
Kini giliran Nira yang menghadapi kemarahan Nyonya Fika, gadis itu sama sekali tidak berani menatap wajah wanita paruh baya yang berada di hadapannya. Bahkan, seandainya tidak dalam posisi duduk, kaki Nira sudah terasa lemas dan tak dapat lagi menopang berat tubuhnya.
Nira tidak menyangka jika rencananya akan gagal total dan membuat Nyonya Fika memakan makanan yang sudah dia campur dengan obat peran*sang. Tadinya makanan itu ia siapkan untuk Arzan dan ia akan memanfaatkan keadaan itu untuk membuat Arzan menyentuhnya, dengan begitu Arzan tidak akan lagi menolak dia sebagai istrinya. Namun, sekarang usahanya sia-sia dan yang lebih parahnya dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya yang sudah membuat Nyonya Fika mengalami efek dari obat itu.
"Apa yang mau kamu katakan sekarang, Nira?" tanya Nyonya Fika dengan sini sambil menatap tajam gadis di depannya.
Nira yang sudah menggigil ketakutan, langsung menjatuhkan tubuhnya di hadapan Nyonya Fika. Gadis itu bersimpuh sambil menundukkan kepalanya.
"Ma–maafkan aku, Ma–"
"Jangan berani-beraninya kamu memanggilku dengan panggilan 'Mama'. Sampai kapanpun, aku tidak akan sudi memiliki putri sepertimu!" sergah Nyonya Fika saat Nira memanggil dia dengan sebutan 'mama', sehingga membuat gadis itu menghentikan ucapannya.
"Ma–maafkan aku, Nyonya. Aku tidak bermaksud untuk memberikan obat itu padamu," jawab Nira dengan terbata-bata.
"Tentu saja kamu tidak berniat memberikannya padaku karena yang menjadi incaranmu itu adalah Arzan, anakku. Kamu berambisi untuk menjadi istrinya Arzan, dengan membuat dia menyentuhmu, sehingga membuatnya terpaksa untuk menikahimu, iya 'kan?" tanya Nyonya Fika lagi.
Nira tak mampu menjawab pertanyaan Nyonya Fika, dia hanya bisa menundukkan kepalanya karena merasa takut akan amarah dari wanita paruh baya itu. Walaupun begitu, dalam hatinya Nira sama sekali tidak menanggapi semua amarah Nyonya Fika, justru dia malah mencibirnya.
Memuakkan. Sampai kapan wanita tua itu akan terus-menerus mengoceh seperti ini? tanya Nira dalam hatinya.
Di dalam kamar tamu itu hanya ada mereka berdua, sedangkan para pengawal menunggu mereka di luar. Nyonya Fika datang ke kamar tamu itu tanpa sepengetahuan Arzan dan Tuan Anderson. Dia sudah tidak bisa membendung kekesalannya pada Nira, sehingga membuatnya menemui gadis itu.
"Kenapa kamu tidak menjawab pertanyaanku?" tanya Nyonya Fika saat Nira tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Nira bangkit dan berdiri dengan pongah di hadapan Nyonya Fika. Entah mendapat keberanian dari mana, tiba-tiba saja Nira menyerang Nyonya Fika dengan mencekiknya. Ketakutan yang sempat dia rasakan di awal tadi tiba-tiba saja menghilang, dengan bibir yang menyeringai Nira mulai mempererat cengkeraman tangannya dileher Nyonya Fika.
"Matilah kamu wanita tua! Kamu sudah menghancurkan rencanaku. Sekarang kamu juga yang harus bertanggung jawab untuk semua rencanaku yang gagal!" bisik Nira di telinga Nyonya Fika yang sedang berusaha untuk melepaskan diri dari cengkeramannya.
"Lepas ... Nira ... sakit ...." rintih Nyonya Fika sambil mencoba untuk menarik tangan Nira dari lehernya. Namun, teman Nira mencengkram begitu kuat sehingga membuatnya susah untuk lepas.
__ADS_1
Saat Nira masih berusaha untuk mempererat cekikannya, tiba-tiba pintu kamar tamu itu dibuka dengan keras oleh seseorang. Tuan Anderson membulatkan matanya saat melihat Nyonya Fika yang sedang merintih kesakitan karena cekikan Nira, ia pun segera menghampiri kedua wanita itu untuk melepaskan sang istri dari cekikan Nira.
