
Keesokan harinya, Allura segera bergegas bangun lebih pagi agar bisa menyiapkan sarapan untuk Arzan. Setidaknya pagi ini dia ingin menyiapkan sesuatu yang spesial bagi Papa Bintang itu.
Pagi-pagi sekali Allura sudah berkutat dengan perabotan dapur. Bahkan dari sebelum waktu subuh, Allura sudah memulai kegiatannya memasak makanan yang akan ia siapkan untuk Arzan.
Bintang sendiri masih tertidur pulas di kamar. Jadi, dia tidak khawatir pada bayi kecil itu. Allura juga tidak lupa untuk terus memantaunya lewat layar monitor yang selalu dia bawa.
Saat Allura masih sibuk dengan pekerjaannya, tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutnya dan membuat Allura terjengkit kaget. Siapa lagi kalau pelakunya bukan Papa Bintang.
"Mas, apa ... apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Allura dengan jantung berdebar, bukan hanya terkejut karena tiba-tiba dipeluk, tapi juga karena berdebar saat Arzan berperilaku manis padanya.
"Biarkan seperti ini dulu, Ra. Hanya sebentar saja," pinta Arzan sambil menyembunyikan wajahnya di lekukan leher wanita itu. Arzan menghirup nafasnya dalam-dalam di sana, ia coba mengingat bagaimana aroma Allura yang beberapa hari kedepan akan ia rindukan.
Allura hanya terdiam dan membiarkan Arzan memeluknya dari belakang. Meskipun merasa sedikit risih, tapi di sisi lain Allura juga merasa tenang dan nyaman.
"Apa ada yang mengganggu pikiranmu, Mas?" tanya Allura saat Arzan tak kunjung juga melepaskan pelukannya.
"Tidak ada. Aku hanya berpikir, mungkin untuk beberapa hari ke depan aku akan sangat merindukanmu dan Bintang," jawab Arzan tanpa melepaskan pelukannya.
"Benarkah? Itukan hanya tiga hari saja."
Arzan langsung melepaskan pelukannya dan membalikkan tubuh Allura. Pria itu menatap intens gadis yang ada di depannya.
"Hanya? Tiga hari, tiga malam, Ra. Itu waktu yang lama. Tunggu ... apa itu berarti kamu tidak akan merindukanku saat aku jauh dari kalian?" tanya Arzan sambil menatap kedua mata Allura.
__ADS_1
Gadis itu tak bisa beranjak dari sana, Arzan mengunci pergerakan Allura dengan kedua tangan pria itu yang ada di samping tubuhnya.
"Mas, ja–jangan seperti ini ... a–aku takut Mama atau Papa melihat kita. Nanti ... nanti mereka jadi salah paham," pinta Allura dengan gugup, sedangkan Arzan sendiri malah bersikap acuh dan seakan tidak memperdulikan protesan yang dikeluhkan oleh Allura.
Tanpa Allura ketahui, Arzan sebelumnya sudah meminta para pekerja di rumahnya untuk tak memasuki area dapur. Jadi, saat ini tidak ada yang akan melihat mereka, sedangkan Nyonya Fika dan Tuan Anderson jarang masuk ke dapur. Licik memang, tapi itulah yang Arzan lakukan untuk mengobati perasaan rindunya saat ini.
"Kamu tenang saja, Ra. Tidak akan ada orang yang datang kemari," ucap Arzan sambil mendekatkan wajahnya hingga Allura bisa merasakan embusan napas Arzan yang mengenai kulitnya. Namun, Allura masih bisa mengendalikan dirinya, dia tidak mau terbawa suasana. Apalagi saat ini dia sedang memasak untuk sarapan dan bekal Arzan juga.
"Mas, aku sedang masak. Kamu akan terlambat berangkat jika terus menggangguku." Allura sedikit mendorong dada bidang Arzan yang sudah semakin memepetnya.
