Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 97


__ADS_3

Arzan merasa sedikit heran dengan Allura, semenjak mereka keluar dari ruang rawat Tuan Okta, gadis itu terlihat sesekali meringis seperti menahan kesakitan dan ngilu. Namun, dia tidak mengetahui apa penyebabnya.


"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanya Arzan setelah mobil yang mereka tumpangi sampai di depan rumah makan.


Allura menggeleng pelan, tapi raut wajahnya masih sama seperti tadi.


"Lalu, kalau kamu baik-baik saja, kenapa wajahmu seperti itu? Apa ada bagian yang sakit? Kenapa kamu tidak mengatakannya dari awal jika kamu sedang sakit? Kita bisa sekalian memeriksakan dirimu di rumah sakit tadi," tanya Arzan bertubi-tubi.


Lagi-lagi Allura hanya menanggapinya dengan gelengan kepala. Rasa sakit yang dia rasakan sudah hampir membuatnya tidak tahan. Tadinya Allura kira Arzan akan langsung membawanya pulang, tapi ternyata pria itu malah membawa dia ke rumah makan terlebih dulu.


"Mas, bisakah kamu keluar dulu?" tanya Allura saat mobil mereka sudah berada di area parkiran.


"Kenapa? Kita akan masuk bersama-sama, sayang," tolak Arzan yang malah merebahkan dirinya di senderan kursi mobil.


Allura semakin mencengkramkan tangannya pada seat belt yang masih digunakan. "Ayolah, Mas. Aku butuh waktu dulu, sebentar saja," mohon gadis itu dengan sangat.


"Memangnya kamu mau ngapain, Ra? Kalau kamu belum mau keluar dari mobil ini, aku juga akan menunggumu di sini," tolak Arzan lagi.


"Ayolah, Mas. Aku mohon." Allura menangkupkan kedua tangannya di depan dada, rasanya dia ingin menangis saat ini juga.


"Jawab dulu, Ra. Kamu mau ngapain?"


"Aku ... aku mau po–pompa ASI–ku," jawab Allura sambil memalingkan wajah merahnya ke samping mobil.


Arzan langsung menegakkan kembali tubuhnya setelah mendengar jawaban Allura, dia merasa sedikit bersalah karena sudah membuat wanita yang dicintainya kesakitan.


"Apa kamu sedang kesakitan sekarang?" tanya Arzan.


Allura menganggukkan kepalanya tanpa menatap pria itu.


"Baiklah, aku akan keluar sekarang. Panggil aku jika kamu membutuhkan bantuanku, atau ... aku juga bisa membantumu sekarang," ucap Arzan yang malah menggoda Allura.


Gadis itu langsung melemparkan tatapan tajam pada Arzan setelah mendengar ucapannya.


"Mas!"


"Apa sayang?"


"Keluar sekarang juga!" titah Allura dengan kesal.

__ADS_1


"Kamu yakin tidak akan membutuhkan bantuanku?" tanya Arzan lagi. "Padahal, aku bisa membantumu, lho," ucapnya lagi sambil menaik turunkan alis.


"Dalam mimpimu!" Allura segera mendorong Papa Bintang itu untuk segera keluar dari mobilnya. Jika terus berlanjut, maka akan semakin sakit pay*daranya.


"Hei–"


"Mas, apa kamu akan tetap terus di sini? Aku sudah tidak kuat lagi," ucap Allura yang menghentikan Arzan yang hendak protes.


"Baiklah, baiklah, aku akan segera keluar. Maaf karena sudah menggodamu," ucap Arzan sebelum ia keluar dari mobilnya.


Setelah kepergian Arzan, Allura pun segera mengeluarkan alat-alat tempurnya, apalagi kalau bukan pumping ASI yang selalu dia bawa saat bepergian tanpa Bintang. Allura juga tidak lupa untuk menutup tirai mobil Arzan, hanya untuk berjaga-jaga saja jika ada yang mengintip kegiatannya.


Setengah jam berlalu, akhirnya Allura selesai dengan kegiatannya. Gadis itupun segera membereskan kembali barang-barangnya sebelum turun dari mobil dan menghampiri Arzan yang sedang duduk tak jauh dari mobilnya terparkir.


"Sudah selesai?" tanya Arzan saat ia melihat Allura yang sedang berjalan hampir mendekatinya.


"Sudah. Maaf karena sudah membuat Mas menunggu lama," jawab Allura.


