
Arzan keluar dari mobil dan meninggalkan kekasihnya di sana, dia bermaksud untuk mendatangi sebuah toko bunga yang ia lihat tak jauh dari mobilnya terparkir tadi. Namun, sesampai di sana antriannya sangat panjang dan hal itulah yang membuatnya harus menunggu lama. Selesai dari toko bunga, Arzan juga mendatangi sebuah toko perhiasan yang berada tak jauh dari dekat toko bunga.
Arzan tadi mendengar dengan jelas gerutuan Allura tentang dia yang melamarnya dengan cara tidak romantis. Maka dari itu, sekarang dia sedang mencari bunga serta cincin untuk diberikannya pada Allura.
Setengah jam berlalu, setelah tadi Arzan mendapatkan rangkaian bunga yang spesial dan cincin yang dibelinya secara mendadak, pria itu pun kembali ke mobil.
"Sayang, maaf karena sudah membuatmu menunggu lama," ucap Arzan setelah dia duduk di belakang kemudi.
Namun untuk beberapa saat, Allura tidak menanggapi ucapan Arzan. Bahkan gadis itu sama sekali tidak menoleh padanya. Arzan sendiri tidak mengetahui jika Allura menunggunya sampai terlelap di dalam mobil.
"Sayang, apa kamu marah padaku?" tanya Arzan lagi, kali ini pria itu mencoba untuk menggapai tangan Allura yang ada di pangkuannya.
"Ra, kamu masih marah padaku?"
Arzan mencoba untuk menyentuh wajah Allura yang tertutup sebagian oleh rambutnya, setelah tadi sempat kebingungan karena Allura yang terdiam, kini Arzan pun tahu kalau Allura tengah tertidur lelap.
Pantas saja dari tadi ku panggil dia tidak menjawab, ternyata dia sedang tidur, gumam Arzan sambil tersenyum kecil.
Pria itu masih belum menjalankan kendaraannya, dia masih manfaatkan waktu itu untuk menikmati wajah ayu Allura yang tengah terlelap. Baginya, sangat sulit mendapatkan momen seperti ini.
"Ra, aku adalah pria yang sangat beruntung karena bisa memiliki hatimu. Bukan karena kamu cantik dan baik saja, tapi karena kamu bisa menerima sifat burukku dan keberadaan Bintang ditengah-tengah kita. Padahal, tadinya aku pikir tidak akan menemukan wanita seperti itu di zaman sekarang," ucap Arzan sambil mengecup punggung tangan Allura. Dia juga tidak lupa menyematkan cincin yang dibelinya tadi di jari manis Allura.
Setelah puas memandangi wajah Allura, Arzan pun mulai kembali menjalankan kendaraannya, kali ini ia benar-benar fokus pada jalan raya karena Allura sudah tertidur, jadi tidak ada yang menemaninya berbicara.
Setengah jam berlalu, akhirnya mobil yang ditumpangi Arzan dan Allur pun tiba di pekarangan rumah keluarga keluarga Anderson.
Seperti biasa, Nyonya Fika dan Bintang sudah menunggu kedatangan pasangan itu. Namun, Nyonya Fika sedikit mengernyit heran saat Arzan menggendong Allura ala bridal style dengan mata terpejam tak sadarkan diri. Lantas wanita paruh baya itu langsung menghampiri anaknya.
"Arzan, ada apa dengan Allura? Kenapa dia tidak sadarkan diri seperti ini? Apa sudah terjadi sesuatu di sana? Apa Tuan Okta berbuat sesuatu yang kasar dan membuat Allura seperti ini?" Berbagai pertanyaan Nyonya Fika layangkan untuk sang anak, dia sudah sangat khawatir saat melihat Allura yang pasrah dalam gendongan Arzan.
__ADS_1
Nyonya Fika terus mengikuti langkah Arzan yang membawa Allura memasuki kamar gadis itu.
"Mama tenanglah. Rara baik-baik saja, tidak ada hal buruk yang terjadi pada kami–"
"Lalu kenapa Allura tidak sadarkan diri?" tanya Nyonya Fika dengan cepat. Bahkan saking khawatirnya, dia menghentikan perkataan Arzan yang belum selesai.
"Mama, sebaiknya kita biarkan Rara istirahat dulu. Sepertinya dia sangat kelelahan, dia hanya tertidur," jawab Arzan sambil menggenggam tangan mamanya agar lebih tenang.
