
Allura dan Arzan pulang ke rumah sat hari sudah siang. Mereka disambut oleh Nyonya Fika yang sedang bersama Bintang di depan pintu. Wanita paruh baya itu sedikit mengernyit karena melihat sang anak yang sudah pulang. Apalagi Arzan pulang bersama Allura.
"Zan, apa kamu tidak bekerja lagi?" tanya Nyonya Fika saat sang anak sudah berdiri dihadapannya bersama Allura.
Arzan menggaruk pelipisnya yang tak gatal, ia sedang berusaha untuk mencari alasan yang masuk akal agar mamanya tak marah.
"Mmmh ... itu ... anu, Ma ...." Nyatanya Arzan malah tergagap, ia tak mampu memikirkan alasan yang bisa dikatakan pada mamanya.
Nyonya Fika tak mampu mengatakan apapun, wanita paruh baya itu hanya mampu menggeleng pelan saat melihat anaknya yang sedang berpikir untuk menjawab pertanyaannya.
"Sudahlah. Mama sudah tahu alasanmu. Sekarang kalian masuk dulu, kita makan siang bersama-sama," perintah Nyonya Fika yang langsung diangguki oleh Allura dan Arzan.
Allura tersenyum kecil saat melihat mimik wajah Arzan yang menunjukkan raut ketakutan. Ya, pria itu takut mamanya marah karena membolos bekerja tanpa pemberitahuan.
Setelah masuk ke rumah, Allura bergegas berjalan menuju kamar. Ia perlu membersihkan tubuhnya yang terasa lengket sebelum kembali menggendong Bintang.
Waktu makan siang sudah tiba. Setelah semua orang berkumpul, barulah mereka mulai menyantap makan siangnya masing-masing. Allura menyimpan baby Bi di baby bouncer di sampingnya, sementara ia mengisi perutnya yang sudah keroncongan.
"Ra, bagaimana keadaan Mama kamu?" tanya Nyonya Fika di sela-sela makan siang mereka.
Allura menghentikan suapannya sebelum menjawab pertanyaan dari Nyonya Fika.
"Alhamdulillah, Nyonya. Keadaan Mamaku sudah lebih baik," jawabnya sambil tersenyum kecil.
"Alhamdulillah, syukurlah kalau keadaan Bu Ani sudah lebih baik," tanggap Nyonya Fika.
"Raβ"
__ADS_1
Ada suatu hal yang bingin Arzan tanyakan pada Allura sejak beberapa saat yang lalu. Ini tentang Allura yang terlihat sedikit ada kemiripan dengan Tuan Darion. Apa lagi Arzan sempat melirik gerak-gerik Ibu Ani yang menunduk dalam saat tadi pagi berpapasan.
Papanya memang mengenal Adnan lama, mereka juga berteman baik. Namun, Tuan Anderson tak mengetahui seluk beluk tentang keluarganya Adnan. Sedangkn untuk Tuan Darion sendiri, Tuan Anderson baru mengenalnya beberapa tahun belakangan ini karena urusan bisnis. Tak ada pembicaraan pribadi di sana. Terlebih, Tuan Anderson bukan tipe orang yang suka mengulik suatu hubungan keluarga.
Allura menatap Arzan yang tadi sempat memnggilnya sesaat, ia sedikit heran karena pria itu tak meneruskan ucapannya.
"Ada apa, Tuan?"
Arzan mendengus pelan saat Allura lagi-lagi memanggilnya dengan sebutan 'Tuan'. Namun, untuk saat ini bukan hal itu yang penting. Arzan kembali memusatkan perhatiannya pada gadis yang tengah duduk di depannya.
"Apa keluargamu memiliki ciri fisik khusus?" tanya Arzan yang tiba-tiba. Nyonya Fika yang hendak menyuapkan makanannya seketika terhenti saat mendengar pertanyaan yang diajukan Arzan pada Allura.
Allura sendiri hanya terdiam dan mengunyah makanannya perlahan. Dia tak tahu apa maksud dari pertanyaan Arzan, tapi itu sedikit membuatnya berharap Arzan bisa membantu dia untuk mencari tahunya.
