Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 82


__ADS_3

Arzan, Allura dan Ethan kini sedang duduk di sebuah cafe yang tak jauh dari bangunan rumah sakit tempat Tuan Okta dirawat. Arzan lupa jika Ethan bisa saja muncul kapan saja di sana, seperti tadi. Kedatangan Arzan dan Allura diketahui oleh Ethan yang memang terus memantau keadaan Tuan Okta selama 24 jam. Bahkan, Ethan sengaja menyimpan sebuah CCTV untuk mempermudahnya menjalankan tugas dari sang papa. Arzan dan Allura sedikit beruntung karena pria itu berbaik hati untuk membiarkan mereka bertemu Tuan Okta.


"Jadi, kamu putri dari Ibu Ani?" tanya Ethan setelah beberapa waktu mereka terdiam.


Allura mengangguk kaku, kedua tangannya bahkan sudah mengeluarkan keringat dingin saking takutnya ditatap oleh pria yang tengah duduk di depannya. Di bawah meja, Arzan terus berusaha untuk menenangkan hati Allura dengan ikut menggenggam tangan sang kekasih. Dia sangat tahu jika Allura saat ini tengah dilanda ketakutan.


"I–iya, Tu–tuan," jawab Allura dengan kepala yang tertunduk dalam. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya, meskipun hanya untuk melihat wajah dari sepupu tirinya itu.


Ethan menyunggingkan senyuman tipisnya. Sebenarnya, dia tidak terlalu peduli dengan urusan Allura dan papa angkatnya karena tugas dia hanya untuk menjaga Tuan Okta.


"Kamu tidak perlu merasa takut dan gugup seperti itu. Aku tidak akan memberitahukan kedatanganmu pada Papa, tapi ... itu semua tidak gratis," ucapnya sambil menyeringai tipis dan menatap Arzan yang sedari tadi hanya terdiam.


Allura langsung menengadahkan kepala, dia memberanikan diri untuk menata pria yang ia perkirakan berusia tak jauh darinya.


"Apa maksudmu dengan kata 'Tidak gratis', Tuan?"


Arzan masih terus memantau keadaan. Meskipun dia sendiri sudah merasa kesal pada sepupu tiri Allura, tetapi dia berusaha untuk mengontrol emosinya agar tidak bertindak gegabah dan membuat Allura semakin kesulitan.


"Kamu pasti mengerti dengan apa yang aku maksud, sepupu," tanggap Ethan sembari memperlihatkan seringai tipisnya dan menatap Allura dengan intens.


Arzan sudah tidak bisa lagi membendung emosinya. Sebagai lelaki, tentu saja dia tahu maksud dari seringai dan juga tatapan intens pada wanita. Hal itu membuatnya naik pitam seketika. Arzan mengetahui ucapan dan tatapan yang ditujukan Ethan pada Allura. Pria itu sudah mengepalkan tangannya di bawah meja dengan erat. Namun, ia tetap menampilkan wajah yang seolah tidak peduli karena tidak ingin membuat Allura ketakutan melihat amarahnya.


Kurang ajar, berani-beraninya dia menatap Allura seperti itu. Andai saja tidak ada Allura di sini, sudah kupastikan akan mencukil kedua bola matanya dan membuat dia tidak bisa melihat lagi, gumam Arzan dalam hatinya.


Allura sendiri merasa kesal pada pria di depannya, bisa-bisanya dia menatap nakal dirinya yang merupakan sepupunya sendiri.


"Jaga tatapan dan ucapan Anda, Tuan Ethan. Saya bukan gadis yang seperti itu!" kata Allura sambil menatap tajam pada sepupu tirinya.


Ethan melengkung bibirnya ke bawah dengan dagu yang terangkat, dia malah semakin menantang Allura. Baginya, Allura hanya gadis kampung biasa yang tidak perlu dia takuti karena Ethan yakin, Tuan Okta akan berpihak padanya.

__ADS_1


"Wah ... saya baru tahu, ternyata Anda adalah pria yang rendahan, ya?" tanya Arzan dengan tatapan merendahkan Ethan.


"Apa maksudmu, Tuan Arzan?" sergah Ethan dengan wajah yang memerah karena amarah, dia tidak terima jika Arzan mengatainya seperti itu.


"Tentu saja rendah. Anda mencari gadis yang lemah untuk Anda manfaatkan. Apa Anda tidak mempunyai uang untuk membayar wanita malam?" tanya Arzan lagi. Papa Bintang itu semakin puas ketika melihat Ethan yang sudah mengepalkan tangannya diatas meja.