"Tidak masalah. Yu, masuk!" Arzan menggandeng tangan Allura dan mengajaknya untuk masuk ke rumah makan itu.


Setelah mereka mendapatkan meja kosong, Arzan pun menarikkan kursi untuk Allura duduk.


"Sama-sama, sayang. Kamu mau pesan apa? Tapi, ingat untuk jangan makan yang pedas dulu."


"Tentu saja, Mas. Aku juga tidak menyukai makanan pedas."


"Ya sudah, sekarang mau makan apa?"


"Apa saja, Mas. Samakan saja dengan punyamu," pinta Allura akhirnya. Gadis itu terlalu enggan untuk membuka buku menu makanan yang ada di atas meja.


"Yakin tidak mau pilih sendiri?"


"Tidak," tolak Allura.


Arzan mengalah dan mulai memesankan makanan yang akan mereka santap. Sambil menunggu makanan mereka datang, Arzan dan Allura kembali berbincang ringan. Sepasang sejoli itu terlihat Akrab, bahkan mereka juga tertawa renyah tanpa memedulikan seseorang yang sedang menatapnya dengan kesal.


Setelah selesai makan siang, Arzan dan Allura pun bergegas untuk pulang ke rumah. Sebenarnya Allura yang meminta dia untuk cepat-cepat pulang karena sudah sangat merindukan Bintang. Padahal, tadinya Arzan ingin mengajak Allura untuk menghabiskan waktu berdua. Namun, gadis itu memilih pulang ke rumahnya.


"Kamu yakin tidak mau jalan-jalan dulu, Ra?" tanya Arzan untuk yang kesekian kalinya.

__ADS_1


"Tidak, Mas. Aku sudah sangat merindukan Bintang. Lagi pula kita bisa jalan-jalan lain kali bersama Bintang, sepertinya akan seru," ucap Allura sambil menerawang jauh membayangkan dirinya, Arzan dan Bintang berjalan-jalan bersama.


"Ide bagus. Aku akan cari jadwal senggang, kita liburan bersama-sama selama beberapa hari," tanggap Arzan dengan semangat.


"Tidak, aku tidak mau liburan. Kalau hanya untuk berjalan-jalan, tidak masalah. Tapi kalau liburan yang berhari-hari, aku menolak," jawab Allura dengan cepat sehingga membuat Arzan yang sedang menyetir langsung mengalihkan perhatiannya.


"Lho, kenapa kamu menolak liburan bersamaku dan Bintang?"


"Mas, kita belum muhrim. Kamu tahu 'kan, jika dua orang dewasa bersama-sama, yang ketiganya ada setan. Meskipun Bintang ada diantara kita, tapi dia masih kecil. Aku tidak mau," tolak Allura sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


Arzan tersenyum kecil. Dia tahu saat ini Allura secara tidak sadar sudah memberikannya 'kode'.


"Baiklah, aku mengerti. Aku tidak akan mengajakmu untuk liburan bersama sebelum kita halal. Maka dari itu aku akan segera menghalalkanmu," jawab Arzan sebelum dirinya kembali fokus pada jalan raya.


Allura membulatkan matanya setelah mendengar jawaban Papa Bintang itu. "Ma–maksudnya bukan seperti itu, Mas–"


"Apa kamu menolak menikah denganku?" Arzan bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan.


"Aku ... aku tidak menolak–"


"Kalau begitu, aku akan segera mempersiapkan pernikahan kita. Jangan membantah lagi!" ucap Arzan saat melihat Allura yang hendak melayangkan protes.


"A–apa? Kenapa seperti ini, Mas?" tanya Allura masih merasa heran.


"Lho, ya iya. Kita sudah sepakat dan kamu juga sudah menerima lamaranku. Jadi, untuk apa menunggu lama lagi?"


"Lamaran? Kapan kamu melamarku?"


"Tadi."


Allura mengempaskan punggung di sandaran jok mobil, dia masih mencoba mengingat ucapan Arzan yang mengatakan sudah melamarnya.


Kapan dia melamarku? Tidak ada hujan, tidak ada angin, langsung mengajakku menikah. Di dalam mobil pula. Sama sekali tidak ada romantis-romantisnya, cibir Allura dalam hatinya sambil mendelik Arzan.


Berbeda halnya dengan pria itu. Arzan malah terus bersiul seakan dirinya tengah mendapatkan kebahagiaan.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...Double up lagi kakak-kakak 🤗🤗🤗...

__ADS_1


__ADS_2