Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 105


__ADS_3

Hari menjelang sore. Seorang wanita nekat menyelinap masuk ke halaman belakang rumah Keluarga Rafindra. Penampilannya tak jauh berbeda dengan para pekerja rumah itu yang rata-rata memakai seragam. Wanita itu adalah Rivera, dia berniat untuk membawa Bintang kabur bersamanya. Rivera memanfaatkan penjaga yang lengah karena para pemilik rumah tidak ada di sana.


Sepertinya aman. Tidak sia-sia kemari hari ini, gumamnya sambil membuka pintu belakang rumah itu.


Rivera berbaur dengan para pelayan lain yang sama-sama memakai masker sepertinya. Di sana, tak ada seorang pun yang menyadari keberadaannya hingga membuat dia leluasa bergerak dan mengamati keadaan sekitar. Setelah melihat Bintang yang sedang bersama salah satu pelayan kepercayaan keluarga Rafindra, Rivera pun mulai menjalankan aksinya. Dia mengatakan pada Bi Endah, jika tuan rumah sebentar lagi pulang dan memintanya untuk segera menyiapkan makanan, sedangkan dia yang akan membantu menjaga anak majikannya. Lantas, Bi Endah pun mengangguk serta menyetujui permintaan wanita itu.


Cih, mudah sekali untuk mengelabui wanita tua itu. Kalau seperti ini, aku akan mudah menculiknya, batin Rivera sambil menyeringai tipis dibalik masker yang ia kenakan.


Rivera menggendong Bintang dengan terburu-buru, ia juga tidak membawa stok ASIP untuk bayinya karena berpikir dia tidak akan memerlukannya. Rivera kembali mengamati sekitar, sebelum akhirnya ia pergi dari rumah itu.


Saat sudah di persimpangan jalan, Rivera melihat Bi Endah yang sedang berjalan menuju rumah majikannya. Wanita itu segera mengambil balok kayu yang ada tak jauh dari sana. Rivera bersembunyi lebih dulu sebelum akhirnya ia memukul wanita paruh baya itu.


Setelah memastikan Bi Endah pingsan, Rivera segera kabur membawa Bintang di tangannya. Dia berharap mendapatkan sejumlah uang dari keluarga mantan suaminya, atau dia akan kembali meminta Arzan menikahinya lagi.


"Menyusahkan sekali bayi ini!" gumamnya sambil membenarkan posisi gendongan Bintang.


"Eh, tunggu. Nama bayi ini siapa, ya? Lumayan lucu juga. Kira-kira kalau dijual, laku berapa ni anak?" sambung Rivera lagi.


Rivera membawa Bintang ke rumah kontrakannya, dia sudah benar-benar tidak mempunyai apapun saat ini. Tak ada lagi tas branded atau gaun indah, yang ada hanya baju daster dan sendal jepit yang ia kenakan. Kehidupan wanita itu berubah 180° dari asalnya. Bahkan, orang tuanya juga sudah tidak mempedulikan dia lagi semenjak Rivera memilih bercerai dengan Arzan.


"Akhirnya ... sampai juga di rumah," gumam Rivera seraya menidurkan Bintang di atas kasur lantainya.


Bintang yang sedari tadi terlelap pun, kini bangun dan menangis. Rivera jangan cepat menyiapkan susu formula murah yang beli tadi sewaktu pulang ke rumahnya. Bahkan, wanita itu juga memberikan susu formula tanpa merebus botolnya terlebih dulu.


"Kamu tidak perlu menangis. Nih, pegang botolnya sendiri. Jangan manja, aku tidak suka anak manja sepertimu," ucap Rivera sambil memberikan botol susu dingin pada Bintang.


Awalnya bayi itu menolak, tapi mungkin karena sudah terlalu lapar, jadi dia Bintang pun menerimanya. Hingga tak lama kemudian, tiba-tiba Bintang terbatuk-batuk dan menangis kencang membuat Rivera kewalahan.


"Heh, kamu kenapa menangis seperti ini? Jangan menyusahkanku!" bentak Rivera yang semakin membuat Bintang menangis kencang.


Para tetangga yang merasa curiga pun lantas menghampiri kontrakan Rivera.

__ADS_1


"Vera, itu bayi siapa? Kenapa kamu membiarkan dia menangis seperti itu?" tanya salah satu tetangga Rivera yang menempati rumah kontrakan sebelahnya.


"Ini ... ini ...." Rivera tergagap saat mendapat pertanyaan seperti itu, tak ada satu pun tetangganya yang mengetahui jika dia adalah ibu dari bayi itu.


"Bayi siapa, Vera? Tunggu, apa kamu baru saja menculiknya? Wah ... wah ... wah ... parah kamu, Pak Maman bisa marah kalau tahu kamu membawa bayi orang lain," cecar tetangga Rivera lagi.


"Tidak. Aku ... aku tidak menculiknya. Bayi ini ... bayi ini milik ... milik temanku. Ya, temanku menitipkannya karena dia sekarang sedang pulang kampung," jawab Rivera terbata-bata.