Arzan terdiam, pria itu menoleh kearah jam dinding yang ada di ruangan itu. Arzan melihat waktu yang sudah menunjukkan pukul lima kurang dan sebentar lagi adzan akan berkumandang. Akhirnya Arzan pun mengalah. Namun, sebelum dia melepaskan Allura, Arzan sempat mengecup pinggir bibir Allura sekilas.
"Morning kiss," ucapnya. Arzan pun mundur dan membiarkan Allura kembali melanjutkan aktifitasnya. Pria itu langsung berbalik dan meninggalkan Allura yang masih mematung di tempatnya.
Kenapa Mas Arzan senang sekali membuatku jantungan seperti ini? Apa dia sengaja melakukan itu agar aku semakin kesulitan bernapas? gerutunya sambil memegangi dada kirinya yang masih bertalu.
Arzan sendiri memilih kembali ke kamarnya dengan senyuman yang terus terpatri di bibir pria itu. Sesekali Arzan juga menggelengkan kepalanya. Berada dekat dengan Allura selalu membuat dia sulit mengendalikan diri. Pesona Allura selalu membuatnya mabuk kepayang.
Ya Tuhan ... semoga urusanku cepat selesai, agar aku bisa segera meminang gadis yang aku cintai itu, batin Arzan sambil membuka pintu kamarnya.
Arzan kembali mengingat pernikahannya dengan Rivera. Bahkan, semenjak kelahiran Bintang, Arzan belum kembali ke rumah yang sebelumnya mereka tempati. Entah kenapa, Arzan selalu merasa sesak jika berada di rumah itu. Tak sekalipun dia merasa betah tinggal di sana. Apalagi sikap Rivera yang tak pernah sekalipun menghargainya sebagai seorang suami. Mengingat itu semua, membuat dada Arzan kembali sesak. Akhirnya, pria itupun memilih masuk kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pergi ke masjid yang tak jauh dari rumahnya.
Saat Arzan keluar kamar, dia tidak sengaja berpapasan dengan sang mama. Nyonya Fika tersenyum saat melihat Arzan yang sudah siap pergi ke masjid.
__ADS_1
"Papa mana, Ma?" tanya Arzan saat ia tidak melihat kehadiran papanya.
"Ada, Papa juga sedang siap-siap mau ke masjid. Kamu tunggu Papa dibawah saja," saran Nyonya Fika pada anaknya.
"Baiklah." Arzan mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya untuk turun ke lantai bawah diikuti Nyonya Fika yang berjalan di belakangnya.
Sesampai di bawah, Arzan langsung berjalan menuju ruang keluarga, sedangkan Nyonya Fika segera masuk ke dapur. Dia mencium aroma masakan yang berbeda dari biasanya.
"Lura, apa kamu yang menyiapkan ini semua?" tanya Nyonya Fika saat melihat beberapa hidangan yang sedang Allura siapkan di atas meja makan. Nyonya Fika juga melihat kotak makanan yang ada di tangan Allura.
"Apa itu untuk bekal Arzan?" tanyanya lagi.
Allura mengangguk dan tersenyum saat mendengar pertanyaan Nyonya Fika. "Iya, Ma. Semoga Mama dan Papa menyukai masakanku."
"Wah, Arzan pasti sangat senang karena kamu sudah menyiapkan keperluan bekalnya di jalan," ucap Nyonya Fika dengan antusias.
Allura hanya tersenyum kecil saat mendengar ucapan calon mertuanya, dia tidak banyak berbicara karena Nyonya Fika tidak mengetahui jika Arzan sudah mengganggunya tadi.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Selamat malam kakak-kakak 👋👋👋, Sambil tunggu ini up lagi, baca rekomendasi novel lagi, yu ... 😁😁 Kali ini novel dari kak Rissa Audy. Jangan lupa mampir ya 🤗🤗
...Nah, ini dia 👇👇👇...
__ADS_1