
Setelah meluapkan kekesalan Tuan Darion pada anak buahnya, pria paruh baya itupun bergegas memasuki area pribadinya, yaitu kamar kedua bekas Ibu Ani dulu yang ia sulap menjadi kamar keduanya. Tak pernah ad seorang pun yang diijinkan memasuki kamar keduanya yang ada di lantai bawah. Bahkan untuk membersihkan kamar itu, dia melakukannya sendirian.
Rasa bersalah dalam hatinya setelah menodai Ibu Ani memang ada, tapi semua itu tertelan oleh amarah karena dia tidak bisa menerima jika cinta Ibu Ani dan Pak Adnan begitu kuat, selepas dari usaha yang pernah dia lakukan untuk menghancurkan mereka, nyatanya malah dia yang hancur.
Banyak wanita yang dia jadikan sebagai pelampiasan amarah serta na*sunya saat masih muda. Namun, dia tetap tidak bisa menggantikan hatinya yang kosong karena kepergian Ibu Ani. Saat dalam keadaan setengah terpuruk, Tuan Darion mendatangi sebuah panti asuhan, di sanalah dia bertemu dengan Ethan. Tuan Darion memutuskan untuk mengadopsi Ethan dan tidak menikah. Sampai saat ini, pria paruh baya itu masih betah dengan kesendiriannya.
Berulang kali Tuan Darion meyakinkan dirinya untuk meminta maaf pada Ibu Ani aats tindakannya dulu, tetapi ego dalam pikirannya selalu memprovokasi dia untuk melakukan hal yang sebaliknya, yaitu dengan melukai dan menghancurkan Ibu Ani. Dia berharap Ibu Ani yang akan memohon maaf padanya dan mengemis untuk tidak lagi menyakiti mereka, saat itulah dia akan melampiaskan semua has*at dalam benaknya.
"Ani, sampai kapan aku harus seperti ini terus? Hidup dalam bayangan masa lalu itu sangat sulit untukku. Kupikir setelah kamu kehilangan Adnan, kamu dan Papa akan sepenuhnya menganggap aku. Tapi ternyata ... meskipun Adnan sudah tidak ada, sikap kalian tetap sama terhadapku," gumam Tuan Darion sambil menatap foto lawas Ibu Ani yang dia ambil secara diam-diam.
Tak ada satu orang pun yang mengetahui dengan jelas tentang kecelakaan yang menimpa Pak Adnan, mereka hanya tahu jika itu adalah kecelakaan tunggal akibat Pak Adnan yang kelelahan. Namun, dibalik itu semua tentu saja ada campur tangan Tuan Darion. Ya, pria paruh baya itu tega mencelakai adik angkatnya sendiri. Tuan Darion melupakan semua kebaikan yang sudah dilakukan oleh Tuan Okta dan istrinya pada dia.
"Andai saja waktu itu aku tidak menyangkal dan mau mempertahankanmu, mungkinkah sekarang kamu akan menjadi milikku?" tanyanya lagi dengan tatapan menerawang jauh ke masa lalu.
Penyesalan yang tidak bisa di ungkapkan membuat Tuan Darion gelap mata dan tidak mau berkata maaf. Padahal, dalam hatinya dia sudah sangat membenci semua yang dilakukannya saat ini.
Setelah merasa puas menatap foto lawas Ibu Ani, Tuan Darion buat segera keluar dari kamar itu. Tepat saat dia menutup pintu kamar, salah satu anak buahnya datang menghampiri.
"Tuan, saya mendapatkan kabar jika Tuan Besar sudah siuman dari komanya," ucap pria muda itu saat dia sudah berdiri di hadapan Tuan Darion.
"A–apa? Ba–bagaimana bisa Ethan tidak memberitahukanku kabar ini?" tanggap Tuan Darion dengan mata yang lebar akibat terkejut setelah mendengar papa angkatnya siuman.
__ADS_1
"Ma–maaf, Tuan. Tuan Muda Ethan pergi dari kota ini beberapa hari yang lalu. Dia kabur setelah merampas uang restoran milik temannya," lapor pria muda itu.
