Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 27


__ADS_3

Allura turun dari taksi yang ia tumpangi. Sebelum pergi tadi, ia sempat ditawari Nyonya Fika agar diantar oleh sopir keluarganya, tapi Allura menolak karena tidak ingin menyusahkan keluarga majikannya itu.


Sebelum pergi ke rumah sakit, Allura sempat menyusui Bintang dan berpamitan juga pada bayi merah itu. Namun, Allura tidak berpamitan pada Arzan karena menurutnya itu bukanlah hal penting.


Allura mulai melangkahkan kakinya menuju ruangan Ibu Ani berada, sebenarnya hatinya masih merasa gugup karena ia belum berbicara dengan jujur pada mamanya itu. Gadis itu juga mendapat kabar dari Viana jika mamanya hari ini akan melakukan cuci darah.


Namun, sebelum Allura menemui mamanya yang sedang melakukan cuci darah, ia terlebih dulu menemui Viana yang sudah ada di ruang rawat Ibu Ani.


"Ana, aku sangat merindukanmu!" seru Allura sambil menghambur memeluk tubuh Viana.


"Ish, padahal kita baru bertemu kemarin. Bagaimana dengan bayimu?" tanya Viana yang langsung di bekap mulutnya oleh Allura.


"Shut, jangan terlalu keras dan jangan membicarakan hal itu di sini," tegur Allura sambil menatap sekeliling.


Ada beberapa orang yang menoleh kearahnya, Allura langsung menganggukan kepalanya sesaat dan meminta maaf pada orang-orang itu.


Viana memicingkan matanya dan melihat beberapa orang memang sedang menatap kearah mereka.


"I'm sorry, I forgot about it," ucap Viana dengan menunjukkan wajah bersalahnya.


"Never mind forget it. But, don't do it again!" Allura memperingatkan Viana untuk tidak melakukannya lagi.


Walau bagaimanapun pekerjaannya saat ini, orang-orang masih menganggapnya tabu dan Allura tidak ingin sampai ada orang lain yang berpikiran negatif tentangnya. Apalagi jika orang itu berniat jelek dan langsung berbicara yang tidak-tidak pada mamanya.


"Jadi, bagaimana bayi itu. Apa dia baik-baik saja?" tanya Viana dengan nada yang pelan.


"Alhamdulillah, kabarnya baik, Na."


"Oh, syukurlah. Tadinya aku sempat berpikir jika kamu tidak akan cocok dengannya, apalagi keluarga itu tampak dingin dan acuh padamu," tanggap Viana.


Allura menggeleng, ia menampik semua tuduhan Viana pada keluarga majikannya.


"Tidak, Na. Keluarga itu begitu baik padaku, mereka juga bersikap ramah dan tidak kasar," jawab Allura dengan segera.


"Alhamdulillah, deh. Aku senang dengarnya," ucap Viana sambil mengusap lengan bagian atas Allura.

__ADS_1


Setelahnya, kedua gadis itu pun saling terdiam dan sibuk dengan pemikirannya masing-masing. Viana dengan ponselnya dan Allura yang terus mencemaskan Bintang. Mereka terdiam hingga beberapa saat.


"Ngomong-ngomong, apa Mama masih lama, Na?" tanya Allura yang tak kunjung melihat keberadaan sang mama.


"Harusnya sih sebentar lagi," jawab Viana seraya melirik jam tangan kecil yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Oh."


"Ra, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" tanya Viana.


Sebenarnya ia sangat penasaran dengan masa lalu keluarga sahabatnya, tapi selama ini ia terlalu takut untuk menanyakan hal itu.


Allura sendiri merasa heran dengan Viana, tidak seperti biasa gadis itu berbicara dengan nada serius padanya.


"Tanya apa, Na? Sepertinya itu adalah hal yang serius?"


"Kamu ... apa keluargamu pernah terlibat masalah?" tanya Viana dengan ragu-ragu.


Allura mengernyitkan keningnya saat mendengar pertanyaan dari Viana, ia merasa aneh karena baru kali ini Viana bertanya seperti itu.


