
Suasana sore itu begitu sejuk, semilir angin yang berembus pun terasa menenangkan. Bahkan, awan-awan di langit seakan menjadi payung untuk menghalau sinar matahari sore itu. Para pengiring jenazah mendiang Tuan Okta cukup banyak. Namun, tak satu pun dari mereka yang mengetahui jika Allura adalah cucunya.
Acara pemakaman itu berlangsung cukup singkat, tak ada hambatan apapun yang terjadi. Hanya saja ada beberapa kolega bisnis Tuan Okta yang merasa aneh karena mereka tidak melihat kehadiran Tuan Darion serta Ethan. Beruntung orang yang menjadi juru bicara keluarga Tuan Okta bisa menanganinya, hingga bisa menekan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar dari orang-orang itu.
Allura, Ibu Ani, Arzan, Nyonya Fika, dan Tuan Anderson memilih untuk pulang lebih akhir dari para pelayat. Kelima orang itu masih tidak menyangka jika keinginan Tuan Okta menikahkan Allura adalah benar-benar keinginan terakhirnya.
"Mas, pokoknya kita harus bisa menemukan orang yang sudah tega membunuh Kakek. Aku tidak rela jika Kakek belum mendapatkan keadilan," ucap Allura yang ditujukan pada Arzan tanpa menatap suaminya.
"Tentu saja, Ra. Aku dan Papa tidak tinggal diam, kami sudah menangkap gadis yang tadi pagi kita curigai. Hanya saja ...." Arzan menggantungkan ucapannya, dia merasa sedikit tidak tega jika harus menghukum orang yang sudah membunuh Tuan Okta. Nyatanya orang itu juga melakukannya atas dasar paksaan dan berada di bawah ancaman seseorang.
"Hanya saja apa, Mas?" tanya Allura yang kini mengalihkan perhatiannya Arzan.
"Tidak apa-apa, Ra. Kita ... kita bisa membicarakan hal ini setelah pulang ke rumah," jawab Arzan dengan cepat.
"Baiklah."
Setelah Tuan memimpin memanjatkan doa untuk yang terakhir kalinya, keluarga itu pun membubarkan diri untuk pulang ke rumah masing-masing. Allura juga sadar, dirinya sudah terlalu lama meninggalkan Bintang yang bersama Bi Endah di rumah.
"Ibu, sebaiknya Ibu dan Bibi keluar dari rumah kontrakan itu. Aku tidak mau ambil resiko lebih jika kalian terus berada di sana," ucap Arzan pada ibu mertuanya. Pria itu berpikir tidak menutup kemungkinan orang yang sudah mencelakai Tuan Okta akan kembali mengulangi perbuatannya pada anggota keluarga yang lain termasuk Ibu Ani maupun Bibi Erni.
"Tapi, Nak–"
"Jeng, apa yang dikatakan oleh Arzan ada benarnya juga. Lagi pula, wajar dia sekarang bersikap seperti itu karena kamu sudah menjadi mertuanya. Dia hanya ingin melindungi kamu dan keluarga istrinya saja," tanggap Nyonya Fika dengan cepat sambil menyentuh bahu besannya.
__ADS_1
"Tapi ...." Ibu Ani masih sedikit ragu karena dia takut merepotkan keluarga dari suami anaknya. Namun, setelah melihat anggukan samar dari Allura, barulah ia pun menjawab, "Baiklah, Ibu akan mengikuti saranmu."
Arzan tersenyum lega setelah mendengar jawaban dari mama mertuanya, dia pun lantas segera menghubungi Edwin untuk menyiapkan salah satu rumah yang tak jauh dari rumahnya saat ini.
"Untuk sekarang, sebaiknya Mama ikut pulang ke rumah orang tuaku dulu. Rumah untuk kalian baru akan disiapkan besok," kata Arzan lagi.
"Bagus, Zan. Lebih cepat, lebih baik," sahut Tuan Anderson yang sedari tadi hanya memerhatikan istri, anak serta besannya.