Lagi-lagi Tuan Darion menerima laporan yang sangat mengejutkan untuknya, anak yang dia besarkan ternyata tidak bisa diandalkan. Embusan napas kasar terdengar keluar dari sela-sela bibirnya, kecewa dan kecewa dia rasakan lagi. Pria itu masih terdiam dengan tatapan kosong, tak ada sorot kekesalan atau kesedihan sehingga membuat anak buahnya heran sekaligus khawatir.
"Tu–tuan, apa ... apa Anda baik-baik saja? Saya ... saya akan meminta seseorang untuk mencari keberadaan Tuan Muda Ethan," ucap anak buah Tuan Darion yang sama sekali tidak ditanggapi karena pria paruh baya itu masih sibuk dengan pikirannya yang berkecamuk.
Pria muda itu lantas membantu Tuan Darion untuk mendudukkan tubuhnya di sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Setelah membawa Tuan Darion duduk, pria muda itu berniat untuk pergi. Namun, baru beberapa langkah dia berjalan, Tuan Darion memanggilnya.
"Berhenti!" pintanya tanpa memandang pria itu.
"Maaf, Tuan. Maksud Anda apa?" Pria itu merasa heran karena majikannya tiba-tiba meminta dia untuk berhenti.
"Jangan cari anak itu. Biarkan saja dia berbuat semaunya. Aku sudah kecewa, aku tidak akan meminta dia kembali kemari." Kekecewaan yang dibuat Ethan karena lalai menjaga Tuan Okta membuat Tuan Darion enggan untuk memaafkannya.
Pria muda di hadapan Tuan Darion masih mematung, dia merasa sedikit heran dengan perubahan sikap majikannya pada sang anak. Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama, pria muda itu segera mengangguk dan mengikuti perintah Tuan Darion.
Selepas kepergian anak buahnya, Tuan Darion membaringkan kepalanya di atas senderan sofa. Pria paruh baya itu terlihat sangat penat dan pusing, hal itu terlihat karena Tuan Darion saat ini tengah memijit pangkal hidungnya untuk meredakan sakit kepala yang tiba-tiba menyerangnya.
Setelah beberapa saat dan rasa sakit kepalanya berkurang, Tuan Darion pun bangkit untuk menemui papa angkatnya yang masih berada di rumah sakit.
Setidaknya saat ini Papa sudah siuman dan semoga beliau cepat pulih, batin Tuan Darion.
__ADS_1
Pria paruh baya itu lantas meminta salah satu sopirnya untuk mengantarkan dia ke rumah sakit tempat Tuan Okta dirawat. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Tuan Darion begitu bersemangat. Dia sudah lama ingin melihat Tuan Okta kembali sehat.
Perjalanan yang mereka tempuh tidak terlalu lama. Jadi, sekarang Tuan Darion sudah sampai. Dia bergegas memasuki lift yang bakan membawanya ke lantai atas, tempat dimana Tuan Okta dirawat.
Sesampai di lantai atas, dia bertepatan dengan dokter yang baru saja keluar dari ruangan Tuan Okta. Namun, yang membuatnya heran adalah dokter yang baru saja ditemuinya, bukan dokter yang biasa memeriksakan keadaan Tuan Okta sebelumnya.
Kenapa dokternya berbeda? Apakah sudah ganti? Tapi ... kenapa tidak ada pemberitahuan sebelum jika dokternya diganti, batin Tuan Darion sambil terus menatap punggung dokter muda yang baru saja ia temui.
"Sudahlah. Tidak ada bedanya juga," gumam Tuan Darion sambil menggedikkan bahunya.
Tuan Darion pun segera masuk ke ruang rawat Tuan Okta. Dia melihat pria yang pernah merawatnya dulu, kini sudah berbadan ringkih dan tinggal tulang yang berbungkus kulit saja.
"Papa," sapa Tuan Darion pada Tuan Okta.
"Dion ...." Itu adalah nama panggilan untuk Tuan Darion saat berada di tengah-tengah keluarganya.
"Bagaimana keadaan Papa? Maafkan aku karena tidak ada di sisimu saat Papa siuman," ucap Tuan Darion sambil memegang tangan Tuan Okta yang terasa dingin.
"Mana cucuku?" Pertanyaan Tuan Okta membuat Tuan Darion sedikit terkejut karena tidak biasanya Tuan Okta menanyakan kehadiran Ethan.
"Ethan tidak ada di sini, Pa. Di–"
__ADS_1
"Bukan Ethan, Dion. Tapi anaknya Adnan."