
Ibu Ani datang ke ruang rawatnya sesaat setelah Allura keluar dari ruangan itu. Wanita paruh baya itu tersenyum bahagia saat ia melihat anak gadisnya tengah berdiri membelakanginya, seraya menerima telepon dari seseorang yang tidak ia ketahui. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti saat tanpa sengaja ia mendengar gumaman sang anak.
"Mudah-mudahan saja Bintang mau minum ASIP—ku."
Ibu Ani langsung membekap mulutnya sendiri saking terkejut saat ia mendengar ucapan pelan Allura.
"ASIP siapa, Lura?" tanya Ibu Ani, setelah ia berhasil menetralkan kembali degup jantungnya yang sempat berpacu tinggi.
Berbagai pertanyaan pertanyaan tiba-tiba saja menghampiri kepalanya, ia tidak ingin menduga-duga. Namun, ia juga sangat penasaran dengan perkataan anak yang baru saja terucap dari bibirnya.
Allura nampak gugup, ia tidak punya alasan. Namun, seketika pemikirannya langsung tanggap.
"Mama? Apa maksud Mama?" tanya Allura, netra gadis itu terus bergerak kesana-kemari tidak tenang.
"Apa yang baru saja kamu gumamkan, Lura?!" tanya Ibu Ani dengan tegas.
"O–oh itu ... itu ... tadi majikan Lura menanyakan stok ASIP yang Lura simpan dari Mamanya, sebelum pergi. Nah, Neneknya Bintang menanyakan stok ASIP itu di mana. Begitu, Ma," jawab Allura. Tidak mungkin ia mengatakan kepada mamanya jika ASIP dialah yang dimaksud.
Ibu Ani memicingkan matanya dan menatap dalam-dalam sang anak, ia mencari kebohongan lewat matanya. Namun, belum sempat ia menemukan kebohongan itu, Allura segera mengalihkan pembicaraan mereka.
"Mama, bagaimana kondisi Mama saat ini? Maaf, sekarang Lura tidak bisa menemani Mama seperti biasa," ucap Allura dengan penuh sesal seraya bersimpuh di hadapan mamanya yang tengah duduk di kursi roda.
Ibu Ani mendengus kesal, jika sudah seperti ini, maka akan sangat sulit baginya untuk mencari kesungguhan tatapan Allura.
Sepertinya Allura tidak benar-benar menyembunyikan sesuatu dariku, semoga itu hanya perasaan burukku saja, batin Ibu Ani.
__ADS_1
"Keadaan Mama sudah lebih baik, Ra. Bagaimana pekerjaanmu menjadi baby sitter? Apa kamu mengalami kesulitan? Apalagi aku tidak mempunyai pengalaman dalam mengurus bayi, semoga saja majikanmu orang yang baik dan tidak terlalu menuntutmu." Kekhawatiran tampak jelas Allura lihat di wajah pucat sang mama.
Allura menyentuh tangan Ibu Ani dan tersenyum manis. "Mama tidak perlu khawatir, Lura bisa mengerjakan semuanya dengan baik. Majikanku pun orangnya baik dan beliau mau mengarahkanku," jawab Allura.
Meskipun sebenarnya ia sudah bisa mengurus bayi itu tanpa bantuan siapapun, tapi tetap saja hal itu akan sedikit membuat Ibu Ani ragu.
"Benarkah? Apa kamu tidak mengalami kesulitan?" tanya Ibu Ani lagi.
"Alhamdulillah, tidak, Ma. Bayi itu juga sangat pintar, dia tidak terlalu rewel seperti kebanyakan bayi lainnya," jawab Allura setelah ia menggeleng pelan sambil menampilkan senyum terbaiknya.
Terlihat kelegaan di wajah Ibu Ani setelah mendengar jawaban sang anak. Sejak kemarin Allura meminta izin padanya untuk pindah bekerja dan menjadi baby sitter, hatinya tidak berhenti khawatir. Ia takut jika Allura tidak mengerjakan tugasnya dengan benar dan malah membuatnya dipecat oleh majikan baru Allura. Namun, kini hatinya terasa lega setelah mendengar penuturan Allura.
