
Seorang pria terduduk di samping ranjang tempat tidurnya, beberapa saat yang lalu, ia merasa kepalanya sangat pening sehingga membuatnya kembali ke kamar untuk mencari obat yang biasa diminumnya. Namun saat membuka laci penyimpanan obat, ternyata obat yang ia butuhkan sudah habis.
Dengan terpaksa, Arzan pun menelpon Edwin untuk memintanya membelikan obat yang ia butuhkan. Setelah menunggu beberapa saat, Arzan pun mendengar suara deru mesin mobil yang terparkir di halaman rumahnya. Saat tatapannya melihat mobil sang sekretaris, tiba-tiba rahangnya mengeras begitu saja.
Kenapa Lura bisa bersama Edwin? Dan kenapa mereka terlihat akrab sekali? tanya Arzan dalam hatinya. Ada setitik rasa kesal yang hinggap di sana saat melihat kedekatan Edwin dengan Allura.
Arzan segera keluar kamarnya dengan langkah kaki yang lebar, hatinya terasa panas saat melihat Allura yang tertawa renyah bersama Edwin di halaman rumahnya.
Bahkan, saat Arzan turun dari tangga pun bertepatan dengan Allura yang masuk bersama Edwin. Hal itu semakin membuat hatinya tidak karuan. Ini adalah pengalaman pertamanya merasakan sesak di hati, saat melihat kedekatan ibu susu bayinya dengan sang sekretaris.
Ada apa denganku? Kenapa apa harus merasa kesal saat melihat Allura bersama Edwin? Itu, kan hak mereka. Sudahlah, sepertinya aku terlalu berlebihan menanggapi mereka, batin Arzan yang menyanggah perasaannya.
Arzan langsung mengusap wajahnya dengan kasar untuk kembali menetralkan perasaannya yang sempat kesal karena melihat kedekatan asisten beserta ibu susu anaknya.
"Tuan!" sapa Edwin sambil membungkukkan sedikit badan saat melihat Arzan yang tengah memandangnya di tangga.
"Hmmm, mana barang yang aku minta tadi?" tanya Arzan bernada dingin.
Allura sempat mengernyitkan keningnya saat mendengar nada tak biasa itu lagi yang dipakai oleh Arzan. Namun, ia tidak mau memikirkan hal itu dan memilih pamit untuk ke ruang keluarga.
"Mas Edwin, saya pamit dulu," ucap Allura sebelum berlalu dari hadapan kedua lelaki itu.
Edwin sempat heran karena pengakuan Allura yang mengatakan jika dirinya sudah pindah bekerja dan menjadi baby sitter, tidak lagi bekerja di toko. Sedangkan sepengetahuannya Allura memang bekerja di toko tempat pertama kali mereka bertemu.
__ADS_1
"Tuan, bagaimana Anda bisa mempekerjakan Allura di sini?" tanya Edwin dengan penasaran.
"Kenapa aku harus memberitahumu jika aku mempekerjakan dia di sini?" sinis Arzan sambil mencibir dalam hatinya karena merasa kesal pada sekretaris sekaligus ibu susu anaknya.
Edwin menatap Arzan seraya mengangkat sebelah alisnya saat mendengar pertanyaan Arzan dengan nada sinis, tidak biasa Arzan bersikap seperti itu padanya. Mereka sudah kenal sejak lama dan jika di hari libur, Arzan selalu meminta Edwin untuk menghilangkan sikap formalnya.
"Tuan, apa Anda cemburu padaku?" tanya Edwin dengan tatapan menggoda tuannya.
"Cemburu? Untuk apa aku cemburu padanya? Dia itu hanya ibu susu anakku saja. Dan ... tidak berarti apa-apa untukku," sanggah Arzan sambil memelankan suaranya di akhir kalimat.
Namun sayang, pembicaraan kedua laki-laki itu tidak sengaja tertangkap oleh sepasang telinga yang hendak melewati tangga untuk menuju ke kamarnya.
Ya, aku hanya sekedar ibu susu untuk anaknya. Jangan bermimpi menjadi Cinderella di zaman sekarang, batin Allura sambil mendekap bayi yang ada di pangkuannya.
