
Hari ini Arzan berniat untuk pergi ke suatu tempat setelah pulang bekerja, ia pulang diantar bersama Edwin yang menyopirinya mobil. Edwin sedikit mengerutkan keningnya, ia merasa heran karena atasannya meminta dia untuk mengantarkan ke rumah sakit tempat dimana Arzan pernah dirawat akibat kecelakaan yang pernah menimpanya.
"Tuan, kenapa kita datang kemari? Apakah ada efek samping akibat benturan yang Anda alami saat itu?" tanya Edwin dengan sedikit khawatir.
Saat ini, mereka baru saja sampai di pelataran rumah sakit, Arzan enggan menjawab pertanyaan Edwin. Setelah mobil berhenti di depan lobby, pria itu segera turun tanpa menghiraukan asistennya yang menggerutu pelan.
"Dasar, kebiasaan yang buruk," gumam Edwin sambil melajukan mobilnya ke tempat parkiran.
Semenjak Pak Ujang pulang kampung beberapa hari yang lalu, Edwin—lah yang menjadi sopir untuk Arzan. Setelah mobilnya terparkir sempurna, Edwin pun lantas menyusul Arzan yang sudah berada di ruangan Dokter Nandi. Beruntung ia sempat membaca pesan yang dikirimkan oleh Arzan padanya, jadi ia hanya tinggal menyusulnya saja.
Dari kejauhan, Edwin bisa melihat Arzan yang baru masuk ke dalam ruangan Dokter Nandi.
"Kenapa kamu lambat sekali?" tanya Arzan pada sang asisten, yang kini sudah masuk di ruangan Dokter Nandi.
Edwin yang ditegur seperti itu hanya bisa menundukkan kepalanya, entah kenapa kebiasaan lama Arzan yang selalu menyalahkan seseorang masih melekat pada pria itu. Akan tetapi, itu hanya berlaku bagi bawahannya saja, bukan pada Allura tentunya.
"Maaf, Tuan," jawab Edwin. Huh, padahal dia sendiri yang meninggalkanku, gerutunya dalam hati.
"Hei, aku mendengar suara hatimu!" sergah Arzan yang langsung membuat Edwin terkesiap kaget.
Lagi-lagi Edwin mengangguk cepat sambil menunduk. "Maaf, Tuan," ucapnya lagi.
Setelah Dokter Nandi mempersilakan Arzan untuk duduk di sofa ruang kerjanya, mereka pun mulai dengan pembicaraan.
"So, what brought you here?" tanya Dokter Nandi. Pasalnya, kemarin pagi Arzan tiba-tiba mengajaknya untuk bertemu, tapi pria itu tidak mengatakan alasannya.
"Aku ... aku ingin bertanya tentang orang yang sudah menyelamatkanku dari kecelakaan dan membawaku kemari, apa kamu mengetahui siapa orangnya?" tanya Arzan.
Dokter Nandi memicingkan mata sambil mengangkat sebelah alis, saat mendengar pertanyaan dari sahabat lamanya.
__ADS_1
"Bukankah waktu itu kamu menolak untuk mengetahuinya? Kenapa sekarang kamu menjadi dia?" tanyanya seraya menatap lurus Arzan.
"Hmmm, tadinya kupikir orang itu akan menemuiku sendiri. tapi ternyata, sampai saat ini aku bahkan belum mengetahui apakah dia wanita atau laki-laki. And … it made me think about it a bit," jawab Arzan dengan acuh, ia tidak menanggapi tatapan Dokter Nandi padanya.
Dokter Nandi mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali saat mendengar alasan Arzan. "Oh, jadi karena itu kamu ingin mengetahuinya?" tanyanya lagi.
"Hmmm, barangkali kamu tahu alamat rumah, namanya atau bahkan telponnya?"
Dokter Nandi terkekeh pelan saat mendengar pertanyaan Arzan. "Hei, aku ini Dokter Umum. Bukan bagian pencatatan informasi!" tanggapnya.
Ucapan Dokter Nandi membuat Edwin ikut tertawa pelan, pria itu kini sedang duduk di samping atasannya. Namun, tawanya itu tidak berlangsung lama setelah menerima tatapan maut dari Arzan. Akhirnya Edwin pun menghentikan tawanya dan mengangguk kepala, untuk meminta maaf.