"Lepaskan istriku, gadis gila!" seru Tuan Anderson sambil memegang tangan Nira hingga membuat gadis itu kesakitan.
"Dasar gila!" sergah Nyonya Fika.
Para pengawal yang bener keributan dari dalam kamar tamu segera menghampirinya dan membekuk Nira agar gadis itu tidak memberontak.
"Kalian yang gila!" teriak Nira lagi pada sepasang paruh baya itu.
Tak lama kemudian, Arzan datang bersama Allura. Bahkan napasnya terengah-engah akibat berlari dari ruang keluarga, mereka berdua mendengar keributan yang terjadi di kamar tamu dan hal itu membuat Arzan maupun Allura panik.
"Ma, Pa, ada apa?" tanya Arzan.
"Nyonya, Tuan, apa yang terjadi?" seru Allura dari belakang tubuh Arzan.
"Nira–" Nyonya Fika menunjuk gadis yang masih di cekal oleh para pengawalnya. "Dia sudah mencekik Mama, Zan. Dia gadis gila!"
"Nira, apa yang sudah kamu lakukan? Kamu mau membuatku malu, hah?" tegur Allura sambil menghampiri sepupunya itu.
"Cih, peduli apa aku? Suka-suka aku mau berbuat apa pun, bukan urusan kamu!" sergah Nira sambil menetapkan Allura dengan sinis.
Allura bisa melihat bara api kemarahan dari mata gadis itu. Ia pun menggeleng pelan untuk meredakan emosinya agar tidak terbawa kesal oleh sikap Nira padanya. Terdengar helaan napas panjang dari hidung mungil itu. Allura pun memilih untuk menjauh dan kembali berdiri di samping Nyonya Fika.
"Nyonya, Anda baik-baik saja 'kan?" tanya Allura pada Nyonya Fika, ia melihat tanda memar merah bekas cekikan Nira.
"Aku baik-baik saja, Lura. Kamu tidak perlu khawatir," jawab Nyonya Fika sambil mengusap lengan atas Allura. Dia merasa terharu karena melihat tatapan mata Allura yang sangat menghawatirkan keadaannya.
"Maafkan saya, Nyonya. Gara-gara sepupu saya, Anda jadi korban kekerasan dia," ucap Allura sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Sudahlah, Lura. Semua itu bukan salahmu. Ini murni kesalahan Nira sendiri," sahut Tuan Anderson saat melihat Allura yang menyalahkan dirinya.
Allura tidak menjawab ucapan Tuan Anderson, dia sebagai sepupunya Nira merasa malu atas perlakuan Nira pada Nyonya Fika. Meskipun itu tidak ada sangkut-pautnya dengan dia, tetap saja sebagai keluarga, Allura tidak bisa menampik rasa malu itu.
"Rara, sebaiknya kita pulangkan saja Nira malam ini juga, bagaimana menurutmu?" tanya Arzan pada wanita yang merupakan ibu susu dari anaknya.
"Terserah Anda saja, Tuan. Dia sudah membuat Nyonya Fika celaka, akan lebih baik jika dia segera dipulangkan," jawab Allura tanpa menatap sepupunya yang kini sedang terkejut dengan jawabannya.
"Hei, gadis udik. Aku tidak mau pulang sekarang, kamu tidak boleh membiarkanku pulang dalam keadaan seperti ini!" teriak Nira yang ditujukan pada Allura.
Allura yang hendak pergi menghentikan langkahnya, ia menatap Nira sekilas sebelum kembali berkata, "Aku tidak peduli. Pulanglah ke kampung. Dan ... jangan pernah kembali lagi."
Setelah berkata seperti itu, Allura pun pergi terlebih dulu dari kamar tamu, meninggalkan Nyonya Fika, Tuan Anderson serta Arzan yang masih di sana.
Dasar gadis si*lan. Namamu akanku jadikan buruk di mata keluarga kita yang ada di kampung, sehingga membuat mereka membencimu, batin Nira sambil punggung Allura yang mulai menjauh dari pandangannya.
.
.
.
.
.
Halo kakak-kakak, jangan bosen baca novel ku ya. 🤭🤭
mampir juga ke karya Author Rini Sya, ceritanya gx kalah seru lho 👍👍
__ADS_1