Arzan sempat terkejut saat melihat keberadaan Allura yang tiba-tiba saja berada di sekitarnya, tadi seingatnya Allura pergi ke ruang keluarga untuk menemui mama serta anaknya yang ada di sana.
"Silakan, Mbak Lura," jawab Edwin. "Mbak Lura mau ke mana?" tanya pria itu lagi.
"Saya ... saya mau menidurkan Den Bintang. 'Kan, tadi saya sudah mengatakan, jika pekerjaan saya sekarang adalah baby sitter," jawab Allura dengan ramah dan senyuman tipis tanpa melihat kearah Arzan berada. Entah kenapa, tiba-tiba hatinya merasa sedikit tidak nyaman saat melihat tatapan pria itu. Di tambah perkataannya tadi membuat Allura semakin sesak ketika berada di hadapannya.
Setelah mendengar jawaban allura, Edwin pun menganggukkan kepalanya dan membiarkan Allura untuk masuk kedalam kamar yang berada di dekat tangga itu. Sedangkan Arzan hanya menatap Allura dengan pandangan yang sulit diartikan.
Allura masuk ke dalam kamar dan segera mengunci pintunya, untuk berjaga-jaga saja. Setelah ia menutup jendela serta pintunya, Allura pun mulai menyusui Bintang. Bayi itu seperti sudah sangat kehausan saat melahap pu*ing ibu susunya.
__ADS_1
Allura membelai kepala bayi itu dan mengecupnya dengan lama, ia mencoba untuk menyalurkan perasaannya lewat sentuhannya pada Bintang. Bayi itu mengerjap lucu seraya mencoba untuk menggapai wajah Allura yang berada di atasnya.
"Apa, Dek? Mau pegang hidung Mbak, ya? Coba sini, bisa tidak?"
Allura memainkan tangan mungil Bintang yang masih terus fokus dengan kegiatannya. Bayi itu melepaskan sebelahnya, Allura segera memindahkan posisi bayi itu agar bisa menyusui yang satu lagi.
Setelah hampir memakan waktu satu jam lamanya, Allura pun mulai membersihkan tubuh Bintang karena hari sudah beranjak petang. Saat bayi itu sudah bersih dan sudah tertidur kembali, kini waktunya Allura untuk membersihkan badannya yang sudah lengket oleh keringat.
Allura selalu memanfaatkan waktu istirahat Bintang untuk mengerjakan pekerjaan yang lainnya juga. Selesai dengan kegiatannya, Allura pun menyempatkan dirinya untuk memasak makan malamnya sendiri. Beruntung Nyonya Fika memberikan kebebasan pada Allura dalam hal makanan. Jadi, ia tidak perlu menunggu orang lain untuk makan, jika perutnya sudah terasa lapar Allura bisa makan duluan.
Apa lagi semenjak menyusui Bintang, porsi makan Allura menjadi bertambah. Namun untuk saat ini, Allura tidak memikirkan ukuran tubuhnya, karena menurutnya nutrisi untuk bintang harus terpenuhi. Jadi, ia tidak pilih-pilih makanan.
Saat Allura telah selesai memasak sup ikan untuknya, Allura segera membersihkan kembali perabotan yang tadi ia pakai untuk memasak. Sedangkan sup ikan itu ia simpan dulu di atas meja yang berada di sebelah ruang dapur.
Hampir lima belas menit Allura berkutat dengan perabotan yang ia bersihkan. Pelayan yang lain memang sudah melarangnya, tapi Allura tetap mengerjakan itu karena ia merasa tidak enak hati jika harus merepotkan pelayan yang lain.
Setelah selesai mengerjakan cucian perabotnya, Allura pun melangkah menuju meja makan untuk menikmati makanan yang baru ia masak. Namun sesampai di sana, ia tidak melihat mangkuk sop ikan miliknya.
"Lho, kemana sup ikanku?" tanya Allura pada dirinya sendiri. "Seingatku, tadi menyimpannya di sini," gumamnya lagi.
Saat Allura masih mencari mangkuk sup miliknya, tiba-tiba Arzan datang dengan membawa nampan di tangannya.
"Tuan?!"
__ADS_1