Arzan berani bertanya seperti itu karena dia tahu jika Ethan memang tidak diberi kebebasan oleh Tuan Darion. Meskipun Ethan adalah anak angkatnya, tapi Tuan Darion tidak memperlakukan dia layaknya anak.


"Cih, jaga ucapanmu! Aku tidak sedang berbicara denganmu, Tuan Arzan. Tapi, aku sedang berbicara dengan wanita murahan yang ada di sampingmu," jawab Ethan sambil menunjuk Allura.


Allura tidak terima dirinya dikatai wanita murahan oleh Ethan. Dia langsung bangkit dari duduknya dan menampar wajah Ethan dengan keras.


'Plak'


"Jaga ucapan Anda, Tuan Ethan. Saya bukan wanita murahan seperti yang Anda kira!" sergah Allura sambil menunjuk wajah Ethan. Rasa takut yang tadi ada dalam hatinya, hilang seketika. Allura tidak akan membiarkan orang lain terun merendahkan dirinya, siapa pun itu akan diaa lawan.


Perkataan Ethan tadi membuat Allura kehilangan keseimbangan tubuhnya. Bak tersambar petir di siang hari, hati Allura terasa sesak dan sakit. Arzan segera menopang tubuh Allura yang hendak jatuh kelantai, dia segera memeluk Allura dengan erat.


"Ra, tenang, oke ... kita akan mencari tahu kebenarannya terlebih dulu. Kamu jangan menghiraukan ucapan gila sepupu tirimu," pinta Arzan pada gadis yang ada dalam dekapannya.


Allura sama sekali tidak menanggapi ucapan Arzan, gadis itu sibuk dengan pemikiran dan semua prasangkanya. Allura mencoba untuk mencari tahu serta mengingat semua kesamaan dia dengan sang papa, tapi semuanya sama. Bahkan, Allura juga sempat mendonorkan darahnya saat Pak Andan mengalami kecelakaan.


Atas dasar apa Ethan mengira aku anak Tuan Darion? Kenapa dia bisa berpikir seperti itu? Jelas-jelas aku melihat foto lama saat Mama melahirkanku dan Papa juaga yang menggendongku, batin Allura.


Arzan segera memberikan Allura minum untuk membuat gadis itu tenang, dia yakin Allura sangat syok setelah mendengar ucapan Ethan karena dirinya pun sama-sama terkejut oleh pernyataan itu.


Sepertinya ada sesuatu yang perlu aku selidiki, batin Arzan.


Allura menerima gelas yang diberikan Arzan padanya, setelah merasa lebih baik Allura lekas menghubungi mamanya.

__ADS_1


"Ra, kamu mau apa?" tanya Aran saat Allura mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.


"Aku ... aku harus menghubungi Mama, Mas. Aku perlu penjelasan untuk ucapan pria si*lan tadi," geram Allura.


Arzan langsung mencegah Allura yang hendak menghubungi mamanya, dia tidak ingin membuat kondisi Ibu Ani memburuk dengan pertanyaan Allura.


"Ra, sebaiknya kita jangan tanya Mama Ani," ucap Arzan yang langsung disuguhi tatapan tajam Allura.


"Apa maksudmu, Mas? Kenapa au tidak boleh menanyakan hal ini pada Mama?"


Arzan menelan ludahnya dengan kasar saat mendapatkan tatapan tajam dari Allura, ia pun segera mengutarakan pendapat dan sarannya pda gadis itu.


"Aku tidak bermaksud apa-apa, Ra. Hanya saja ... bukankah lebih baik kita mencari buktinya lebih dulu? Aku khawatir jika kamu menanyakan hal ini pada Mama. Apalagi kondisi beliau tidak benar-benar sehat," saran Arzan.


Allura menundukkan kepalanya, apa yang dikatakan Arzan ada benarnya, tapi mungkin itu akan memakan waktu lama, seangkan dia sudah sangat penasaran dengan kebenarannya.


"Kamu tenang saja, Ra. Aku akan usahakan secepat mungkin mendapatkan jawabannya," ucap Arzan lagi saat melihat Allura yang tampak ragu.


"Baiklah. Aku percayakan semuanya padamu, Mas." Setelah percakapan mereka selesai, akhirnya Arzan pun mengajak Allura untuk pulang ke rumah.


...❤️❤️❤️...


Terima kasih untuk kalian yang masih mau menunggu kelanjutan novel ini🤗🤗


Sambil nunggu, baca rekomendasi novel siang ini, yu...


...Nah ini dia 👇👇👇...


__ADS_1


__ADS_2