
Sepeninggalan Nyonya Fika, Arzan dan Allura saling tatap untuk sesaat. Kedua orang itu nampak tersipu malu dan salah tingkah, tapi Arzan segera berdehem untuk menghalau kegugupannya.
"Sebaiknya kita segera menyusul Mama dan Papa di ballroom," ucap pria itu seraya membawa tangan Allura untuk menggandeng tangannya.
Allura menyetujui ajakan Arzan dengan anggukan samar. Dia masih saja gugup karena akan bertemu dengan banyak orang dan dari berbagai kalangan.
"Mas, aku ... aku takut," bisik Allura saat mereka sedang berjalan menuruni tangga.
"Tenanglah ... tidak apa-apa." Arzan mengusap tangan Allura.
Sepasang suami-istri itu disambut dengan tepuk tangan meriah ketika mereka sampai. Banyak orang yang terkagum-kagum melihat pasangan raja dan ratu sehari itu. Bahkan, sepupu-sepupunya Allura memandang dengan tatapan iri.
Allura benar-benar beruntung bisa menikah dengan orang kaya, bisik salah satu sepupunya.
Iya, aku juga terkejut saat ada orang yang mengatakan jika dia itu cucu dari pengusaha tekstil yang sukses, jawab sepupu yang lainnya.
Padahal, aku kira Om Adnan cuma orang biasa seperti kita, ternyata .... Sepupu lain Allura juga menyauti perkataan dua sepupunya yang lain.
Bisikan-bisikan mereka baru berhenti ketika MC kembali mengarahkan acara.
***
Tak terasa waktu berlalu begitu saja. Berbagai macam acara dan hiburan sudah terselesaikan, begitu pula dengan para tamu undangan yang silih berganti untuk mengucapkan selamat serta memberikan doa terbaik mereka pada Allura dan Arzan.
Pesta itu baru selesai pukul sebelas malam dan kini para tamu undangan sudah bubar pulang, termasuk keluarga Allura yang langsung pulang ke rumah Ibu Ani, sedangkan Tuan Anderson, Nyonya Fika, Ibu Ani sendiri masih berada di hotel bersama raja dan ratu sehari mereka, yang tidak lain Arzan dan Allura.
"Apa kamu sudah lelah?" tanya Arzan sembari melingkarkan tangannya di perut Allura yang kini sedang membuka tiara yang terpasang di kepalanya.
"Aku cukup lelah, Mas. Ada apa?"
__ADS_1
"Sebenarnya ... aku ingin mengajakmu berbulan madu. Tapi, sepertinya bulan madu itu aku ganti sebagai liburan keluarga saja, bagaimana?"
"Aku setuju!" seru Allura. Itu artinya dia tidak perlu berjauhan dengan Bintang dan masih bisa bersama anak serta suaminya.
"Bagaimana kalau kita hanya pergi berdua?" tanya Arzan lagi, ia berniat untuk menggoda istrinya.
"Pergi berdua? Bukankah tadi Mas mengatakan akan pergi berlibur bersama Bintang?" Raut wajah Allura nampak sedih, dia merasa berat hati jika harus berpisah dengan Bintang.
"Hei, aku hanya bercanda. Kenapa kamu jadi sedih seperti ini?" Arzan langsung membalikkan tubuh Allura dan menangkup wajah wanita itu.
Allura menengadah dan menatap wajah suaminya. "Tadi Mas mengatakan hanya akan pergi berdua? Yang benar itu yang mana? Kalau pergi berdua aku ...," rajuk Allura yang merasa keberatan.
"Aku hanya bercanda. Maaf ...," ucap Arzan karena sudah membuat Allura bersedih.
"Tidak apa-apa, Mas. Lagi pula kita akan tetap pergi bersama-sama," jawab Allura.
Arzan menganggukkan kepalanya, pria itu lantas menurunkan tangan dari wajah Allura dan membiarkan istrinya untuk membersihkan diri.
"Wow ... aku tidak akan menolak ajakanmu!" tanggap Arzan dengan cepat seraya melangkah mendekati Allura. Allura hanya bisa menurunkan pandangannya, ia malu sekaligus gugup karena akan mandi bersama.
