
Di dalam mobil yang di tumpangi Allura dan Arzan. Keduanya sama-sama terdiam, Arzan kembali fokus lagi pada kemudinya, setelah tadi ia sempat menerima panggilan dari papanya yang menyuruh dia untuk pulang ke rumah terlebih dulu.
"Mmmh, Tu–tuan ...." Allura mulai membuka suaranya setelah dari tadi hanya ada keheningan diantara mereka.
"Hmmm, ada apa?" tanya Arzan sambil menoleh ke arah di mana Allura tengah duduk.
"Dari tadi saya tidak melihat mobil Tuan Anderson, beliau kemana?" tanya Allura sambil sesekali menatap ke belakang.
"Aku tidak tahu, Papa hanya menyuruhku untuk segera pulang," jawab Arzan tanpa mengalihkan perhatiannya dari di jalan raya.
"Oh." Allura menganggukan kepalanya beberapa kali setelah mendengar jawaban dari Arzan.
Gadis itu mulai merasa tidak nyaman ketika dadanya kembali sakit, ASI-nya masih sangat subur sehingga membuatnya harus beberapa kali memompa. Namun, tadi dia tidak sempat karena kedatangan para majikan di ruangan Ibu Ani. Padahal, tadi pagi dia berniat untuk menumpang memompa ASI di ruangan bayi. Bahkan Allura sampai membawa pompaan itu kemana-mana, ia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi.
Arzan sempat melihat raut wajah Allura yang terlihat sedikit meringis, ia pun memperlambat laju kendaraannya tepat di pinggir sebuah apotek.
"Kamu kenapa?" tanya Arzan saat ia sudah menghentikan kendaraannya.
"Kenapa berhenti, Tuan?" tanya Allura yang heran karena mobil berhenti di pinggir jalan, sedangkan perjalanan mereka masih cukup jauh.
"Aku melihat wajahmu seperti meringis kesakitan, jadi aku menghentikan mobilnya di sebelah apotek, tuh." Arzan menunjukkan bangunan yang ada di sebelahnya dengan lambang khas apotek.
"Anu, Tuan ... sebenarnya ... saya ...."
__ADS_1
"Apa ada yang kamu butuhkan? Katakan saja. Aku pasti akan mencarikannya," perintah Arzan saat Allura tak kunjung mengatakan keinginannya.
"Maaf, tapi ... bisakah Anda keluar dulu?"
Arzan mengernyit keningnya heran saat Allura malah mengusir dia untuk turun dari mobil. "Kenapa aku harus keluar?" tanyanya.
"Ayolah, Tuan. Saya mohon," ucap Allura sambil mengatupkan kedua tangannya, saat ini ia sudah tak sanggup lagi menahan pay*daranya yang sudah sangat ngilu.
Arzan memicingkan matanya sesaat, tapi ia tidak tega menolak permintaan Allura saat melihat wanita itu meringis kembali. Akhirnya, Arzan pun mengembuskan napas beratnya, ia mengalah dan keluar dari dalam mobil. Tak lupa, Arzan menyalakan AC mobil terlebih dulu sebelum ia keluar.
"Terima kasih, Tuan," ucap Allura sebelum Arzan benar-benar menutup pintu mobilnya.
"Hmmm, cepatlah selesaikan urusanmu, kita harus segera kembali," perintah Arzan.
"Baiklah."
Setelah memastikan semuanya aman, barulah ia mengambil pompa ASI elektrik yang ia bawa dan segera mengenakannya.
"Yah, sayang sekali harus terbuang begitu saja," gumam Allura sambil menatap ASI-nya yang sedang ditampung di botol khusus.
Allura tidak berani memberikan Bintang ASIP yang kurang hegienis seperti ini, Allura memilih untuk membuangnya saat sudah sampai di rumah nanti. Cukup lama Allura memompa ASI-nya sampai ia tak terlalu merasakan kesakitan seperti tadi.
Arzan berdiri dengan kesal saat menunggu Allura yang belum juga selesai dengan urusannya. Bahkan pria itu sudah beberapa kali menengok ke arah mobilnya, tapi masih belum terlihat pergerakan tanda-tanda Allura akan membuka pintu.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sedang dia lakukan di dalam sana? Tidak mungkin 'kan jika dia pingsan? Tapi, bagaimana jika dia benar-benar pingsan?" tanya Arzan seraya mulai berjalan untuk mendekati mobil miliknya.
Allura segera membereskan pompa ASI beserta botolnya yang sudah terisi penuh dan menyimpannya kembali ke dalam tas. Setelah memastikan penampilannya kembali rapi, barulah ia membuka tirai dan pintu mobilnya. Tepat saat Arzan akan mengetuk kaca, Allura segera membuka pintu mobil.
"Sebenarnya, apa yang sedang kamu lakukan tadi? Kenapa lama sekali?" tanya Arzan dengan sedikit kesal.
Allura tidak menjawab pertanyaan Arzan, gadis itu memilih bungkam dan mendekat tas yang berisikan alat pumping miliknya.
Sesaat, pandangan Arzan menatap tas yang ada dalam dekapan Allura. Akhirnya ia pun mengerti tanpa Allura menjawab pertanyaannya.
"Apa sekarang sudah merasa lebih baik?" tanyanya penuh dengan perhatian.
Allura menundukkan kepalanya, ia merasa sangat malu saat Arzan sudah mengetahui apa yang dia lakukan tadi.
"Sudah, Tuan. Maaf karena harus membuat Anda menunggu lama," jawab Allura pelan.
Arzan memandang Allura dengan sebelah alis yang terangkat, ia merasa aneh saat Allura menjawab pertanyaannya dengan suara pelan.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arzan lagi.
Allura menganggukkan kepalanya beberapa kali, ia masih belum bisa menatap Arzan yang sekarang berada duduk di sampingnya.
"Hei, aku bertanya padamu dengan suara dan kata-kata. Tapi, kenapa kamu menjawab pertanyaanku dengan isyarat?" tegur Arzan karena Allura tak kunjung menjawab pertanyaannya.
__ADS_1
"Maaf," cicit Allura pelan.
Setelah mendengar jawaban Allura, Arzan pun kembali mengemudikan mobilnya menuju rumah kedua orang tuanya.