Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 46


__ADS_3

Hampir empat jam berlalu pintu ruang operasi itu tertutup. Allura bahkan sangat gelisah saat dokter mengatakan jika mereka kekurangan stok darah untuk Ibu Ani. Akan tetapi, Arzan dengan sigap langsung meminta salah satu pengawalnya untuk mendonorkan darahnya, kebetulan dia mempunyai golongan darah yang sama dengan Ibu Ani.


Setelah Allura merasa ketar-ketir dengan keadaan mamanya, akhirnya pintu ruangan operasi itu pun terbuka lebar dengan membawa ranjang pasien keluar dari sana.


"Alhamdulillah," ucap keempat orang itu. Mereka semua merasa lega karena akhirnya proses yang paling mendebarkan sudah terlewati.


"Alhamdulillah, Ra. Ibu sudah dioperasi, mudah-mudahan kedepannya beliau cepat sembuh," ucap Viana sambil memeluk Allura begitupun dengan Bi Erni, mereka bertiga berpelukan bahagia.


Arzan menyunggingkan bibirnya saat melihat senyuman lega Allura yang terpancar. Dia turut merasa lega karena sudah membantu keluarga dari Dewi penolongnya.


"Aku turut bahagia, Rara. Semoga Mamamu cepat sembuh dan bisa berkumpul lagi denganmu," kata Arzan setelah pelukan ketiga wanita itu terlepas.


Allura sempat terdiam saat Arzan yang tiba-tiba memanggilnya dengan panggilan 'Rara', dia merasa sedikit aneh dengan panggilan itu. Tak ada dari pihak keluarganya yang memanggil dia dengan panggilan 'Rara'.


"Te–terima kasih, Tu–tuan. Ini ... ini semua berkat bantuan Anda." Kegugupan tiba-tiba melanda di hati Allura. Arzan yang berprilaku lebih manis dari biasanya, setelah mengetahui jika dialah yang membantunya selamat dari kecelakaan.


"Tidak perlu gugup. Bersikap biasalah, lagi pula aku hanya melakukan hal yang seharusnya aku lakukan," ucap Arzan sambil tersenyum manis dan mengusap kepala wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya.


Allura menunduk saat Arzan kembali melakukan hal yang tak biasa padanya. Allura merasa hatinya menghangat saat mendapatkan perhatian dari pria itu. Namun, Allura segera menyadarkan dirinya, dia tidak boleh menyukai pria yang masih berstatuskan suami orang.


Setelah Arzan menurunkan tangannya dari kepala Allura, gadis itu pun sedikit menjauh dan kembali menjaga jarak dengannya. Arzan merasa sedikit aneh karena Allura yang tiba-tiba menjauhinya, tetapi ia berusaha untuk tidak terlalu memikirkan sikap Allura itu.


Para perawat segera mendorong ranjang pasien kembali ke ruangan VIP tempat semula Ibu Ani dirawat. Allura, Viana dan Bibi Erni segera menyusul para perawat, sedangkan Arzan dipanggil oleh dokter yang baru saja menangani operasi Ibu Ani.

__ADS_1


Allura membiarkan Arzan yang berbicara dengan dokter. Selain dia tidak terlalu mengerti, Arzan juga yang menawarkan diri untuk menjadi penanggung jawabnya.


Setelah para perawat membenarkan posisi ranjang pasien, barulah Allura, Viana dan Bibi Erni masuk ke dalam ruangan VIP itu. Bibi Erni sempat menangkap gelagat aneh Allura saat ia tidak sengaja menyenggol pay*dara keponakannya, Allura tiba-tiba meringis seperti menahan sakit. Tak lama kemudian, Bibi melihat baju Allura tiba-tiba basah.


"Ra, kamu tidak apa-apa?" tanya Bi Erni dengan tatapan yang mengarah ke dada Allura yang sudah basah.


"Aku baik-baik saja, Bi. Ada apa?" tanya Allura saat bibinya menatap dia dengan pandangan heran.


"Itu, kenapa baju bagian kamu basah? Padahal kamu sedang tidak memegang air." Bibi Erni menunjuk baju Allura yang basah dengan dagunya.