"Tidak juga, Na," jawab Allura sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa, Na?" tanya Allura lagi, ia merasa penasaran kenapa Viana bisa berfikiran jika keluarganya pernah berurusan dengan pihak tertentu.


Viana terlihat ragu-ragu untuk kembali mengatakan sesuatu, tapi ia harus tetap menanyakannya agar mendapatkan jawaban yang pasti.


"Sebenarnya ... sebenarnya kemarin aku tidak sengaja melihat seorang pria yang berpakaian serba hitam datang ke rumah kontrakanmu. Badan pria itu juga tinggi, besar dan kepalanya botak. Jadi, aku fikir dia salah satu rentenir yang datang menagih hutang padamu," jawab Viana seraya menundukkan kepalanya.


Allura terdiam, ia mencoba untuk mengingat-ingat seseorang yang mungkin datang ke rumahnya dengan berpenampilan seperti yang Viana sebutkan tadi. Namun hasilnya sia-sia, Allura sama sekali tidak bisa menebak orang itu.


"Entahlah ... aku tidak pernah mempunyai masalah dengan orang-orang seperti itu, Na. Mama dan Almarhum Papa juga sepertinya tidak. Jadi ... aku tidak tahu," jawab Allura sambil mengangkat bahunya sesaat.


Viana mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali, ia sendiri pun merasa penasaran dengan orang itu. Andai kemarin sedang tidak buru-buru, pasti ia sudah menghampiri pria itu.


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Mungkin itu hanya orang yang hendak menanyakan alamat saja," ucap Allura sambil menepuk bahu Viana sebelum ia berdiri dan berjalan kearah pintu.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Ra?" tanya Viana.


Allura menghentikan langkahnya dan berbalik sesaat.


"Aku terima telpon dulu," ucapnya sambil memperlihatkan ID pemanggil yang tertera di ponselnya.


Viana membulatkan mulutnya tanpa bersuara, ia pun membiarkan Allura melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti tadi.


Allura menerima panggilan dari Arzan dengan segera, ia merasa tidak enak hati saat Arzan tiba-tiba menghubungi.


"Assalamualaikum, Tuan," sapa Allura begitu sambungan telepon itu ia jawab.


"Wa'alaikum salam. Kamu sedang di mana?" tanya Arzan to the point.


"Saya sedang di rumah sakit, Tuan. Untuk melihat kondisi Mama. Tadi juga saya sudah sempat berpamitan pada Nyonya Fika," jawab Allura sambil memperhatikan lorong rumah sakit yang terasa sepi.


"Jadi, Mama mengizinkan kamu pergi?" tanya Arzan dengan nada kesalnya, sampai-sampai Allura sempat menjauh ponselnya dari telinga.


"I–iya, Tuan. Nyonya Fika memberikan saya izin untuk keluar sebentar," jawab Allura pelan.


Allura bisa mendengar embusan napas berat di seberang sana, bahkan ia juga bisa mendengar suara bayi yang tengah menangis.


"Tuan, apa sekarang Bintang sedang menangis?" tanya Allura lagi.


"Hmmm, seperti yang kamu dengar," jawab Arzan dengan dingin.


Allura meringis saat mendengar nada bicara Arzan yang tidak biasa. Namun, untuk saat ini ia tidak bisa segera pulang karena belum sempat bertemu dengan Ibu Ani.


"Maaf, Tuan. Saya ... saya belum sempat bertemu Mama saya. Lagi pula tadi saya sudah menyusui Bintang sebelum pergi," ucap Allura lagi.


"Ya sudahlah, kami akan mencoba untuk menenangkannya dulu, mudah-mudahan saja Bintang tidak lama rewelnya."


"I–iya, Tuan. Kalau begitu saya tutup dulu telponnya, Assalamualaikum."


Setelah Allura mendengar jawaban salam dari sebrang sana, ia pun menutup telponnya.

__ADS_1


"Mudah-mudahan saja Bintang mau minum ASIP—ku," ucap Allura seraya memeluk ponsel yang masih ada dalam genggamannya. Namun, belum sempat ia membalikan badan, tiba-tiba suara yang amat dikenal terdengar dingin menyapanya.


"ASIP siapa, Lura?"


__ADS_2