"Apa? Ma–maksudmu Allura hanya kelelahan dan tertidur saja?"
Arzan mengangguk membenarkan pertanyaan sang mama. "Iya, Ma. Jadi, Mama tidak perlu khawatir," jawabnya.
Nyonya Fika menghela napasnya lega, tadi ia sudah sangat panik kerena tidak biasanya Allura pulang dengan tidak sadarkan diri.
"Syukurlah kalau seperti itu."
"Lho, anak Papa kenapa nangis?" tanya Arzan sambil mengambil alih Bintang dari tangan mamanya.
"Sepertinya Bintang sangat merindukan Allura, Zan. Tadi juga dia minum susunya hanya sedikit," tanggap Nyonya Fika sambil mengusap-usap punggung sang cucu, berharap Bintang berhenti menangis.
"Benarkah?" tanya Arzan yang langsung mendapat anggukan dari mamanya. "Wah, sepertinya anak Papa ini tahu, ya ... Mamanya sudah pulang," ucap Arzan pada Bintang. Bayi itu enggan berhenti menangis dan cukup membuat Arzan serta Nyonya Fika kelimpungan.
***
Allura membuka matanya perlahan. Dia merasa aneh kerena begitu matanya terbuka, dia sudah berada di ruangan yang sangat di kenali. Bahkan, Allura juga bisa mendengar suara tangisan Bintang meskipun hanya sayup-sayup.
Kenapa aku bisa ada di sini? Sejak kapan aku tertidur? tanya Allura dalam hatinya.
Setelah nyawanya terkumpul, Allura segera bangkit dengan cepat untuk menghampiri Arzan dan Nyonya Fika yang sedang berusaha menenangkan tangisan Bintang. Allura belum sadar jika di jari tangannya kini sudah ada cincin cantik dengan permata kecil di tangannya.
__ADS_1
"Ma, Mas ... Bintang kenapa?" tanya Allura setelah ia ada di hadapan kedua orang itu.
"Lho, sayang, kenapa kamu bangun? Apa Bintang mengganggu waktu istirahatmu?" tanya Nyonya Fika pada Allura yang langsung ditampik oleh gadis itu.
"Tidak, Ma. Maaf karena tadi aku malah tertidur," jawab Allura.
Gadis itu pun segera mengambil alih Bintang yang ada di pangkuan Arzan, dengan perlahan dan penuh kehati-hatian, Allura mulai menenangkan Bintang. Seperti biasa, Bintang akan langsung terdiam setelah ia melihat wajah dari ibu susunya.
"Adek kenapa? Kangen Mama, ya, sayang?" tanya Allura pada bayi di tangannya.
Bintang sendiri menanggapi pertanyaan calon mama sambungnya dengan mata bulat yang berkedip lucu, di sana juga masih ada sisa-sisa air mata yang tertinggal. Allura dengan telaten membantu Bintang mengeringkan air matanya dengan tisu.
Setelah selesai, Allura bangkit dari duduknya dan berpamitan pada Arzan serta Nyonya Fika untuk membawa Bintang ke dalam kamar mereka.
"Ma, Mas, aku pamit dulu mau menyusui Bintang," ucap Allura sebelum ia benar benar pergi dari sana.
"Tentu, sayang. Maaf karena sudah merepotkanmu," jawab Arzan. Akan tetapi, pria itu sedikit heran karena ia melihat Allura yang bersikap biasa saja, seakan kejadian tadi siang tidak terjadi.
Kenapa dia tidak bereaksi apa-apa? Apa jangan-jangan Allura masih marah karena aku meninggalkannya begitu saja di dalam mobil? Tapi ... bukankah dia sudah mendapatkan cincinnya. Lalu, kenapa sikapnya seperti itu? tanya Arzan dalam hatinya.
Nyonya Fika merasa heran pada anaknya karena dia terus menatap punggung Allura yang sudah menjauh dari mereka. Bahkan, Arzan sama sekali tidak mengedipkan matanya.
"Zan ada apa?" tanya wanita paruh baya itu.
"Tidak ada apa-apa, Ma. Tapi ... bisakah Mama membantuku?"
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Maaf kakak-kakak, kemarin cuma up 1 bab 🙏 Semoga kalian sehat selalu 🤗🤗🤗 Terima kasih karena udah tunggu cerita ini 🙏🙏🙏
__ADS_1