
Sepanjang perjalanan dari rumah sakit menuju kediaman keluarga Rafindra, Allura sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Dia masih terus memikirkan ucapan Ethan tentang mamanya juga dirinya.
Atas dasar apa pria itu bisa mengira jika aku adalah anaknya Tuan Darion? Apa yang sebelumnya pernah terjadi antara Mama dan Tuan Darion? tanya Allura dalam hatinya.
Lamunan Allura terhenti saat ia merasa tangannya disentuh oleh seseorang, dia pun menatap tangannya yang kini digenggam oleh Arzan. Pria itu tersenyum manis saat Allura menatapnya.
"Kita ke taman dulu, ya. Aku tidak mau membawamu pulang dalam keadaan banyak melamun seperti ini," ucap Arzan saat Allura menatapnya, Dia tidak ingin melihat Allura termenung dan bersedih. Jadi, Arzan memutuskan untuk membawa Allura ke taman kota terlebih dulu sebelum mereka pulang ke rumah.
"Tapi ... bagaimana dengan Mama dan Bintang, Mas?" tanya Allura, dia merasa sedikit tidak nyaman karena harus meninggalkan anak asuhnya terlalu lama.
"Tenang saja. Saat ini Bintang juga tidak rewel bersama Mama. Tadi aku sudah meminta izin padanya," jawab Arzan seraya membawa tangan Allura yang digenggamnya untuk ia kecup.
Perlakuan Arzan lagi-lagi membuat Allura berdebar. Pria itu sekarang selalu memperlakukannya dengan manis, sehingga membuat dia sulit untuk menampik perasaan yang mulai tumbuh di hatinya.
Ya Tuhan ... jika dia bersikap seperti ini terus, maka akan sulit untukku menolaknya, batin Allura sambil tersenyum kaku.
Sesampai di taman, Arzan segera memarkirkan mobilnya dan membukakan pintu untuk Allura.
"Ayo kita turun, sayang," ajak Arzan sambil menyodorkan tangannya untuk membantu Allura turun dari mobil.
Allura tidak langsung menerima uluran tangan Arzan. Gadis itu masih mematung karena terkejut sekaligus tersanjung saat Arzan memanggilnya dengan panggilan 'Sayang'.
"Sayang, kamu tidak apa-apa, kan?" Arzan kembali bertanya ketika Allura tak kunjung menerima uluran tangannya.
Gadis itu masih mengerjapkan matanya sambil menatap Arzan dengan lekat. Hal itu membuat Arzan gemas sendiri.
"Ra, apa sekarang kamu sedang memancingku?" tanya Arzan sambil mendekatkan wajahnya ke telinga Allura. Andai saat ini di taman sedang tidak ramai, dia pasti sudah menyerang Allura lagi.
__ADS_1
Allura langsung menyadarkan dirinya dari lamunan setelah mendengar suara Arzan yang berada tepat di sampingnya.
"Ma–maaf, Mas. Tadi ... aku ... aku ...."
"Kenapa? Apa kamu masih memikirkan ucapan sepupu tirimu itu?" tanya Arzan saat Allura tak kunjung meneruskan perkataannya.
Allura langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat, dia menampik pertanyaan Arzan.
"Lalu, kenapa kamu tiba-tiba diam saja?" tanya Arzan lagi saat iya melihat gelengan kepala Allura.
"Itu ... sudahlah, Mas. Bukankah kamu tadi berniat untuk mengajakku ke taman?" Allura memilih untuk mengalihkan pembicaraan mereka, tidak mungkin dia langsung mengatakan jika tadi dirinya terkejut karena mendengar Arzan yang memanggilnya dengan panggilan 'Sayang'.
Arzan hanya mengerlingkan matanya, dia tahu jika Allura saat ini sedang mengalihkan pembicaraan mereka. Namun, dia tidak ingin ambil pusing dan membiarkan Allura melakukan apa yang diinginkannya.
"Ayo, kita duduk di samping danau yang ada di sana," ajak Arzan saat Allura sudah turun dari mobilnya.
Arzan tak sekali pun melepas genggaman tangan Allura, pria itu mendadak jadi posesif pada ibu susu Bintang.
"Mas, tangannya bisa dilepas tidak? Aku malu ... orang-orang terus menatap kita dari tadi," ucap Allura yang menyadari tatapan orang-orang padanya. Dia yang tidak terbiasa dengan tatapan orang-orang, menjadi sedikit merasa risih. Apalagi saat ini dirinya sedang berjalan bersama pria.
"Memangnya kenapa, Ra? Apa kamu tidak suka jika aku menggandeng tanganmu seperti ini?" tanya Arzan sambil memperlihatkan tangannya yang tengah menggandeng tangan Allura.
"Bukan seperti itu, Mas. Aku ... aku hanya belum terbiasa saja dengan tatapan orang-orang," jawab Allura sambil menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa, Ra. Lagi pula bukan hal aneh jika kita bergandengan tangan seperti ini. Meskipun ada yang menatap kita, itu berarti dia hanya iri karena aku menggandeng tanganmu," ucap Arzan yang membuat Allura tersenyum manis.
"Nah, kamu lebih cantik tersenyum dari pada hanya cemberut seperti tadi," sambung Arzan semakin membuat Allura tersipu malu.
__ADS_1
Setelah itu mereka pun kembali melanjutkan langkahnya melewati jalan setapak menuju pinggir danau. Allura tak henti-hentinya tersenyum ketika menemukan pemandangan indah itu. Dulu, dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga tidak menyempatkan diri untuk berjalan-jalan ataupun menghabiskan waktunya percuma.
Sesampai di pinggir danau, Arzan dan Allura berjalan menuju bangku putih yang ada di sana.
"Mas, apa yang terjadi pada Kakek Okta, ya?" tanya Allura saat pikirannya tiba-tiba kembali mengingat Tuan Okta yang sudah siuman.
"Kamu jangan khawatir, aku sudah meminta salah satu perawat untuk terus menjaga dan memantau Tuan Okta," jawab Arzan sambil mengusap puncak kepala Allura.
Ya, tadi mereka berdua sempat melihat Tuan Okta siuman, tapi hanya sesaat dan belum sempat berbicara karena Ethan yang sudah menyuruh mereka pergi. Sebenarnya Allura masih ingin bertemu dengan sang kakek, tapi sepupu tirinya sudah terlebih dulu mengusir mereka.
"Benarkah? Syukurlah ... aku harap Mas bisa terus memantau keadaan Kakek," ucap Allura dengan senyum yang ia paksakan.
Saat Allura dan Arzan masih duduk di taman, tiba-tiba ada seorang wanita yang datang dan tiba-tiba menjambak rambut Allura.
"Dasar pelakor! Kamu sudah berani-beraninya merebut suami orang. Bahkan kamu juga sudah mencuci otak anakku," ucap wanita itu.
Baik Arzan dan Allura begitu terkejut dengan tindakan orang itu. Belum lagi orang-orang yang mulai berbisik sambil menatap mereka.
"Rivera?"
...❤️❤️❤️...
Selamat siang kakak-kakak 👋👋👋
Sambil nunggu baca rekomendasi Novel siang ini, yu ...
...Nah ini dia 👇👇👇...
__ADS_1