Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 94


__ADS_3

Selepas kepergian Allura ke kamarnya, Arzan segera kembali ke kamar dia untuk mengambil ponsel yang semalam dia tinggalkan dalam jasnya begitu saja. Arzan melihat beberapa panggilan yang tidak terjawab, dia juga menemukan panggilan dari Allura, senyum tipis tersungging dati bibirnya.


Ternyata Allura tadi malam menunggu kabar dariku, batin pria itu. Arzan pun kembali melanjutkan pencariannya untuk menghubungi seseorang yang ia percayakan merawat Tuan Okta, kakek kandung Allura.


Setelah menemukan kontak Dokter Nandi, Arzan segera menghubunginya. Tak perlu waktu yang lama, panggilan Arzan pun langsung di terima di seberang sana.


"Assalamualaikum, halo," sapa Arzan setelah panggilan itu terhubung.


Dokter Nandi tak langsung menyahuti sapaan Arzan, hingga membuat Arzan kembali bersuara, barulah sahabatnya itu menjawab panggilannya.


"Wa'alaikum salam. Zan, benarkah ini kamu?" tanya Dokter Nandi dengan suara pelan.


Kedua alis Arzan saling mengerut saat mendengar pertanyaan aneh yang dilontarkan oleh Dokter Nandi. Dia tidak mengerti kenapa Dokter Nandi bisa bertanya seperti itu.


"Apa maksudmu bertanya seperti itu? Tentu saja ini aku, Arzan. Memangnya siapa lagi!" seru Arzan dengan nada yang sedikit meninggi.


"Hei, bukan itu maksudku. Tapi, tidak biasanya kamu menyapaku dengan mengucapkan salam. Jadi, aku sedikit heran saja."


Arzan bisa mendengar kekehan Dokter Nandi dari seberang sana. Namun, pria itu hanya menghela napas sesaat dan membiarkan sahabatnya itu menertawakan dia. Sebenarnya, Arzan sendiri merasa sedikit ada perubahan dalam dirinya, dia yang dulu tak pernah sekali pun mengucapkan salam, kini selalu mengucapkannya.


Secara tidak langsung, semua ini berkat Allura, batin Arzan sambil sedikit menipiskan bibirnya.


"Aku tidak peduli tanggapanmu apa, tapi ... ya ... aku hanya sedang belajar untuk merubah kebiasaan burukku," jawab Arzan tanpa beban.


"Baiklah, itu hal yang sangat bagus. Aku akan selalu mendukungmu, apalagi jika itu dalam hal kebaikan," tanggap Dokter Nandi.


"Terima kasih atas dukunganmu." Arzan kembali menghela napasnya sebelum kembali bertanya, "Bagaimana kondisi Tuan Okta? Apa beliau sudah lebih baik?"


"Alhamdulillah, Zan. Sekarang beliau sudah bisa diajak berkomunikasi, tidak seperti sebelumnya. Hanya saja ...." Dokter Nandi menggantungkan kalimatnya dan membuat Arzan sedikit penasaran.

__ADS_1


"Hanya saja apa, Nan?"


Arzan bisa mendengar tarikan napas Dokter Nandi yang kasar, sebelum akhirnya dia pun menjawab pertanyaan sahabatnya.


"Tuan Okta sedang mencari keberadaan cucunya. Padahal, aku sendiri tidak mengetahui siapa cucunya selain pria yang selalu datang mengunjunginya," jawab Dokter Nandi.


"Benarkah itu?" tanya Arzan dengan semangat.


"Iya. Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" tanya Dokter Nandi lagi. Pasalnya, Arzan tak pernah sekalipun meminta dia untuk menjaga seseorang dan ini adalah kali pertamanya Arzan melakukan hal itu.


"Sebenarnya ... Tuan Okta adalah Kakek dari Rara," jawab Arzan.


"Rara, siapa dia? Sepertinya aku baru mendengar nama itu?" tanya Dokter Nandi lagi, dia memang tahu jika Arzan saat ini tengah dekat dengan seorang wanita, tapi Dokter Nandi tak mengetahui siapa wanita itu.


"Allura, pengasuh Bintang. Ternyata dia adalah wanita yang dijodohkan denganku sebelumya."


"What? Are you seriously going to accept the matchmaking again?" tanya Dokter Nandi yang tidak habis pikir dengan keputusan Arzan yang kembali dekat dengan wanita melalui perjodohan.


