Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 49


__ADS_3

"Camkan ini olehmu, jangan pernah bersikap manis padaku, jangan berpura-pura peduli padaku dan jangan berharap untuk menjadi istriku, ingat itu baik-baik!" Arzan bangkit dari duduknya dan memilih pergi dari sana, selera makan pria itu sudah hilang begitu saja.


"Arzan, kamu mau kemana?" tanya Tuan Anderson saat melihat sang anak mulai menjauh dari meja makan.


"Mulai sekarang, aku tidak akan pernah makan bersama jika masih adakah wanita itu!" jawab Arzan sambil menunjuk Nira dengan dagunya.


Tuan Anderson mendengus kesal saat mendengar jawaban anaknya, dia masih tidak mengerti kenapa Arzan bisa sebegitu bencinya ada Nira. Padahal, menurut Tuan Anderson, Nira adalah wanita yang paling baik untuk dijadikan istri oleh Arzan.


"Berhenti untuk bersikap kekanak-kanakan seperti ini, Zan! Apa salahnya jika kamu mulai membuka hati untuk Nira? Lagi pula Nira itu adalah wanita yang sangat cocok untukmu," ucap Tuan Anderson pada Arzan.


"Lalu, bagaimana dengan Papa, bisakah Papa juga bersikap baik pada Allura? Jika Papa tidak bisa, maka jangan paksa aku untuk melakukan hal yang sama pada wanita itu," sergah Arzan.


Tuan Anderson langsung bungkam seketika, setelah mendengar perkataan anaknya. Arzan yang dulu dan sekarang sangatlah berbeda. Dulu, anak itu selalu menuruti apapun perkataannya, tapi sekarang justru dia menolak semua perintahnya.


"Ma–"


"Jangan bawa-bawa aku. Dia putramu, seharusnya kamu bisa memahami perasaannya. Bukan malah memaksanya melakukan hal yang tidak dia inginkan," tanggap Nyonya Fika dingin. Bahkan, wanita paruh baya itu sama sekali tidak menatapnya.


Nira hanya menunduk dan menunjukkan ekspresi sedihnya, dia hanya bisa berharap Tuan Anderson semakin mempertahankannya di rumah itu. Jika tidak, maka akan sedikit sulit untuknya meraih perhatian Arzan.

__ADS_1


Setelah mendengar ucapan istrinya, Tuan Anderson pun duduk dan mulai untuk memakan makanannya. Meskipun selera makannya sudah tidak ada, tapi dia tidak bisa mengabaikan penyakit lambungnya yang mudah kambuh. Begitupun dengan Nira, gadis itu tanpa tahu malunya langsung menyantap makanan yang tadi sudah dia siapkan untuk Arzan.


Arzan memilih pergi ke kamarnya yang berada di lantai atas dan memesan makanan dua porsi untuknya dan Allura nanti. Setelah itu, Arzan pun mencoba untuk menghubungi Allura yang sedang berada di kamarnya.


"Mungkinkah gadis itu tertidur?" gumam Arzan saat Allura tak kunjung juga menerima panggilannya. Pria itu sudah mencoba untuk menghubungi Allura beberapa kali. Namun, Ibu susu bintang itu tidak menjawab panggilannya.


Arzan pun mencoba untuk menghubungi Bi Erni selaku Bibinya Allura. Dia perlu menanyakan kondisi Ibu Ani serta memberitahukan jika kemungkinan Allura tidak bisa kembali ke sana. Cukup lama Arzan menunggu hingga Bi Erni menerima panggilannya.


"Assalamualaikum, Bi," sapa Arzan begitu panggilan itu terhubung.


"Wa'alaikum salam, Tuan. Apakah Allura akan segera kembali ke sini?" tanya Bi Erni begitu ia sudah menjawab salam dari majikan keponakannya.


Arzan sedikit menahan napas saat mendengar pertanyaan Bi Erni, dia sedikit ragu untuk menjawab jika Allura saat ini sedang tertidur di kamarnya.