"Ck, aku serius, Nan!" sergah Arzan yang mulai merasa kesal pada Dokter Nandi.
"Oke, oke, forgive me. Aku tidak tahu namanya, hanya saja dia seorang perempuan. Dia adalah anak dari salah satu pasien di sini yang mengidap penyakit jantung," terang Dokter Nandi.
"Hmmm, apa kamu mengetahui siapa nama ibunya? Aku akan menemuinya untuk mengucapkan terima kasih," tanya Arzan lagi. Tidak apa-apa jika aku hanya bertemu dengan salah satu anggota keluarganya, yang penting aku bisa membalas budi atas kebaikannya, batinnya.
"Bukankah kelas itu berisikan tujuh sampai delapan pasien per kamar?" tanya Arzan yang sedikit merasa aneh.
"Hmmm, benar. Dia salah satu pasien dari kalangan menengah kebawah," jawab Dokter Nandi.
Edwin sedari tadi hanya terdiam dan menyimak obrolan kedua sahabat itu. Ia tidak berani menyala atau pun bertanya banyak hal mengenai urusan atasannya.
"Oh, baiklah. Siapa yang menangani beliau?" tanya Arzan lagi.
"Dokter Hendra. Kamu bisa menanyakan padanya."
"Tidak, aku hanya perlu bantuanmu saja."
__ADS_1
Lagi-lagi Dokter Nandi memicingkan matanya sesaat, sebelum kembali menegakkan tubuhnya, ia cukup dibuat terkejut, tidak biasanya seorang Arzan akan meminta bantuannya. "What can I do for you?"
"Urus semua hal tentangnya, berikan dia perawatan terbaik, serta pindahkan dia ke ruang VIP nanti aku akan menemuinya di sana," perintah Arzan.
"Hei, aku ini dokter umum di sini. Kamu 'kan bisa meminta Edwin untuk mengurusnya." Dokter Nandi mulai menggoda Arzan dengan menolak permintaan pria itu, sebenarnya ia cukup terkejut saat Arzan memintanya untuk menangani pasien yang bernama Ibu Ani. Lagi-lagi itu adalah hal tidak biasa dari seorang Arzan yang terkenal sedikit tempramental.
"Sudahlah. Jangan banyak bertanya! Lakukan saja permintaanku! Jika tidak, maka aku akan meminta kepala atasanmu untuk memindahkanmu ke daerah pelosok," ancam Arzan yang langsung membuat Dokter Nandi terkesiap kaget.
"Hei! Kenapa kamu selalu mengancamku seperti itu?" tanyanya sambil mendengus kesal.
"Uang dan kekuasaan bisa melakukan semuanya dengan mudah," jawab Arzan sambil menyunggingkan senyuman tipisnya.
Dokter Nandi mendengus kesal setelah mendengar jawaban dari Arzan. Benar-benar pria arogan, batin Dokter Nandi sambil mendelik tajam pada orang didepannya.
"So, do you want to help me to do it?"
"Can I refuse your wish?" tanya Dokter Nandi dengan kesal.
Arzan menggelengkan kepalanya. "Kamu tidak mempunyai alasan untuk melakukan hal itu."
Embusan napas kasar dan berat terdengar keluar dari hidung Dokter Nandi. Kesal, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. "Lalu, untuk apa kamu menanyakannya?"
Arzan terkekeh pelan sambil menggeleng, saat melihat Dokter Nandi yang kesal padanya. Meskipun begitu, kedua sahabat itu tetap akur dan tidak pernah saling menjauh.
"Oke, kalau kamu sudah mengerti dengan keinginanku, aku pamit sekarang. Kabari aku, jika kamu sudah selesai melakukannya. Dan ... jangan lupa carikan pendonor untuknya, aku yang akan membiayai semua perawatannya," ucap Arzan sambil bangkit dari duduknya.
"Apa kamu tidak berniat untuk menemuinya?"
"Tidak, aku akan datang lagi jika beliau sudah sembuh. Usahakan Dokter terbaik yang menanganinya. Aku merasa berhutang nyawa pada orang yang sudah menyelamatkanku," pesan Arzan sebelum ia pergi dari hadapan Dokter Nandi.
__ADS_1
Setelah urusannya di rumah sakit selesai, Arzan pun meminta Edwin untuk mengantarkannya pulang. Hatinya sudah sangat merindukan malaikat kecil yang selalu menanti kedatangannya di rumah.