahkan, sepagi ini sudah dua kali Allura tidak menyelesaikan perkataannya pada Arzan dan hal itu membuat Allura semakin geram karenanya.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia bersikap menyebalkan seperti itu? Tidak biasanya," gerutu Allura sambil menghentakkan kaki dan menendang angin untuk menyalurkan emosinya.
Diam-diam Arzan tersenyum tipis saat mendengar gerutuan Allura, ini memang niatnya untuk mendiamkan gadis itu agar dia mendengar Allura memanggilnya dengan sebutan 'Mas', seperti yang dia inginkan.
Coba saja lihat, sampai berapa lama kamu akan bertahan saat aku mendiamkanmu seperti ini, batinnya sambil menyeringai tipis.
__ADS_1