Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 98


__ADS_3

Perjalanan Allura dan Arzan terasa lebih lambat dari biasanya. Padahal, Allura sudah sangat lelah dan ingin beristirahat. Namun, entah mengapa dia merasa Arzan sengaja memperlambat laju kendaraannya.


Allura mengalihkan rasa jenuhnya dengan bermain ponsel, sedangkan Arzan fokus mengendarai mobilnya. Sesekali Allura tersenyum saat sedang berbalas pesan dengan seseorang di seberang sana, sehingga membuat Arzan mendengus kesal.


Kenapa dia malah asik sendiri? Siapa yang sedang berbalas pesan dengannya? Huh, apa dia sengaja membuatku kesal? Padahal, aku sudah sengaja memperlambat laju kendaraanku agar bisa berlama-lama dengannya, gerutu Arzan dalam hatinya.


Allura mendengar dengusan Arzan, dia sadar jika pria di sampingnya itu tengah kesal, tapi Allura tetap bersikap acuh dan berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Allura sendiri sedang sibuk berbalas pesan dengan Viana, sahabatnya.


"Sepertinya ponselmu lebih seru dari pada berbicara denganku, ya?" tanya Arzan tanpa menoleh kearah Allura.


"Iya, Mas–" Allura menjawabnya tanpa beban. Namun, ucapannya terputus karena langsung mendapat tatapan dingin Arzan.


"Silakan lanjutkan. Jangan pedulikan aku. Anggap saja aku tidak ada!" seru Arzan dengan kesal. Tadinya dia berniat untuk mencari perhatian Allura, tapi ternyata jawaban gadis itu cukup membuatnya kesal.


Allura terkekeh pelan, gadis itu sadar jika saat ini Arzan sedang merajuk padanya. Namun, untuk saat ini Allura tidak berniat membujuknya. Dia ingin melihat bagaimana kekasihnya itu jika sedang merajuk.


Arzan mempercepat laju kendaraannya karena kesal. Allura langsung membulatkan matanya saat Arzan tancap gas sekaligus, beruntung jalan yang mereka lalui saat ini tak padat dan sedang lengang.

__ADS_1


"Mas, pelankan mobilnya! Ini bahaya. Kamu kenapa?" teriak Allura yang sudah sangat ketakutan. Bahkan suaranya sudah bergetar saking takutnya.


Arzan menuruti ucapan Allura sebelum akhirnya ia menepikan mobil itu.


"Kamu boleh marah saat kesal, Mas. Tapi, jangan membuatku takut seperti tadi. Ingat Bintang yang sedang menunggu kita di rumah, Mas. Ingat Mama, jika sesuatu yang buruk terjadi pada kita, apa yang akan mereka rasakan?" tanya Allura bertubi-tubi, gadis itu menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Sungguh, tadi dia merasa syok dan ketakutan.


"Aku tahu, aku sudah salah mendiamkanmu. Tapi aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya sedang berbalas pesan dengan Viana saja, Mas," ucap Allura lagi.


Arzan sendiri masih terdiam, dia sadar jika dirinya ternyata masih belum benar-benar pintar mengolah emosinya. Hal itu terbukti, di depan Allura dia menampilkan sifat aslinya. Sekarang dia hanya bisa pasrah untuk kedepannya, sifat buruknya masih sulit dikendalikan,


"It does not matter. I understand. But, I hope something like this doesn't happen again," jawab Allura setelah ia menenangkan perasaanya yang tadi sempat terkejut. Tidak lupa, Allura juga memberikan senyum manisnya untuk meyakinkan Arzan.


"Apa kamu tidak marah padaku karena sudah membuatmu terkejut seperti tadi?" tanya Arzan saat melihat Allura yang tengah tersenyum padanya. Bahkan, gadis itu juga menggenggam tangan Arzan yang masih berpegangan pada stir mobil.


"Aku sama sekali tidak marah, Mas. Aku tadi hanya terkejut saja," jawab Allura. "Aku juga salah karena sudah membuatmu kesal, maafkan aku," sambungnya lagi.


"Aku juga salah karena sudah berprasangka buruk padamu, kukira kamu sedang berbalas pesan dengan pria lain. Jadi ... ya ... aku cemburu," aku Arzan dengan suara pelan.

__ADS_1


Allura mengulum senyumnya saat mendengar pengakuan Arzan. Namun, dia tetap menghargai ucapan pria itu dan mengangguk. "Aku mengerti. Betapa pentingnya komunikasi di antara kita berdua untuk saling memahami. Terima kasih juga karena kamu tidak berpura-pura dalam perasaanmu, Mas," jawab gadis itu.


"Sejak awal, aku memang tidak pernah berpura-pura. Aku selalu berusaha untuk jujur dan saat ini ... aku sedang berusaha untuk merubah kebiasaan burukku agar tidak mudah terpancing emosi. Tapi, ternyata itu cukup sulit untuk dilakukan." Arzan menghela napas panjang, sebelum akhirnya dia mengembuskannya secara sekaligus. Dia sangat malu karena Allura sudah mengetahui kebiasaan buruknya.


"Tida apa-apa, Mas. Mungkin sekarang sedikit sulit, tapi aku yakin kamu bisa melakukannya. Jangan terlalu memaksakan dirimu. Aku mau menerimamu apa adanya," jawab Allura secara spontan. Gadis itu langsung membulatkan mata dan menutup mulut saat dia menyadari ucapannya barusan.


Lain halnya dengan Arzan, pria itu sudah menyunggingkan senyum bahagia setelah mendengar pernyataan Allura yang sudah menerima lamarannya. Meskipun lamaran yang dia lakukan tadi secara mendadak dan spontan, tapi ternyata membuahkan hasil yang sangat dia inginkan.


"Aku sudah mendengar jawaban dari lamaranku tadi ... dan jawaban itu keluar secara langsung dari bibirmu tanpa kupaksa. Jadi, aku akan segera mengurus semua persiapan pernikahan kita secepatnya." Arzan tak memberikan celah untuk Allura menolak ucapannya, dia segera menyalakan kembali mesin mobilnya dan tancap gas pulang ke kediaman Tuan Anderson.


"Mas, bukan begitu .... Padahal, aku sudah membayangkan jika lamaranku akan romantis dan mengharukan. Tapi ... kamu melamarku tanpa ada bunga atau cincin," protes Allura sambil mengerucutkan bibirnya. Allura tidak peduli jika Arzan sekarang kesal karena mendengar protesannya.


Namun, baru beberapa menit mobil itu berjalan, tiba-tiba Arzan kembali menghentikan kembali mobilnya dan membuat Allura heran. Tanpa mengatakan sepatah katapun, pria itu lantas keluar dari mobil.


"Mas, kamu mau kemana?" tanya Allura saat Arzan hendak menutup pintu, tapi dihiraukan oleh Arzan.


Padahal baru tadi kita berbicara tentang komunikasi, tapi sekarang sudah seperti ini lagi. Mau dia itu seperti apa?Kenapa membuatku bingung, gerutu Allura sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Lima belas menit berlalu, Allura masih menunggu kedatangan Arzan. Namun, pria itu tak kunjung datang dan membuat Allura bosan dan tertidur.

__ADS_1


__ADS_2