Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 81


__ADS_3

Arzan merasa sedikit canggung saat dia dan Allura sedang berada di dalam mobil. Bagaimana tidak, Allura masih tetap mendiamkannya sejak tadi. Bahkan, saat Allura sedikit kesulitan saat memakai seat belt pun, gadis itu sama sekali tidak meminta tolong padanya.


Arzan menepikan mobilnya untuk berhenti, dia perlu berbicara sebentar dengan Allura agar gadis itu kembali bersikap biasa lagi. Keterdiaman Allura sungguh membuat Arzan sama sekali tidak nyaman. Setelah itu, Arzan segera melepas seat belt yang ia pakai dan mengembalikan tubuhnya untuk menatap Allura.


"Rara, mau sampai kapan kamu mendiamkanku seperti itu? Tadi aku hanya sedang bercanda saja. Maaf jika candaanku itu keterlaluan," ucap Arzan.


Gadis itu masih bergeming dan tak menatap ke arahnya, dia masih setia mendiamkan Arzan karena rasa kesalnya yang belum juga mereda pada Papa Bintang itu.


"Baiklah, Rara. Aku salah, aku minta maaf, aku tidak akan mengulanginya lagi. Maukah kamu memaafkanku, Mama Bintang?" tanya Arzan lagi.


Kali ini Allura membalikkan wajahnya untuk menatap Arzan secara langsung. Meskipun dia masih sedikit kesal, tapi Allura harus menghargai permintaan maaf yang tulus dari pria itu.


"Apa Anda sungguh-sungguh meminta maaf, Tuan?" tanya Allura yang kembali berbicara formal pada Arzan.


Arzan langsung mendudukan tubuhnya kembali sambil bersender. Pria itu sedikit mendengus kasar, setelah mendengar kata-kata formal yang kembali terucap dari bibir Allura.


"Sampai kapan kamu akan terus berbicara formal padaku seperti itu, Ra? Aku bisa mengerti jika kamu masih sulit menerima perjodohan kita, tapi ... bisakah untuk saat ini kamu belajar menerimaku sebagai teman? Setidaknya jangan anggap aku majikanmu lagi. Aku sudah mengungkapkan semua perasaanku padamu. Apa kamu tidak mau menghargai usahaku? Atau ... karena aku seorang duda, kamu tetap berusaha untuk mengingatkanku tentang status kita?" tanyanya sambil menatap lurus kedepan.


Allura sedikit terkesiap saat mendengar pertanyaan Arzan, dia tidak menyangka jika Arzan akan berbicara panjang lebar seperti itu. Namun, saat alura hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan Arzan, pria itu kembali berbicara.


"Baiklah, jika kamu ingin seperti itu terus. Aku tidak akan memaksamu untuk menerimaku. Aku pria yang cukup tahu diri." Arzan segera memakai kembali seat belt–nya sebelum menjalankan mobil menuju rumah sakit.


"Tu ... M–mas, aku ...."


"Panggil aku dengan senyaman kamu saja, aku tidak peduli lagi." Arzan langsung menghentikan ucapan Allura, dia tidak ingin memaksakan lagi kehendaknya pada gadis itu.


Allura langsung menundukkan kepala, dengan tangan yang mengepal di atas pangkuannya. Tadi dia yang sedang marah karena Arzan, tapi sekarang Arzan yang balik marah padanya.

__ADS_1


"Mas, aku ... aku minta maaf. Saat ini aku sedang sensitif dan mudah terpancing emosi. Aku tidak bermaksud untuk bersikap seperti tadi," ucap Allura. Gadis itu memberanikan dirinya untuk menyentuh tangan Arzan yang ada di sampingnya. Namun, pria itu lagi-lagi tidak menunjukkan reaksi apapun padanya.


"Maafkan aku, Papa Bintang," ucap Allura lagi sambil menampilkan senyum saat Arzan belum menanggapi permintaan maaf darinya.


"Mas ...." Allura mencoba untuk memanggil Arzan lagi dengan nada yang lebih halus.


Arzan pun luluh dengan panggilan halus dari gadis disampingnya, ia pun kembali menepikan mobil lagi sehingga membuat Allura mengerutkan keningnya.


"Kenapa kita berhenti lagi, Mas?" tanya Allura.