"Sukurlah. Sejak kemarin kamu pamit, Mama benar-benar khawatir. Tapi, Viana terus mencoba meyakinkan Mama untuk percaya padamu," ucap Ibu Ani sambil membelai kepala Allura dengan sayang.
Allura menganggukan kepalanya. Dalam hati, ia merasa sangat bersalah karena tidak bisa mengatakan dengan jujur pekerjaan yang sebenarnya. Allura hanya bisa menggumamkan kata maaf lewat hatinya.
"Siapa yang menelponmu?" tanya Ibu Ani saat melihat Allura yang tak kunjung menerima panggilan masuk itu.
Lagi-lagi, Allura menatap ragu sayang mama. Namun diantara keraguan itu, ada tatapan kecemasan juga yang tersirat di mata Allura.
"Ma–majikan Lura, Ma. Mungkin dia ... dia akan meminta Lura segera kembali pulang ke rumahnya," jawab Allura.
Ibu Ani menganggukan kepalanya beberapa kali.
"Oh, ya sudah, kamu angkat dulu teleponnya. Siapa tahu itu telepon yang penting," saran Ibu Ani.
__ADS_1
Allura mengangguk, ia berjalan sedikit menjauh dari mamanya dan menerima panggilan dari Nyonya Fika itu. Ibu Ani terus memperhatikan gerak-gerik Allura yang tengah menerima telepon dari majikannya, ada sedikit rasa penasaran yang tiba-tiba hadir dan ingin mengetahui siapa majikan Allura saat ini.
Sebaiknya aku tanyakan padanya nanti, batin Ibu Ani.
Tak lama berselang, Allura pun kembali menghampiri mamanya yang masih duduk di sana.
"Ma, Lura diminta untuk segera pulang sekarang. Majikan Lura ada perlu keluar rumahnya dan Lura diminta untuk kembali menjaga bayinya lagi," ujar Allura sambil bersimpuh di hadapan mamanya.
Ibu Ani terlihat sedih saat Allura yang hendak berpamitan padanya, ia masih merindukan anak gadisnya itu. Namun, ia juga tidak bisa memaksa Allura untuk tetap berada di sisinya karena ia sadar, jika Allura tidak bekerja, maka mereka tidak akan mempunyai pemasukan.
"Apa kamu akan kembali lagi, Ra?" tanya Ibu Ani yang enggan berpisah dengan sang anak.
"Tentu saja, Ma. Allura mungkin akan menjenguk Mama tiga hari sekali. Nanti Allura akan menitipkan ponsel untuk Mama pada Viana supaya kita bisa berkomunikasi," ucap Allura yang sedikit menenangkan Ibu Ani.
Meskipun Allura merasa berat karena harus meninggalkan mamanya sendirian, tapi ia bisa mempercayakan Viana untuk menjaganya sesaat. Lagi pula ia sudah meminta kerabat dari mamanya untuk menjaga beliau saat Allura sedang bekerja, Allura tidak ingin terlalu merepotkan Viana untuk terus menemani mamanya. Jadi, kemarin aura sempat menghubungi salah satu sepupu mamanya untuk datang ke kota itu.
"Oh, iya, Ma. Lura juga sudah menghubungi sepupu Mama, Bibi Erni untuk datang kemari dan beliau menyetujuinya. Apa Mama tidak keberatan jika aku meninggalkan Mama dengan Bibi Erni?"
"Tidak, Lura. Lagi pula tidak enak jika harus terus-menerus merepotkan Viana."
Allura mengangguk dan tersenyum untuk membenarkan ucapan mamanya. "Mama, benar. Maka dari itu aku akan meminta Bibi Erni untuk datang kemari. Ya sudah, sekarang Mama masuk ruangan dulu dan istirahat. Jangan terlalu mengkhawatirkanku, aku baik-baik saja," ujar Allura seraya mengecup kening sang mama.
Allura mulai membalikkan kursi roda itu dan mendorongnya sendiri, karena suster yang tadi mengantarkannya sudah kembali bekerja sejak tadi.
Setelah berpamitan dengan mama, serta Viana yang masih berada di ruang rawat Ibu Ani, Allura pun berniat untuk kembali ke kediaman Nyonya Fika. Namun, saat baru melangkahkan kakinya di area lobby rumah sakit, tiba-tiba ada seseorang yang memanggilnya.
__ADS_1
"Mbak Lura!"