Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 102


__ADS_3

"Ijinkan aku menikahkan Allura," pinta Tuan Okta tiba-tiba. Satu hal yang dia inginkan, yaitu menjadi wali nikah untuk cucunya menggantikan almarhum sang anak.


Ruangan itu mendadak sunyi seketika setelah Tuan Okta mengajukan keinginannya. Baik Arzan, Allura dan Ibu Ani masih mencoba mencerna permintaan pria paruh baya itu.


"Ma–maksud Kakek apa?" tanya Arzan setelah beberapa saat terdiam.


"Menikahlah dengan Allura, Nak. Kakek yakin kamu bisa menjaganya," jawab Tuan Okta dengan suara pelan.


"Tapi, Kek–"


"Menurut saja, Nak. Ibu menyetujui permintaan Kakeknya Allura," ucap Ibu Ani menghentikan perkataan Arzan. "Lura, apa kamu keberatan?" Kali ini pertanyaan itu dilayangkan untuk Allura.


Allura terdiam saat Ibu Ani bertanya padanya, gadis itu menatap satu-persatu anggota keluarganya yang ada di sana. Dalam hatinya, Allura merasa sedikit sedih dan bingung. Bukan dia tidak ingin menikah dengan Arzan, tapi dia ingin menikah secara wajar, tidak terpaksa seperti ini.


Tuan Okta melirik sang cucu yang masih bergeming di sampingnya, dia tahu jika Allura mungkin tidak akan menyetujui keinginannya.


"Kalau kamu merasa keberatan, tidak perlu memaksakan diri, Lura. Tadinya Kakek hanya ingin menggantikan kewajiban Papamu sebagai wali nikah. Tapi, jika kamu belum siap, tidak apa-apa ...," ucap Tuan Okta. "Hanya saja ... Kakek minta maaf karena mungkin aku tidak akan hadir di pernikahanmu nanti," sambungnya lagi.


Allura menggeleng pelan, ia berusaha untuk menampik ucapan sang kakek. "Tidak, Kek. Kakek jangan berbicara seperti itu. Lura ... Lura bersedia untuk mengikuti keinginan Kakek. Tapi, setelah ini ... Kakek harus kembali sehat."


Tuan Okta hanya tersenyum tipis saat mendengar jawaban Allura. Dia tidak bisa menjanjikan apapun kedepannya karena saat ini dirinya sudah sangat lemah.


Ya Tuhan ... berikan aku waktu sebentar lagi .... Aku hanya ingin memastikan cucuku akan hidup dengan aman dan berada bersama orang-orang yang tepat, batin Tuan Okta sambil menahan dadanya yang mulai kembali terasa nyeri.


"Allura, apa kamu benar-benar menerima pernikahan ini? Jangan sampai nanti kamu menyesalinya." Ibu Ani menatap lekat anak gadisnya. Sebagai seorang ibu dan wanita, tentu saja dirinya merasa sedih. Betapa banyak dan beratnya cobaan Allura, hingga saat ini pun putrinya harus melakukan pernikahan secara mendadak, tidak ada gaun ataupun resepsi.


"Tidak apa-apa, Bu. Aku ikhlas mengikuti keinginan Kakek," jawab Allura sambil tersenyum tipis pada mamanya. Tidak mungkin baginya menolak keinginan terakhir sang kakek tepat sebelum beliau pergi.


"Baiklah. Nak Arzan, tolong kamu hubungi kedua orang tuamu agar mereka kemari, sekaligus penghulu untuk menikahkan kalian," perintah Ibu Ani yang langsung diangguki oleh Arzan.

__ADS_1


Pria itu lantas meminta asistennya untuk mencari penghulu untuk menikahkan mereka. Setelahnya, Arzan juga segera menghubungi kedua orang tuanya yang ada di rumah dan meminta mereka untuk datang ke rumah sakit. Bahkan, Arzan juga meminta Nyonya Fika untuk membawakan set perhiasan milik mendiang Neneknya Arzan yang ada di kamarnya. Arzan belum memberitahukan tentang pernikahan dadakan yang akan dia lakukan bersama Allura pada kedua orang tuanya.


Selesai menghubungi keluarganya, Arzan meminta asistennya yang lain untuk membawakan Allura baju muslim yang cocok pakai saat pernikahan.


Tak berapa lama setelah memerintah Edwin, datanglah penghulu bersama salah satu anak buah Edwin. Bahkan, orang yang datang bersama penghulu itu membawa sebuah paper bag berisi pesanan Arzan.


"Tuan, saya membawakan pesanan Anda. Pak Edwin sendiri masih berada di toko perhiasan," lapor pria muda itu.


"Baiklah. Terima kasih. Berikan bungkusan itu pada Allura, biarkan dia memakainya."


Pria muda itu mengangguk dan mempersilakan pak penghulu untuk duduk beristirahat. Arzan juga sempat menyapa pria paruh baya itu. Setelahnya, Arzan pamit keluar untuk menunggu kedatangan kedua orang tuanya.