"Saya tidak tahu, Tuan. Orang-orang hanya beranggapan jika saya mempunyai sorot warna iris yang sama dengan Papa. Tapi, saya selalu merasa biasa saja. Tak ada yang spesial," jawab Allura sambil menunduk pelan.
Berdeda halnya dengan Arzan yang semakin mencondongkan tubuhnya agar bisa demakin leluasa menatap Allura.
Allura hanya bisa menanggapi ucapan Arzan dengan senyuman, ia tak tahu apa yang harus diucapkannya. Obrolan dan makan siang itu terus berlanjut sampai selesai. Allura tak menanyakan apa-apa lagi pada Arzan.
Arzan kembali ke kantor setelah makan siang, sedangkan Allura kembali ke kamar untuk membawa Bintang beristirahat. Saat Allura hendak membaringkan tubuhnya di samping Bintang, tiba-tiba ponsel miliknya bergetar. Allura menatap sekilas ponsel itu untuk melihat ID pemanggil. Keningnya sedikit mengkerut saat ia tak mengenali nomor ponsel yang masuk.
"Siapa?" gumam Allura sambil memperhatikan angka-angka yang tertera di layarnya. Ragu dan takut lebih mendominasi hati Allura, hingga membuat gadis itu tak menerima panggilannya.
***
Di seberang sana, lebih tepatnya di sebuah ruangan yang cukup mewah, seorang pria paruh baya tengah mengumpat kesal. Bagaimana tidak, ia sudah beberapa kali mencoba untuk menghubungi nomor seseorang yang di dapatkannya beberapa saat lalu. Namun, panggilannya tak kunjung di jawab oleh sang pemilik nomor.
__ADS_1
"Apa kamu yakin ini nomor ponselnya, Than?" tanya Tuan Darion pada anaknya, Ethan.
"Tentu saja, Pa. Aku mendapatkannya beberapa saat yang lalu dari salah satu temannya yang bekerja di toko baju. Bahkan, dia juga menunjukkan letak rumah kontrakan yang saat ini dihuni oleh Bibi Ani," jawab Ethan dengan serius.
Ya, Tuan Darion segera bergerak untuk mencari informasi tentang Allura setelah ia sempat menatap mata gadis yang ditabraknya beberapa hari lalu. Ada rasa penasaran yang amat besar sehingga dia meminta anak buahnya untuk mencari kebenaran itu. Setelah pencarian itu selesai, betapa terkejutnya dia saat dugaannya benar, Allura adalah anak dari Adnan dan Ani, gadis kampung yang ia benci.
Bukan tanpa alasan Tuan Darion membenci Ibu Ani, tapi ada hal lain juga yang mendorong hatinya untuk membenci gadis yang merupakan adik iparnya sendiri.
"Benarkah kamu mengetahui rumah Bibimu itu?" tanya Tuan Darion setelah mendengar perkataan Ethan, anaknya.
"Tentu Pa. Rumah kontrakannya sangat sederhana. Sepertinya sepupuku tidak mampu memberikan tempat tinggal yang layak untuk Ibunya," jawab Ethan sambil memperlihatkan sebuah foto kontrakan yang berjajar rapi di sana.
Tuan Darion mengambil secarik kertas yang disodorkan oleh Ethan, ia memperhatikan setiap sudut gambar foto itu.
Pantas saja selama ini aku tidak menemukan keberadaan mereka, ternyata kehidupan mereka sudah lebih baik dari sebelumnya, batin Tuan Darion saat melihat suasana kontrakan yang Allura dan Ibu Ani tempati.
"Aku akan menemui Bibimu nanti," ucap Tuan Darion sebelum ia pergi keluar dari ruang kerjanya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Halo kakak-kakak πππ Jangan bosan buat nunggu novel ini up, ya π€π€π€. Sambil tunggu, baca juga Novel punya kak Author phopo_nira yu π ceritanya juga seru lho ππ