Arzan masih belum menjawab pertanyaan Allura. Pria itu langsung melepaskan seat belt-nya lagi dan tiba-tiba menarik tengkuk Allura. Arzan lagi-lagi menciumnya tanpa ijin, tapi Allura tidak mampu menolaknya. Tubuhnya seakan tak bisa ia kontrol, nalurinya menuntun dia untuk membalas perlakuan Arzan.


Arzan sendiri tersenyum tipis saat merasakan Allura yang meresponnya, meskipun masih kaku, tapi Arzan tak mempermasalahkannya. Tautan itu baru terlepas setelah beberapa saat, Arzan menyeka bibir Allura yang basah dan sedikit bengkak karena ulahnya.


"Jangan tiba-tiba marah seperti tadi. Jika memang kesal, sebaiknya kamu langsung mengutarakannya," ucap Arzan tepat di depan wajah Allura yang kini sudah tampak memerah.


"Kita lanjut jalan lagi," ucap Arzan yang langsung diangguki oleh Allura.


Setelah memakan waktu yang cukup lama dan dua kali perhentian, akhirnya sepasang sejoli itu pun sampai di tempat tujuan mereka.


Arzan sekarang sudah tidak segan dan ragu lagi untuk menggandeng tangan Allura, mereka berdua memasuki lift tanpa melepaskan tautan tangannya.


"Mas, apa Tuan Darion sedang tidak di sini?" tanya Allura. Saat ini dirinya begitu gugup karena akan bertemu dengan kakek yang sebelumnya tidak pernah ia kenal.


"Kamu tenang saja, Ra. Sekarang Tuan Darion sedang bersama Papa. Jadi, kamu tidak perlu khawatir. Lagi pula aku akan selalu menemanimu," jawab Arzan sambil sesekali mengecup tangan Allura yang berada di genggamannya. Allura tersenyum kecil saat Arzan memperlakukannya dengan manis. Semua itu Arzan lakukan untuk membuat Allura rileks, dia tidak ingin membuat perasa Allura menjadi kacau.


Setelah memastikan semuanya aman, Arzan segera membuka pintu ruang rawat Tuan Okta.

__ADS_1


"Ayo kita masuk," ajaknya sambil menarik pelan tangan Allura.


Keduanya masuk ke ruangan itu. Allura menatap pria paruh baya yang masih terbaring lemah diatas brankar. Selama dia tidak mengetahui jika dirinya masih mempunyai kakek. Namun, sekarang dia percaya, pria paruh baya yang terbaring lemah tak sadarkan diri itu adalah kakeknya karena beliau memiliki potongan wajah yang hampir mirip dengan papanya, Pak Adnan.


"Kakek," gumam Allura sambil menghampiri Tuan Okta yang diikuti oleh langkah Arzan di belakangnya.


Allura segera menggapai tangan keriput Tuan Okta untuk digenggamnya. Hatinya begitu teriris kala melihat salah satu anggota keluarganya terbaring tak sadarkan diri.


"Kakek, ini Lura ... Allura Saputri, putri dari Papa Adnan. Maaf karena baru menjenguk Kakek sekarang," ucap Allura sambil menahan napasnya yang tiba-tiba terasa sesak.


Arzan tak mengatakan apapun, pria itu hanya berdiam diri di belakang Allura sambil terus mengusap bahu sang kekasih, berharap bisa menyalurkan kekuatannya agar membuat Allura lebih tenang.


"Kek, cepat sembuh. Lura ... Lura ingin melihat Kakek sehat," ucap Allura lagi sambil terus menggenggam erat tangan Tuan Okta. Tanpa terduga, Allura merasakan respon dari tangan Tuan Okta, begitupun dengan Arzan yang menyadari jika kelopak mata Tuan Okta mulai bergerak-gerak.


"Ra, sepertinya Tuan Okta sudah siuman," kata Arzan yang langsung diangguki oleh Allura. Namun, seketika keduanya dibuat terkejut oleh seseorang yang tiba-tiba membuka pintu ruangan itu.


"Sedang apa kalian?"


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Ada yang bisa tebak? 😁


Sabar tunggu besok, ya 🤗


Mampir dulu ke rekomendasi novel malam ini.


...Nah ini dia 👇👇👇...

__ADS_1



__ADS_2