Tetangga itu mengernyitkan keningnya saat mendengar jawaban Rivera yang tidak masuk di akal. Mana ada orang yang pulang kampung meninggalkan anggota keluarganya di sini bersama orang lain, batinnya.


"Kamu kira kami akan mempercayainya? Cepat katakan! Bayi itu milik siapa? Kasihan dia menangis seperti itu," kata tetangga itu lagi.


"Tidak. Ini benar-benar anak temanku, aku hanya sedang menjaganya sa–"


"Jangan bohong, kamu! Mana ada orang tua yang tega meninggalkan anaknya bersama orang lain, sementara mereka pulang kampung." Tetangga itu mencoba untuk mengambil alih bayi yang ada di tangan Rivera, tapi bisa dihalangi oleh wanita itu.


"Ja–jangan ambil anak ini. Anak ini adalah jaminan masa depanku!" Rivera pergi membawa Bintang di tangannya, sedangkan bayi itu bertambah menangis.


"Hei, ada apa denganmu? Kenapa tubuhmu berbintik menj*jikkan seperti ini?" tanya Rivera pada Bintang.


Bayi itu tak menanggapinya dengan apapun, dia hanya menatap sayu orang yang sudah melahirkan.


Gawat kalau sampai terjadi sesuatu pada bayi ini, pasti harganya akan menurun drastis. Kalaupun Arzan tahu, dia pasti akan sangat marah padaku, batin Rivera sambil terus memperhatikan wajah Bintang yang sudah penuh dengan bintik.


"Akh, menyusahkanku saja." Rivera bangkit sebelum akhirnya dia kembali melanjutkan perjalanan menuju Puskesmas terdekat di sana. Setidaknya dia masih punya rasa perikemanusiaan untuk membawa Bintang berobat.


Sesampainya di Puskesmas, Rivera segera mendaftarkan Bintang di bagian pemeriksaan anak. Karena waktu sudah petang, jadi yang ada di sana hanya dokter umum saja.


"Silakan tidurkan bayinya di sini, Bu." Dokter itu meminta Rivera untuk memberikan Bintang di atas brankar. Rivera menuruti perkataan dokter itu.


Betapa terkejutnya sang dokter ketika melihat kondisi Bintang yang sudah sangat lemah, ditambah bintik pada tubuh bayi itu yang semakin banyak.

__ADS_1


"Ibu, ada apa ini? Kenapa anaknya bisa sampai seperti ini?" tanya dokter itu sambil memeriksa bayi lemah yang ada di hadapannya.


"Saya ... saya tidak tahu apa-apa, Dok. Ta–tadi saya hanya memberikan sebotol susu formula untuknya karena dia terus menangis," jawab Rivera dengan wajah yang sudah gelisah.


Dokter itu terdiam dan mengalihkan perhatiannya pada wanita yang ada di sampingnya, dia mencoba untuk mengingat-ingat pemilik wajah familiar di depannya. Beberapa bulan lalu Rivera sangat terkenal, jadi orang-orang tak mungkin mudah melupakan wajahnya.


"Tunggu, apa Anda Rivera yang mantan model terkenal itu?" tanya sang dokter setelah ia mengingatnya.


"Bu–bukan, saya bukan Rivera yang itu. Nama saya hanya Vera saja," kilah Rivera sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


"Benarkah? Lalu, siapa pemilik dari bayi ini yang sebenarnya. Tidak mungkin jika ada orang tua kandungnya, penyakit ini datang tiba-tiba sebab alergi protein susu sapi. Apa Anda tidak mengetahuinya?"


Rivera terdiam, wanita itu mematung seketika setelah mendengar pernyataan dokter yang sedang memeriksa Bintang. Dia tidak mengetahui tentang anaknya sama sekali. Namun, hal itu tidak membuatnya merasa bersalah. Justru, Rivera semakin yakin akan menjual Bintang jika Arzan tidak mau kembali lagi padanya.


"Saya tidak tahu apa-apa, Dok. Lagi pula itu bukan anakku," Jawa brivera dengan acuh.


Tanpa sepengetahuan Rivera, dokter itu sudah menghubungi pihak kepolisian karena sejak kedatangannya tadi, dia sedikit curiga pada Rivera.


"Syukurlah jika bayi ini bukan milik Anda. Saya akan merawatnya sementara di sini sampai keadaannya lebih baik." Dokter itu mulai mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi dokter anak kenalannya.


Lagi-lagi Rivera mengedikkan bahunya seakan tidak peduli dengan apa yang tengah dokter itu lakukan. Bahkan wanita itu tak sedikit pun menunjukkan wajah khawatir pada darah dagingnya sendiri.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Rekomendasi Novel kakak-kakak 🤗🤗🤗


Jangan lupa mampir, ya ☺️


...Nah, ini dia 👇👇👇


__ADS_1


...


__ADS_2