Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 86


__ADS_3

Allura membereskan kembali mukena bekasnya shalat, di sampingnya ada Bintang yang ia baringkan. Bayi yang belum genap berusia dua bulan itu sangat pintar, dia tak sekalipun mengeluarkan suara tangisannya saat ibu susunya tengah shalat.


Allura tersenyum manis saat melihat Bintang yang masih menatapnya sambil berusaha untuk memasukkan jarinya kedalam mulut, sehingga membuat Allura merasa gemas.


"Aduh ... mana anak pintarnya Mama? Mau coba **** jari, ya?" goda Allura sambil memegangi tangan mungil Bintang. Bayi itu seakan mengerti dengan ucapan Allura dan hendak memasukkan tangan Allura ke dalam mulutnya.


"Jangan, Bi. Ini tangan Mama, bukan mimi. Kamu mau mimi, ya? Sini yu, Mama gendong kamu," ucap Allura seraya meraup tubuh mungil Bintang dan membuka tiga kancing piyama atasnya.


Lagi-lagi Allura dibuat gemas dengan reaksi Bintang saat melihat pi*ing pay*dara Allura yang ada dihadapannya. Bayi itu langsung melahap dan mulai menyedot semua nutrisi yang dia butuhkan.


Allura terus memerhatikan setiap lekuk wajah bayi mungil yang ada dalam pangkuannya. Rasa sayang pada Bintang semakin hari semakin besar, sampai-sampai Allura terkadang lupa jika dirinya hanya ibu susu. Ditambah saat ini Arzan yang sudah terang-terangan menunjukkan perasaannya.


Mama, bolehkah aku egois dan berpikir untuk mendapatkan semua ini? Aku bahagia saat bersama mereka, aku tidak ingin kehilangan Bintang, aku ... aku juga sudah mulai memiliki perasaan pada Mas Arzan. Tapi ... bukankah ini waktu yang singkat? Lalu, bagaimana dengan Nyonya Rivera? batinnya. Ya, secara tidak langsung, Allura masih tetap memikirkan Rivera. Meskipun wanita itu sudah memperlakukannya dengan buruk tadi siang, tapi itu tidak membuat dia membencinya.


"Bi, kamu harus jadi anak yang berbakti pada orang tuamu, ya. Meskipun Mama kandungmu pernah berbuat jahat, tapi kamu jangan sampai mengabaikannya ... walau bagaimanapun kamu tetap anaknya, surgamu ada padanya," ucap Allura sambil mengusap kepala Bintang yang mulai terlelap tanpa melepaskan mulutnya dari pu*ing pay*dara Allura.


"Bi, Mama Rara akan tetap menyayangi kamu sampai kapanpun. Kamu adalah anak sulung Mama," sambungnya lagi. Kali ini Allura mengecup puncak kepala Bintang untuk beberapa saat. Allura berharap Bintang tidak akan marah nantinya saat mengetahui jika dia tidak dipedulikan oleh ibu kandungnya.


Setelah memastikan Bintang tertidur pulas, barulah Allura membaringkan tubuh mungil itu di atas kasur. Allura tak henti-hentinya mengamati wajah Bintang yang terlihat mirip sekali dengan Arzan. Terkadang Allura merasa heran, jika memang tidak ada cinta diantara Arzan dan Rivera, bagaimana mungkin bisa Bintang bisa hadir. Namun, pertanyaanya itu tidak akan pernah tersampaikan karena dia bukan orang yang berhak mengetahui masa lalu seseorang.

__ADS_1


Saat Allura masih sibuk memerhatikan Bintang, tiba-tiba ia mendengar seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Allura pun bangkit dan bergegas untuk membuka pintu kamarnya.


Setelah pintu kamar itu terbuka, Allura melihat Arzan yang sudah berdiri di dapan pintu dengan tangan yang ia masukkan ke dalam saku celananya.


"Apa Bintang sudah tidur?" tanya Aran sambil menoleh ke dalam kamar Allura.


"Sudah, Mas." Allura sedikit menyingkirkan tubuhnya agar Arzan bisa melihat anaknya yang sedang tidur dalam posisi menyamping.


"Ya Tuhan ... betapa menggemaskannya dia," ucap Arzan ketika ia melihat Bintang yang tertidur lelap. "Betapa beruntungnya kamu, Bi. Punya Mama sebaik Mama Rara," sambung Arzan tanpa menatap Allura.


Allura sendiri hanya bisa tertunduk malu ketika mendengar ucapan Arzan. Degup jantungnya kembali berpacu sehingga meninggalkan rona merah pada kedua pipinya.


"Oh, iya, aku hampir lupa. Aku hanya ingin memberitahukan, besok aku harus pergi ke pulau B. Aku ada pekerjaan di sana dan mungkin akan kembali lagi tiga hari kedepan," jawab Arzan. Dia hampir saja melupakan niat awalnya untuk bertemu Allura dan Bintang.


"Kenapa mendadak, Mas?" tanya Allura lagi. Pasalnya, seharian ini Arzan tak sedikit pun menyinggung tentang rencana kepergiannya itu.


"Maaf, sayang ... tadi aku lupa memberitahumu," jawab Arzan sambil mengulurkan tangannya untuk menggapai tangan Allura.


Allura pun hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali dan tak lagi menanyakan apapun pada Arzan. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Hingga suara Bintang menangis, barulah mereka sadar. Arzan segera mengambil Bintang dan menggendongnya. Sekarang pria itu sudah lebih mahir dan tidak sekaku saat baru-baru Bintang tinggal di sana.

__ADS_1


Arzan terus menimang Bintang yang masih menangis, tapi tangisan bayi itu tak kunjung reda. Meskipun Arzan sudah memberikan ASIP pada Bintang, bayi itu tetap tidak mau dan menolaknya.


"Mas, sepertinya Bintang mau mimi dulu. Bisa tolong keluar dulu?" tanya Allura.


"Tapi, Ra. Kamu belum makan, lho. Apa kamu tidak lapar?"


"Aku bisa makan nanti, Mas. Sekarang aku harus menenangkan Bintang lebih dulu," jawab Allura sambil mengambil alih Bintang dari gendongan papanya.


"Ya sudah, aku akan minta Bi Endah untuk membawakan makan malammu kemari, ya," saran Arzan yang langsung dijawab anggukan oleh Allura.


Setelah mendapat jawaban dari Allura, Arzan pun segera keluar meninggalkan kamar yang ditempati oleh Allura dan Bintang. Allura sendiri segera menutup pintunya dengan rapat setelah Arzan ke luar dari sana.


Allura segera memberikan ASI–nya pada Bintang agar bayi itu berhenti menangis dan kembali tertidur lelap. Allura merasa sedikit bersyukur karena sekarang Bintang sudah tidak pernah lagi terjaga saat malam hari. Jadi, dia bisa memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat.


...❤️❤️❤️❤️...


Selamat siang kakak-kakak 👋👋👋 aku ada bawa rekomendasi novel lain untuk siang ini. Kali ini karya dari Kak Gupita 🤩🤩 Jangan lupa mampir ya 🤗🤗🤗


...Nah, ini dia 👇👇👇...

__ADS_1



__ADS_2