Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 59


__ADS_3

Arzan masih mematung sejak beberapa saat lalu, ia masih belum sadar jika Allura sudah pergi dari hadapannya, hingga sebuah tepukan di bahu menyadarkannya dari lamunan.


"Tuan, maaf mengganggu. Apa yang akan kita lakukan pada Nona Nira selanjutnya?" tanya salah satu pengawal yang tadi berdiri di depan pintu kamar tamu.


Seakan tersadar dari lamunan, Arzan lantas menggeleng dan menghela napas sesaat. Perkataan yang tadi Allura ucapkan cukup membuatnya tersentak, ia tidak menyangka gadis itu akan menolaknya langsung seperti tadi.


Hah, mungkin aku sedikit berlebihan karena mengucapkan hal itu secara tiba-tiba, batinnya seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Sedangkan pengawal tadi masih setia menunggu jawaban dari tuannya.


"Tunggu keputusan Mama dan Papa saja, sepertinya Allura tidak berminat untuk menghukum sepupunya," jawab Arzan pada pengawal itu. Setelah berkata seperti itu, Arzan pun berlalu dari sana dan menuju kamarnya sendiri di lantai atas.


Bagaimana bisa Allura menolak perjodohan ini? Apakah dia sudah mempunyai kekasih di luaran sana? Atau .... Arzan terus membatin dengan semua perkiraan-perkiraannya, walau bagaimanapun kata-kata Allura cukup membuat jiwa laki-lakinya terluka.


Allura sendiri memilih untuk melupakan perkataan Arzan tadi. Ya, dia tak meu menanggapinya dengan serius. Allura sudah yakin, jika memang Arzan jodohnya, meu sekuat apapun dia menolak, ujungnya pasti akan tetap bersamanya.


Allura kembali ke kamarnya untuk menemui Bintang yang ia tinggalkan sendirian dalam box bayi. Sesampai di sana, ternyata bayi itu masih tidur lelap. Allura pun memilih untuk membiarkannya, sementara ia berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa sangat lengket.


***


Tuan Anderson dan Nyonya Fika sampai di rumah saat hari sudah sore. Nyonya Fika masuk ke rumahnya dengan perasaan yang campur aduk. Dia merasa malu dan juga marah pada Nira. Gara-gara gadis itu, Nyonya Fika dan Tuan Anderson harus mampir ke hotel terdekat karena keadaan darurat dan saat ini tubuhnya terasa sangat lelah akibat pergulatan tadi.


"Arzan, mana gadis itu?" tanya Nyonya Fika saat melihat sang anak yang tengah bermain dengan Bintang.

__ADS_1


"Siapa, Ma?" tanya Arzan merasa sedikit bingung karena di rumahnya ada dua gadis.


"Tentu saja Nira. Di mana dia? Rasanya Mama mau mencakar wajah jeleknya," jawab Nyonya Fika dengan napas yang menggebu-gebu. Tuan Anderson terus mengusap punggung sang istri untuk menenangkannya.


"Sabar, Ma."


"Mama tidak bisa sabar lagi, Pa. Dia sudah sangat keterlaluan. Untung saja Mama yang memakan makanan itu karena lapar. Coba Papa bayangkan apa yang akan terjadi kalau misalkan Arzan yang memakan makanan itu! Benar-benar murahan dia." Nyonya Fika terus memaki-maki Nira atas perbuatan gadis itu sendiri.


Arzan masih terus mendengarkan ocehan sang mama karena ia belum mengerti kemana arah pembicaraan mamanya itu.


"Pa, Mama kenapa?" tanya Arzan yang memilih untuk bertanya pada Tuan Anderson. Nyonya Fika tak akan mau menjawab pertanyaan Arzan karena masih diliputi rasa kesal dalam hatinya.


"Nira, mencampur makanan yang dibawanya dengan obat peran*sang, Zan. Dan ... Mamamu tadi yang memakannya di mobil saat Papa menjemputnya. Untung saja efeknya tidak cepat, mungkin kalau efeknya cepat Mamamu sudah dibuat malu di depan umum," jawab Tuan Anderson dengan serius. Dia sendiripun masih merasa sangat kesal dengan perlakuan Nira yang sangat nekat seperti itu.


Arzan membulatkan matanya setelah mendengar jawaban sang papa, dia tidak tahu harus berkata seperti apa lagi. Tindakan Nira benar-benar sudah keterlaluan, Arzan mengetahui gelagat Nira yang mencurigakan dengan membawakannya makanan, maka dari itu dia memilih untuk tidak memakannya. Namun, siapa sangka jika ternyata malah mamanyalah yang memakan makanan itu.


"Bukankah tadi aku sudah memperingatkan Papa, agar membuang makanan itu?" tanya Arzan dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Papa tidak berpikiran ke sana, Zan. Apalagi Papa tahunya dia hanya gadis kampung yang tidak mungkin mengetahui informasi-informasi seperti itu. Tapi ternyata ... dia tidak ada bedanya dengan gadis di sini. Untung saja bukan dia yang akan menjadi menantuku," jawab Tuan Anderson sambil mengalihkan pandangannya dari sang anak.


Arzan tersenyum tipis saat mendengar jawaban sang papa, dia belum mengetahui jika Allura juga menolak untuk dijodohkan dengannya. Saat tadi Arzan sengaja mengambil Bintang di kamarnya pun, Allura tidak menatap atau bersikap manis. Gadis itu juga hanya berbicara seperlunya saja.

__ADS_1


"Kenapa kamu diam saja, Zan?" tanya Tuan Anderson saat melihat tatapan kosong dari mata sang anak.


"Aku ... aku tidak apa-apa, Pa," jawab Arzan yang kembali fokus pada Bintang.


"Apa Allura menolakmu?" tebak Nyonya Fika.


Tuan Anderson bungkam sesaat, sebelum ia tertawa lepas kemudian. Arzan sendiri hanya mendengus kesal saat sang papa menertawakannya. Tidak hanya Tuan Anderson yang menertawakannya, tapi juga Nyonya Fika pun sama halnya turut menertawakan sang anak. Lagi-lagi Arzan mendengus kasar.


"Bi, lihat ... bagaimana Papamu yang tampan ini ditertawakan oleh Opah dan Omahmu. Kamu harus bantu Papa untuk mendapatkan hati Mama Rara, ya." Arzan memilih untuk mengadu pada Bintang, tingkahnya membuat Tuan Anderson dan Nyonya Fika menggeleng pelan.


"Usaha lebih keras lagi, Zan!" Tuan Anderson menepuk pundak sang anak beberapa kali, sebelum ia pergi dari sana menuju kamarnya bersama sang istri, Nyonya Fika.


Arzan tersenyum kecil lagi saat ia mendapat kata-kata semangat dari papanya. "Opah saja menyemangati Papa, kamu juga harus, ya!" pintanya lagi pada Bintang.


Allura yang tadinya hendak menghampiri Arzan bersama Bintang, mengurungkan niatnya saat mendengar perkataan yang diucapkan papa pada anaknya itu. Gadis itu tersenyum dan menggeleng pelan.


"Ada-ada saja," gumam Allura.


Halo Kakak semua, author ada bawain rekomendasi novel lagi nih 😁 jangan lupa mampir ke karya temanku yang ini 👇👇👇 ceritanya juga nggak kalah bagus loh 👍


__ADS_1


__ADS_2