Dokter Nandi hanya bisa menghela napas panjang setelah mendengar jawaban Arzan, dia hanya berharap kali ini sahabatnya tidak kembali kecewa. Apalagi saat ini ada Bintang yang benar-benar membutuhkan kasih sayang seorang ibu.


"Hopefully this time you won't be disappointed again, Zan."


"Terima kasih atas doanya. Aku akan berusaha untuk membuat dia jatuh cinta padaku dan Bintang."


"Oke. Baiklah. Aku hanya ingin menyampaikan kabar itu. Kalau kamu bisa, pertemukanlah mereka secepatnya," saran Dokter Nandi.


"Tentu saja. Jika aku tidak bergerak cepat, kemungkinan orang lain akan memanfaatkan situasi ini," tanggap Arzan. Dia bisa menebak jika saat ini Tuan Darion mungkin akan mencari cara untuk kembali menghasut Tuan Okta.


"Ya sudah, aku hanya ingin mengabarimu hal itu saja," ucap Dokter Nandi sesaat sebelum panggilan itu berakhir.

__ADS_1


"Hmmm. Sekali lagi, terima kasih banyak." Arzan memutuskan sambungan telepon itu setelah mendengar jawaban dari seberang sana.


Pria itupun kembali ke ruang keluarga dan menunggu Allura. Namun, saat dia sudah melihat Allura keluar kamar, gadis itu malah ke dapur terlebih dulu dan menyapa mamanya. Sesaat Arzan menegang ketika Allura meminta maaf karena batal membantu sang mama untuk memasak. Setelah mamanya mengira Allura batal memasak karena Bintang, calon istri Arzan pun menghampiri dan ikut duduk di sana. Arzan tersenyum kala Allura menunduk, ia berpikir jika Allura masih malu atas perlakuan Arzan tadi pagi.


Setelah Arzan selesai menanyakan kabar Bintang, pria itupun langsung memberitahukan tentang Tuan Okta yang ingin bertemu dengannya.


"Sayang, Kakek Okta mencarimu. Dia ingin bertemu denganmu," ucap Arzan yang langsung membuat Allura mengalihkan perhatiannya dari Bintang dan menatap pria disampingnya.


"Apa! Maksudku, benarkah itu? Kakek ingin bertemu denganku?" tanya Allura antusias.


Arzan tersenyum dan mengangguk. "Iya, Ra. Dokter Nandi memberikan kabar itu padaku kemarin malam, hanya saja aku terlalu sibuk dan baru sempat mengatakannya sekarang," jawabnya.


Mata Allura berkaca-kaca, dia merasa senang sekaligus terharu setelah mendapat kabar dari Arzan. Dia masih tidak menyangka jika ternyata Tuan Okta akan mencarinya.


"Tidak apa-apa, Mas. Terima kasih, aku sangat bahagia mendengar kabar itu," ucap Allura sambil mengusap air mata bahagianya.


Terima kasih, Tuhan. Ternyata Kakekku bukan orang yang jahat seperti Tuan Darion, batin Allura. Didetik selanjutnya, Allura ingat pesan Ibu Ani untuk mengajak Arzan mendampinginya melakukan tes DNA bersama Tuan Darion.


"Mas, apa ... apa kamu sedang ada waktu senggang?" tanya Allura dengan hati-hati. Allura tidak mau jika sampai Arzan lalai dalam pekerjaannya hanya karena dia.


"Kenapa, sayang? Apa kamu ingin bertemu dengan Kakekmu hari ini?" tanya Arzan dengan tebakannya.


"Sebenarnya ... Mamaku menyarankan untuk melakukan tes DNA antara aku dan Tuan Darion," jawab Allura.


Arzan mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali, dia merasa setuju dengan saran dari Ibu Ani dan patut dicoba.


"Aku rasa cara itu tidak salah untuk dicoba. Mungkin saja setelah Tuan Darion tahu jika kamu bukan putrinya, ia akan berhenti untuk melukaimu," tanggap Arzan. "Tapi tunggu dulu, apa Tuan Darion sudah mengetahui rencana ini?" tanya Arzan lagi.


"Sepertinya Mama sudah menyampaikan niat ini padanya. Mama juga sudah menentukan hari kapan kita akan melakukan tes DNA itu," jawab Allura dengan pasti.

__ADS_1


"Baiklah, jika seperti itu. Mari kita lakukan."


Arzan dan Allura pun larut dalam obrolan mereka untuk beberapa saat, sebelum akhirnya Nyonya Fika memanggil mereka untuk sarapan bersama.


__ADS_2