Allura tersenyum bahagia karena malam ini mamanya akan menginap bersamanya. Gadis itu juga merasa lega karena dia sudah tidak memiliki rahasia apapun yang ditutup-tutupi nya dari sang mama, termasuk pekerjaannya yang menjadi ibu susu Bintang.
"Ya sudah. Sekarang aku akan meminta Pak Ujang untuk mengantar Mama Ani serta Bibi Erni ke kontrakan dulu dan mengambil barang-barang keperluan mereka. Kita akan tunggu di rumah." Arzan mengambil ponselnya yang sejak tadi berada di sakunya. Namun, untuk beberapa saat pria itu terdiam mematung setelah membaca pesan yang dikirimkan oleh seseorang.
Allura tampak mengernyitkan keningnya ketika melihat sang suami terdiam sambil menatap layar ponsel dengan lekat. "Ada apa, Mas?" tanyanya.
"Ti–tidak apa-apa, sayang. Aku ... aku akan segera menelpon Pak Ujang dulu untuk memintanya datang kemari," jawab Arzan dengan terbata-bata.
Setelah menunggu cukup lama, akhirnya mobil jemputan Ibu Ani dan Bibi Erni pun tiba. Allura memilih untuk pulang ke kediaman Tuan Anderson, dia sudah sangat merindukan Bintang dan akan menunggu kedatangan mamanya di sana.
"Mama hati-hati. Jika terjadi sesuatu, segera hubungi kami," pesan Allura saat Ibu Ani hendak naik ke mobil yang disopiri oleh Pak Ujang.
"Tentu saja, Ra. Kamu juga baik-baik di sana, tunggu kedatangan Mama," jawab Ibu Ani sambil mengusap kepala putrinya yang kini sudah menjadi istri orang lain.
Allura menganggukkan kepalanya beberapa kali setelah mendengar jawaban sang mama. Dia pun mundur dan membiarkan Pak Ujang untuk melajukan kendaraannya. Arzan dan Allura pun segera menghampiri kedua orang tuanya yang sudah berada di dalam mobil.
__ADS_1
Suasana hening menyelimuti kendaraan itu, tak ada satupun dari mereka yang memulai percakapan. Hingga Nyonya Fika heboh saat melihat berita online yang menyatakan jika sudah terjadi kecelakaan pada mobil yang dikendarai oleh Tuan Darion.
"Pa, apa ini benar mobil Tuan Darion?" tanyanya pada sang suami yang duduk disampingnya.
Tuan Anderson lantas menyimpan kembali ponsel miliknya dan mengambil alih ponsel milik Nyonya Fika. Betapa terkejutnya ia saat membaca artikel yang tertera di sana.
Ya Tuhan, ada apa ini? Kenapa kejadian yang bisa sampai seperti ini? Padahal, Tuan Okta baru saja dikebumikan, tapi sekarang ..., batin Tuan Anderson yang tidak bisa meneruskan perkataannya.
Bagaimana kedua orang tua itu tidak terkejut, jika mereka mendapat kabar bahwa Tuan darion sudah mengalami kecelakaan. Lebih parahnya lagi, kecelakaan itu diakibatkan oleh rem blong, tentu saja itu karena ulah seseorang yang sudah memutuskan kabel rem mobil itu.
"Zan–"
"Aku sudah tahu, Pa. Anak buahku tadi mengabariku tentang hal itu," jawab Arzan saat tuan Anderson yang hendak bertanya. Dia sempat melirik Allura yang tengah terlelap, Arzan sedikit takut istrinya kembali syok karena mendengar berita tentang kecelakaan yang dialami oleh Tuan Darion.
"Lalu, apa Lura mengetahuinya?"
"Tidak, Pa. Pelaku yang menyebabkan Kakek Okta meninggalkan bukan dia."
"Benarkah? Lantas, siapa orang yang menjadi dalang dari semua ini?" tanya Tuan Anderson lagi. Pria paruh baya itu benar-benar penasaran dengan orang yang sudah berani mencelakai keluarga dari menantunya, Allura.
"Pelakunya ... Ethan."
...❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
Wah ... wah ... wah .... 😱😱😱
Masih lanjut ya 🤭🤭🤭