"Alhamdulillah dokter mengatakan jika kondisinya sudah semakin membaik, hanya saja beliau masih belum sadarkan diri," jawab Bi Erni, Arzan juga bisa mendengar helaan napas lega Bi Erni saat mengatakan hal itu.


"Syukurlah, Bi. Semoga saja Bu Ani segera siuman," ucap Arzan yang langsung diamini oleh Bi Erni.


Keduanya sempat berbincang beberapa saat, sebelum akhirnya Arzan pamit karena makanan pesanannya sudah sampai. Arzan turun ke lantai bawah untuk mengambil makanan pesanannya, ia melewati ruang keluarga begitu saja saat melihat kedua orang tuanya sedang berada di sana.

__ADS_1


Nyonya Fika hanya terdiam, berbeda halnya dengan Tuan Anderson yang menggelengkan kepalanya pelan saat melihat Arzan yang melewatinya begitu saja.


Arzan tidak segera masuk ke dalam rumah, melainkan berjalan ke arah belakang rumah tempat di mana terakhir kali ia dan Allura makan. Sesampai di sana, Arzan sempat menyimpan makanannya di atas meja, sebelum meminta Bi Endah untuk membangunkan Allura di kamarnya serta menjaga Bintang dulu.


Arzan kembali mulai menghubungi Allura, dia berharap gadis itu segera datang agar makanan mereka tidak keburu dingin. Namun, hingga beberapa saat berlalu, panggilan itu masih tidak dijawab oleh Allura. Begitupun dengan Bi Endah yang masih belum kembali ke paviliun.


"Allura ini tidur atau pingsan? Kenapa dia tidak menjawab panggilanku?" gerutunya. "Sebaiknya aku lihat saja sendiri ke sana, siapa tahu dia malah pingsan," sambungnya lagi sambil berdiri dan berjalan menuju pintu yang berada di belakang rumah.


***


Allura masih terbuai dengan mimpinya, tidurnya begitu nyenyak sampai-sampai dia melupakan niatnya untuk kembali lagi ke rumah sakit menjenguk sang mama. Ponselnya pun sengaja dia silent agar tidak mengganggu Bintang yang sedang tertidur di sampingnya.


Hingga sebuah tepukan pelan di bahu terasa dan membangunkan Allura tidurnya. Gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Dia tertegun karena merasa heran banyak orang di kamarnya, hampir semua pelayan dan tuan rumah juga ada di sana. Mereka juga menghela nafas lega setelah melihat Allura yang mulai membuka matanya.


"Ada apa? Kenapa kalian berkumpul di sini?" tanya Allura sambil mengedarkan pandangannya dengan tatapan heran.


"Kamu itu pingsan atau tidur? Aku menghubungimu beberapa kali, tapi tidak kamu jawab, Bi Endah juga sudah menggedor pintu kamarmu, tapi tidak kamu dengar. Sampai-sampai semua orang khawatir kalau terjadi sesuatu padamu. Bahkan aku sampai meminta Mama untuk mencarikan kunci cadangan kamar ini," ucap Arzan panjang lebar saat melihat ibu susu sang anak baru bangun dari tidurnya.


Allura tersenyum kaku saat mendengar penuturan Arzan, dia tidak menyadari jika dirinya sudah membuat beberapa orang penghuni rumah itu khawatir.

__ADS_1


"Maaf Tuan, Nyonya. Saya ... saya tidak bermaksud untuk membuat kalian khawatir. Hanya saja, saya terlalu lelah. Jadi ... saya mengabaikan panggilan dari kalian," jawab Allura sambil menundukkan kepalanya. Dia merasa tidak enak hati, karena secara tidak langsung sudah membuat keributan di rumah majikannya itu.


Setelah melihat Allura yang terbangun dari tidurnya dan tidak terjadi apa-apa, orang-orang pun membubarkan dirinya, serta meninggalkan Allura bersama Nyonya Fika dan Arzan yang masih ada di sana.


__ADS_2