
Sepanjang perjalanan menuju rumah Ibu Ani, baik Tuan Anderson, Nyonya Fika, serta Arzan tak ada yang membuka suara. Pak Ujang yang mengantar ketiga majikannya pun merasa bingung sendiri. Pasalnya, tidak biasanya para majikannya berdiam mematung seperti saat ini. Beberapa kali Pak Ujang melirik Arzan yang duduk di samping kursi kemudi, tapi pria itu tak merasa terganggu dan sibuk memerhatikan jalanan yang sekarang mereka lewati.
Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu hampir 45 menit, akhirnya mobil keluarga Rafindra pun sampai di daerah rumah kontrakan Ibu Ani.
Di luar sana, Arzan yang pertama kali melihat Allura. Gadis itu tengah duduk dibangku panjang sambil menggoda bayi yang ada di tangannya, ada juga beberapa tetangga yang ikut duduk di sana.
Setelah mobil terhenti, ia pun segera keluar diikuti Tuan Anderson dan Nyonya Fika. Tadinya Arzan hendak menghampiri Allura, tapi Nyonya Fika langsung mencekal tangannya dan meminta dia untuk langsung masuk tanpa menemui Allura terlebih dulu.
***
Allura mengernyit sambil menyipitkan matanya, ia tak sengaja melihat sebuah mobil yang terparkir cantik di depan rumah kontrakan mamanya. Saat ini dia sedang membawa Bintang berjemur di depan sebuah lapangan voli dan jaraknya tak terlalu jauh dari rumahnya.
"Kenapa, Ra?" tanya salah satu ibu-ibu yang juga sedang menjemur bayinya di sana.
"Itu, Bu." Allura menujuk ke depan rumah kontrakannya yang kini dipakai untuk parkir mobil. "Sepertinya majikanku sudah sampai. Aku pamit lebih dulu, ya," ucapnya pada ibu-ibu itu.
"Oh, ya sudah ... kapan-kapan kita jemur bayi sama-sama lagi, ya!" seru ibu-ibu itu. Dia sudah mengetahui jika Allura adalah seorang pengasuh, jadi tidak banyak berkomentar lagi.
Setelah Allura pamit pada temannya itu, ia pun langsung bergegas menghampiri rumahnya. Allura sudah sangat merasa gelisah karena dia memastikan jika mamanya akan marah pada ketiga majikan. Namun, dia cukup terkejut saat mendapati ketiga majikannya, serta sang mama sedang duduk sambil bercengkrama menikmati kue basah yang tadi dibeli oleh Bibi Erni di pasar.
"Assalamualaikum," sapa Allura saat memasuki rumahnya.
"Wa'alaikum salam!" seru keempat orang itu dari dalam rumah.
"Kamu sudah selesai menjemur Bintang, Ra?" tanya Ibu Ani.
"Su–sudah, Ma." Bahkan, Allura menjawab pertanyaan mamanya dengan gugup karena rasa takut yang ada dalam hatinya.
Nyonya Fika dan Tuan Anderson tersenyum ramah pada Allura. Apalagi saat mereka melihat Bintang yang sedang berpenampilan polos hanya dengan berbalutkan handuk saja.
"Wah, apa cucuku baru selesai mandi?" tanya Nyonya Vika dengan girang.
"Be–benar, Nyo–"
__ADS_1
"Mama. Panggil aku dengan itu. Jika tidak, maka aku tidak akan mendengar perkataanmu," ucap Nyonya Fika sambil menghentikan perkataan Allura.
Gadis yang menjadi ibu susu Bintang itu tampak berekspresi bingung dan juga kaget, ia tidak mengetahui apa yang terjadi saat ini.
Ke–kenapa tiba-tiba suasananya menjadi seperti ini? Apa Mama tidak marah pada mereka? Dan ... kenapa Nyonya Fika memintaku untuk memanggilnya dengan sebutan Mama?
Allura terus-menerus bertanya dalam hatinya, ia merasa sedikit aneh. Bahkan, Ibu Ani pun bersikap biasa saja saat Nyonya Fika menyuruh dia memanggilnya dengan sebutan 'Mama'.
"Kamu tidak perlu bereaksi terkejut seperti itu. Cepat bagaikan Bintang baju, nanti dia kedinginan lagi!" perintah Ibu Ani saat melihat anaknya yang sedang terdiam mematung.
"Ba–baik, Ma." Allura pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar tempat dia tidur bersama Bintang. Meskipun pertanyaan yang ada dalam benaknya begitu banyak, tapi Allura tetap berusaha fokus pada pekerjaannya.