Beberapa saat kemudian, Nyonya Fika dan Tuan Anderson pun tiba di rumah sakit, mereka tidak membawa Bintang karena khawatir bayi itu tidak aman jika berada di sana.


Sesampai di lantai atas, Nyonya Fika dan Tuan Anderson segera menghampiri anaknya yang sedang berdiri di luar ruang rawat Tuan Okta.


"Zan, ada apa ini? Kenapa kamu mendadak menyuruh kami datang kemari dengan membawa perhiasan ini?" tanya Nyonya Fika pada sang anak.


Baik Nyonya Fika maupun Tuan Anderson sama-sama terkejut setelah mendengar jawaban putra mereka.


"Apa? Bagaimana bisa seperti itu, Zan? Bukankah kamu mengatakan jika kesehatan Tuan Okta sudah lebih baik dari sebelumnya? Lalu, kenapa sekarang bisa sampai drop lagi?" Kali ini pertanyaan itu datang dari Tuan Anderson.


"Ceritanya panjang, Pa. Aku janji akan menceritakan semuanya pada kalian. Tapi ... setelah pernikahan ini selesai," jawab Arzan dengan cepat.


"Baiklah. Ini set perhiasan yang kamu minta, Zan." Nyonya Fika pun memberikan kotak beludru warna merah yang berisi satu set lengkap perhiasan milik mendiang ibu mertuanya.


"Terima kasih, Ma."


Arzan berniat untuk memberikan satu set perhiasan itu sebagai hadiah pernikahan untuk Allura, sedangkan untuk mas kawin sendiri, dia sudah meminta Edwin untuk mengambilnya di salah satu toko yang menjadi tempat langganan mamanya membeli perhiasan.

__ADS_1


"Sudahlah. Apa semuanya sudah siap?" tanya Tuan Anderson sebelum mereka masuk ke dalam ruang rawat Tuan Okta.


"Sudah, Pa."


Tuan Anderson dan Nyonya Fika pun masuk diikuti Arzan dibelakang mereka. Di dalam sana sudah ada beberapa orang berkumpul termasuk penghulu yang akan menikahkan Arzan dan Allura. Allura sendiri sudah berganti pakaian dengan gamis yang dibawa oleh Edwin tadi.


"Apa semuanya sudah berkumpul?" tanya pak penghulu yang sudah duduk di samping brankar Tuan Okta.


"Sudah, Pak."


Ruangan Tuan Okta mendadak jadi tempat pernikahan Allura dan Arzan. Tak ada hiasan atau pelaminan, bahkan dekorasi pun tidak ada, benar-benar acara yang serba mendadak.


Allura duduk di samping Ibu Ani dan Nyonya Fika, perasaannya begitu gugup. Arzan sendiri tidak kalah gugupnya, meskipun ini adalah pernikahan kedua untuknya, tapi tetap saja rasanya berbeda. Apalagi kali ini dia akan menikahi gadis yang dicintainya.


"Allura, kamu baik-baik saja?" tanya Ibu Ani saat melihat Allura menyeka air matanya.


"Aku ... aku hanya sedih karena melihat Kakek seperti itu, Ma," jawab Allura.


"Sudah. Jangan khawatirkan Kakekmu. Percayalah, beliau pasti kuat menahannya," ucap Nyonya Fika pada calon menantunya.


Allura menanggapi ucapan calon mertuanya dengan anggukan samar.


Acara sakral pun dimulai, ada beberapa perawat yang ikut menyaksikan prosesi ijab qobul dadakan itu. Perlahan pak penghulu membacakan bismillah dan meminta Arzan untuk menjabat tangan Tuan Okta. Kalimat demi kalimat sakral itu cukup lancar dari bibir duda anak satu itu. Hingga tak berapa lama kemudian, orang-orang yang ada di ruangan itupun mengucapkan kata 'Sah' secara serentak.


Allura pun menyalami Arzan yang kini telah resmi menjadi suaminya. Padahal baru minggu lalu Arzan melamarnya di mobil, tapi sekarang tiba-tiba sudah menjadi suami.


"Alhamdulillah. Nak Arzan dan Nak Allura sekarang sudah menjadi suami istri. Tapi, pernikahan kalian masih siri, harap segera mendaftarkan pernikahan kalian ke pengadilan agama untuk mendapatkan surat-surat lengkap," ucap penghulu itu.


"Baik, Pak. Saya mengerti," jawab Arzan

__ADS_1


Tak lama setelah selesai ijab qobul, tiba-tiba suasana kembali tegang karena alat pendeteksi jantung yang dipasang di tubuh Tuan Okta berbunyi nyaring. Para dokter dan perawat pun bergerak cepat untuk memeriksanya. Namun setelah beberapa saat, Dokter Nandi hanya bisa menghela napas berat.


"Innalilahi Wa Inna ilaihi Raji'un."


__ADS_2