***
Malam kian larut ....
Di kamar lain, Ibu Ani masih belum memejamkan matanya. Dia tiba-tiba saja memikirkan mendiang suaminya, Pak Adnan.
"Mas, seandainya kamu masih berada ditengah-tengah kami, pasti kamu akan menjadi orang yang paling berbahagia. Allura sekarang sudah dewasa, dia sudah menjadi seorang ibu dan juga istri dari sahabatmu. Aku kira perjodohan yang pernah kalian rencanakan itu akan merugikan putri kita, tapi ternyata ...." Ibu Ani tidak melanjutkan kata-katanya, ia mencoba menghirup napasnya dalam-dalam untuk mengurangi sesak di dada yang tiba-tiba datang.
"Terima kasih karena sebelum kepergianmu, kamu menitipkan putri kita pada keluarga yang tepat," sambungnya lagi seraya mengusap air matanya yang menetes begitu saja.
__ADS_1
"Aku senang, sekarang aku merasa bebanku sudah berkurang," gumam Ibu Ani yang masih menengadah menatap gelapnya langit malam.
Setelah hatinya merasa lebih tenang, wanita paruh baya itupun segera masuk ke kamarnya untuk beristirahat karena besok ia dan keluarga Rafindra akan langsung berangkat ke pulau B. Nyonya Fika dan Allura memaksanya untuk ikut bersama mereka yang ingin berlibur bersama. Sebenarnya, Ibu Ani merasa tidak nyaman, tapi Allura kukuh dengan alasan untuk merayakan pernikahannya dengan Arzan.
***
Keesokan harinya ....
Seluruh anggota keluarga Rafindra termasuk Ibu Ani dan Allura, baru saja sampai di pulau tujuan mereka. Ibu Ani yang baru pertama kali naik pesawat terbang, langsung mengalami jet lag, ia pun berpamitan untuk beristirahat terlebih dulu.
Sebelumnya, Arzan dan Tuan Anderson sudah menyiapkan tiga kamar yang akan mereka tempati, hanya saja kamar milik Arzan dan Allura berada di lantai yang berbeda. Itu semua permintaan Arzan, pria itu tidak ingin ada keluarganya yang mengganggu kegiatan dia dan istrinya, Allura, meskipun sebenarnya hal itu tidak akan terjadi.
Disinilah Arzan, Allura dan Bintang berada. Disebuah balkon kamar yang langsung menghadap ke arah laut, tengah menampilkan pemandangan ombak yang bergulung-gulung di siang itu. Arzan menatap Allura yang tengah menyusui putranya. Dulu, dia berpikir jika Allura adalah gadis aneh karena dia mau menjadi ibu susu anaknya. Namun, seiring berjalannya waktu, Arzan bisa melihat ketulusan cinta dan kasih sayangnya wanita itu pada sang anak.
Arzan menghampiri Allura dan ikut duduk di kursi santai yang tersedia di sana, ia mengecup kening istrinya secara lembut.
"Terima kasih karena kamu sudah hadir dalam kehidupanku. Terima kasih karena kamu juga sudah menganggap Bintang sebagai putramu," ucap Arzan sambil menatap lekat manik mata istrinya.
"Sama-sama, Mas. Aku juga menyayangi kalian. Terima kasih karena sudah menerima semua kekurangan yang kumiliki." Allura mengusap wajah Arzan dengan penuh perasaan.
Setelah berbagai macam masalah dan konflik yang Allura dan Arzan lewati, kini keluarga itupun bisa berbahagia dan merasakan kehidupan barunya bersama anak-anak mereka kelak. Arzan percaya, Allura akan menjadi ibu yang baik untuk Bintang meskipun nanti dia akan memiliki anaknya sendiri.
"Thank you for everything you have done for me and Bintang. I love you till the end of my life."
"You're welcome, hubby. I love you too."
...**TAMAT...
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
TERIMA KASIH BUAT KAKAK-KAKAK YANG UDAH SELALU SETIA TUNGGU NOVEL INI UP. TERIMA KASIH ATAS SEMUA DUKUNGANNYA 🙏🙏🙏 AUTHOR SAYANG KALIAN SEMUA 🤗🤗🤗**