'Degh'


Allura membelalakkan matanya saat ia mengikuti arah pandangan Bibi Erni, jantungnya berdetak kencang seakan dia baru saja tertangkap basah karena ketahuan mencuri ketika melihat dadanya yang basah. Dia belum sanggup untuk jujur pada siapapun tentang pekerjaannya, selain pada orang-orang yang memang sudah mengetahuinya dari awal.


Ya Tuhan, Bibi pasti merasa curiga padaku. Bagaimana jika dia mengetahui pekerjaanku sekarang? Apa yang harus kukatakan padanya? batin alura sambil tertunduk dan berbalik untuk memunggungi Bibi Erni.


Bibi Erni memicingkan mata sambil menatap tajam keponakannya, dia seorang ibu yang sudah pernah melahirkan dan menyusui, pastinya hal seperti ini menjadi tanda tanya besar dalam pikirannya, karena melihat Allura seperti wanita yang sedang menyusui.


"Kamu yakin?" tanyanya lagi.


Allura menganggukan kepalanya beberapa kali dengan cepat. "Iya, Bi. Aku sungguh tidak apa-apa," jawabnya sambil berusaha memberi kode pada Viana yang sedang duduk di sofa, untuk membantunya mengalihkan perhatian Bi Erni darinya. Allura beruntung, Viana menangkap kode itu darinya. Lantas, gadis itu pun segera menarik tangan Bibi Erni keluar dari ruangan, dengan alasan untuk menemaninya ke kantin.


Setelah kepergian Bi Erni dan juga Viana, Allura segera masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pad yang biasa ia pakai untuk menahan ASI–nya agar tidak tembus keluar baju. Alluraa juga tidak lupa untuk memakai pakaian jaket agar bisa menutupi baju bagian depannya yang sudah basah.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Allura pun keluar kamar mandi dan mendapati Arzan yang sudah duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Allura merasa segan dan ragu untuk menghampiri Arzan, tapi pria itu mengerti dan menarik tangan Allura untuk duduk di sampingnya.


"Tu–tuan ...."


"Sudahlah, kamu tidak perlu mencemaskan Mamamu. Beliau masih berada dalam pengaruh obat bius, dia tidak akan cepat-cepat siuman," ucap Arzan saat ia menangkap raut wajah alura yang terlihat cemas.


Allura merasa sedikit lega setelah mendengar penuturan majikannya. Namun, untuk saat ini dia tidak memikirkan hal itu karena dia sendiripun tahu penyebabnya, tapi yang saat ini Allura pikirkan adalah ASI–nya yang terus-menerus keluar sehingga membuatnya kurang nyaman.


"Kamu kenapa?" tanya Arzan saat melihat Allura yang tak juga membuka suara, setelah ia memberitahukan kondisi Ibu Ani.


"Tidak apa-apa, Tuan. Terima Kasih," ucap Allura. Dia mengurungkan niatnya untuk memberitahukan jika dia lupa membawa pompa ASI.


Arzan pun hanya mengangguk sama saja setelah mendengar jawaban Allura. "Baiklah, apa kamu akan menunggu di sini sampai Ibu Ani kembali sadar? Kemungkinan dia akan sadar malam nanti," tanyanya.


Allura sedikit bingung dengan posisinya saat ini. Dia ingin tetap berada di sana menunggu sampai mamanya siuman, tapi di sisi lain dia juga tidak bisa terus berdiam diri sementara pay*daranya semakin bengkak dan sakit.


"Kenapa hanya diam saja?" tanya Arzan saat melihat raut wajah bingung dari Allura.


"Sebenarnya ... saya bingung, Tuan."


Arzan mengerutkan keningnya, dia tidak mengerti kenapa Allura harus bingung. "Bingung kenapa? Aku bisa menjaga Bintang bersama Mama sampai kamu pulang nanti."


"Mmmh, mungkin saya akan pulang lebih dulu untuk menyusui Bintang. Kasihan dia ditinggal terus dari tadi," jawab Allura akhirnya.

__ADS_1


Rasa sakit karena pay*daranya yang sudah membengkak, masih coba Allura tahan, sampai Bibi Erni dan Viana kembali ke ruangan. Setelah itu, dia akan ikut pulang dulu sebentar bersama Arzan.


"Baiklah. Nanti aku akan kembali mengantarmu," ucap Arzan yang langsung diangguki oleh Allura.


__ADS_2