Arzan tidak mengalihkan perhatian nya sama sekali dari Allura. Pria itu sudah tak segan-segan lagi menatap Allura di depan kedua orang tuanya, serta Ibu Ani. Sampai tiba-tiba Nyonya Fika menyikut perut Arzan, barulah dia mengalihkan perhatiannya menatap sang mama.
"Kenapa Mama menyikut perutku?" tanya Arzan dengan sedikit berbisik.
"Jaga pandanganmu. Dia belum sepenuhnya hallal, untuk terus kamu tatap. Ingat itu!" tegur Nyonya Fika.
Arzan mengangguk lemah, meskipun ia sudah mengantongi restu dari Ibu Ani, tapi dia belum bisa mengambil hati Allura.
Tak lama berselang, Allura pun keluar dari kamarnya bersama Bintang yang sudah berpenampilan rapi dan wangi. Nyonya Fika pun bangkit dan segera menghampiri keduanya.
"Sini. Bintang biar Mama, kamu mandi dulu. Kita pulang sekarang!" perintah Nyonya Fika.
"Ta–tapi." Allura melirik Ibu Ani yang sedang menatapnya dan beliau hanya mengangguk samar. Setelah melihat anggukan mamanya, allura pun menuruti perintah Nyonya Fika.
"Ba–baik, M–ma," jawab Allura dengan gugup. Bahkan, Tuan Anderson dan Arzan tertawa kecil sambil membuang pandangannya ke arah lain, saat melihat kegugupan yang melanda Allura ketika memanggil Nyonya Fika dengan sebutan 'Mama'.
Imutnya calon Mama Bintang, batin Arzan sambil menipiskan bibirnya.
Allura pun kembali pamit masuk kamar, setelah menyerahkan Bintang ke tangan Nyonya Fika. Dia hanya mengambil handuk dan baju ganti untuk di bawanya ke kamar mandi yang ada di ruang dapur.
Langkah Allura terus diikuti oleh tatapan Arzan. Pria itu tak sekalipun mengalihkan pandangannya dari gadis yang kini mengisi kekosongan dalam hatinya. Meskipun Arzan cukup sulit untuk mendapatkan hati Allura, tapi dia tidak akan menyerah begitu saja.
__ADS_1
Setelah Allura selesai mandi dan bersiap pulang ke rumah majikannya, Allura menyempatkan diri untuk menemui mamanya yang berada di dalam kamar terlebih dulu.
"Ma," sapa Allura saat melihat Ibu Ani sedang duduk di bibir ranjang.
"Iya, Ra. Ada apa?" tanya Ibu Ani sambil tersenyum lembut pada putri tercintanya.
"Ma–maaf sebelumnya. Aku ... aku hanya ingin bertanya. Apa ... apa Mama tidak marah?" tanya Allura dengan terbata-bata.
Ibu Ani tampak mengerutkan keningnya saat mendengar pertanyaan Allura. "Kenapa Mama harus marah padamu?" tanyanya dengan tangan terulur, mengusap surai hitam milik Allura.
"Bukan. Apa Mama tidak marah pada Nyonya Fika, Tuan Anderson, dan Tuan Arzan?" tanya Allura dengan polosnya.
"Tidak, Lura. Mama sudah tidak mempermasalahkannya lagi. Apalagi, mendiang Papa pernah menitipkanmu kepada mereka. Hanya saja ... Mama tidak akan memaksa kamu untuk menikah dengannya. Semua keputusan ada di tanganmu. Kamu berhak memilih, dengan siapa kamu akan melangkah di masa depan nanti," jawab Ibu Ani sambil tersenyum tipis pada anak gadisnya.
Allura masih terdiam dan tidak mengerti dalam ucapan mamanya. Dia masih mencoba untuk mencerna perkataan yang disampaikan oleh sang mama.
"Maksud Mama apa?"
"Sudahlah .... Kamu jaga diri baik-baik di sana. Sekarang Mama sudah tenang karena ada yang membantuku untuk menjagamu dari orang-orang jahat," ujar Ibu Ani sambil menurunkan tangannya dari kepala Allura.
.
.
.
.
.
.
Halo lagi Kakak-kakak 👋👋👋 Masih sabar 'kan tunggu up ini? 🤭🤭 Maaf, lagi-lagi menggantung 🙏🙏 Tadinya mau up 2 bab sekaligus, tapi ... gak jadi 🤭🙏🤭🙏 Biar nanti siang aja, ya 😁😁. Sambil nunggu, baca rekomendasi novel hari ini yu 🤗🤗 👇👇👇 Ceritanya juga bagus lho 😎👍😎👍
__ADS_1