
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Ibu Ani menuju kediaman keluarga Rafindra, Allura tidak henti-hentinya menanyakan tentang kedatangan mereka tadi pagi. Namun, tak ada satupun dari anggota keluarga itu yang mau menceritakannya.
Kenapa semua orang memilih untuk menutup mulut mereka? Aku jadi penasaran sendiri. Apa yang sebenarnya sudah mereka katakan pada Mama? tanya Allura dalam hatinya.
Sesampai di rumah, Arzan segera membukakan pintu keluar untuk Allura. Mereka masuk lebih dulu tanpa menunggu Nyonya Fika dan Tuan Anderson yang masih berada di belakangnya.
"Tu–"
"Mas. Aku tidak ingin kamu memanggilku dengan panggilan itu!" seru Arzan memperingatkan Allura lagi.
Allura mendengus kasar setelah mendengar peringatan Arzan. Gadis itu segera mendudukan tubuhnya di sofa sesampai di ruang keluarga. Arzan meminta Bi Endah untuk membuat kan mereka minuman. Tak lama berselang, Nyonya Fika dan Tuan Anderson pun datang menghampiri mereka. Mereka menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum tipis saat melihat wajah Allura yang ditekuk karena kesal.
"Kamu kenapa, Ra? Wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Nyonya Fika pada calon menantunya.
Allura menarik napas panjang sebelum kembali mengeluarkannya perlahan. "Sebenarnya ... saya ... saya masih penasaran kenapa sikap Mama berubah tadi pagi. Padahal, beliau sudah mengetahui tentang pekerjaanku yang merupakan ibu susu untuk Bintang," tuturnya sambil menundukkan kepala.
Arzan tersenyum, dia mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Allura yang masih menggendong Bintang.
"Kamu tidak perlu khawatir, Ibu Ani sekarang sudah merestui hubungan kita. Bahkan, beliau juga memintaku untuk menjagamu," jawab Arzan.
Allura menegakkan duduknya dan menatap pria yang merupakan ayah dari bayi yang ia susui.
"Maksud Anda apa, Tu–" Arzan langsung menatap Allura ketika gadis itu hendak memanggilnya dengan kata 'Tuan'.
Allura meringis saat mendapati Arzan yang menatapnya dengan tajam. Gadis itu pun segera meralat kembali ucapannya.
"Maksud Anda apa, M–mas?" tanya Allura dengan nada yang pelan.
__ADS_1
Tuan Anderson menipiskan bibirnya ketika melihat Allura yang tertekan karena ulah anaknya.
"Zan, kamu jangan terlalu kasar seperti itu pada Allura. Jika kamu terus menekannya, maka Papa akan mencabut restu untuk kamu," ancam Tuan Anderson yang langsung membuat Arzan kembali mendengus pelan.
Diam-diam Allura tersenyum kecil, dia merasa sangat senang ketika Arzan mendapatkan teguran dari orang tuanya.
Wah, sepertinya sekarang Tuan Anderson pun bersikap baik padaku, batinnya sambil tersenyum.
"Maaf, Pa."
"Sudah, sudah ...." Nyonya Fika langsung menghentikan perdebatan antara Tuan Anderson dan juga Arzan.
"Allura, sebenarnya saat kami tiba di rumah Mamamu, beliau sangat marah dan hampir tidak mau menerima kedatangan kami. Tapi, setelah kami meminta waktu serta menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, barulah beliau mengerti dan mempersilakan kami untuk masuk ke rumahnya," tutur Nyonya Fika.
Allura sama sekali tak menyela ucapan Nyonya Fika, gadis itu hanya diam dan duduk manis tanpa menunjukkan reaksi apapun. Setelah melihat Allura yang masih memperhatikannya, Nyonya Fika pun kembali melanjutkan perkataannya.
"Kami juga menjelaskan tentang rencana perjodohan yang pernah diucapkan oleh mendiang Papamu ... dan hasilnya cukup mengejutkan, ternyata Papamu tidak pernah menceritakan rencana itu pada Mamamu. Arzan dan Papa Anderson cukup lama berusaha untuk meyakinkan Mamamu. Tapi Alhamdulillah, sekarang beliau telah mempercayakan kamu pada kami. Kami juga sudah berjanji akan selalu menjagamu dari orang-orang yang berniat jahat padamu," sambung Nyonya Fika yang langsung diangkut oleh Arzan serta Tuan Anderson.
Allura merasa terharu setelah mendengar cerita dari Nyonya Fika, ia bersyukur karena mamanya tidak sampai kambuh lagi penyakitnya.
"Iya, Rara. Aku janji, aku akan selalu menjaga dan melindungi kamu," ucap Arzan sambil menatap lekat gadis di sampingnya.
Allura menunduk sambil menatap bayi yang masih terlelap dalam pangkuannya, begitu banyak perasaan yang bercampur aduk dalam hatinya.
Bolehkah aku sesenang ini? Mama sudah mempercayakan aku pada keluarga ini. Apa ini berarti aku tidak akan berpisah dengan Bintang? Syukurlah ... , batin Allura.
Namun, hatinya belum sepenuhnya tenang. Mereka tidak mengetahui jika Allura baru saja menerima sebuah ancaman dari seseorang, yang mana hal itu sedikit membuat nyali Allura sedikit menciut. Padahal, seingatnya dia tidak mempunyai musuh, kecuali Dewi yang tak pernah menyukainya.
__ADS_1
Arzan, Tuan Anderson dan nyonya Fika merasa sedikit heran karena melihat Allura yang tidak terlalu antusias setelah mendengar cerita dari mereka.
"Kamu kenapa, Allura?" tanya Tuan Anderson saat melihat Allura yang tak kunjung mengangkat kepalanya.
Saat Allura hendak menjawab pertanyaan Tuan Anderson, tiba-tiba ponselnya kembali berdering dan mengalihkan perhatiannya. Mata Allura kembali membulat sempurna ketika ia membaca pesan dari seseorang yang menyuruhnya untuk pergi dari sana.
"Ma–maaf. Saya ... saya pamit ke kamar untuk menidurkan Bintang," ucap Allura dengan terburu-buru, ia langsung bangkit tanpa menunggu jawaban dari ketiga orang yang masih duduk di sana.
"Allura kenapa ya, Pa?" tanya Nyonya Fika saat melihat gelagat aneh yang ditunjukkan oleh Allura.
"Papa juga tidak tahu, Ma."
Ketiga orang itu pun kembali terdiam sambil memperhatikan pintu kamar Allura yang sudah tertutup rapat.
Sepertinya ada yang tidak beres dengan Allura, gumam Arzan.
.
.
.
.
.
Wah, kira-kira siapa tuh 🤔 sambil tunggu, baca rekomendasi novel karya dari Kak Author Erma_roviko, judulnya 'Sekretaris VS MR. Arrogant'.
__ADS_1
...Ini dia 👇👇👇...