
Di sebuah rumah mewah, seorang pria paruh baya tengah terduduk sejak beberapa saat yang lalu. Pria itu masih setia dengan kediamannya. Semenjak papa angkatnya dinyatakan meninggal, dia tidak banyak berbicara maupun bergerak, ia seakan tak peduli lagi dengan kehidupan. Tak lain dan tidak bukan, pria itu adalah Tuan Darion. Meninggalnya Tuan Okta membuat dia merasa terpuruk sendiri. Apalagi setelah ia mengetahui jika papa angkatnya itu meninggal karena dibunuh oleh anak yang ia besarkan. Meskipun dia tidak menyukai Adnan sebagai saudaranya, tapi dia tidak pernah sedikitpun berniat untuk melukai Tuan Okta.
"Sia-sia kubesarkan Ethan. Ternyata dia sendiri yang menjadi pembunuh Papa ...," gumam Tuan Darion sambil mengepalkan tangannya. Dia merasa kecewa, sangat-sangat kecewa terhadap tindakan yang sudah Ethan lakukan pada papa angkatnya.
"Sudah cukup aku membiarkan anak itu berkeliaran! Sekarang, waktuku untuk mendapatkan keadilan bagi Papa," sambungnya lagi.
Saat ini Tuan Darion sudah tidak bisa berjalan normal lagi, semua itu akibat kecelakaan yang dialaminya beberapa saat lalu. Ia juga sudah mengetahui siapa dalang kecelakaan tersebut, tetapi tadinya ia sedikit berharap pada Ethan agar anak angkatnya itu mau meminta maaf dan bertobat. Namun, harapan tinggallah harapan, Ethan seakan lupa jika dialah orang yang sudah membesarkannya.
Sia-sia kupelihara an*ing sepertinya. Nyatanya dia lebih buas dari hewan itu! batin Tuan Darion.
Pria itupun kembali menjalankan kursi rodanya menuju ruang kerja, tadi dia sudah meminta sekretaris barunya untuk menemui dia. Akibat ulah Ethan, bukan hanya dirinya saja yang menjadi korban, melainkan sekretaris pribadi lamanya pun turut menjadi korban dalam kecelakaan itu.
"Apa kamu sudah mengetahui keberadaan anak ba*ingan itu?" tanya Tuan Darion pada Zoi. Pria muda itu cukup ia percayai untuk menjadi ajudannya.
"Sudah, Tuan. Tuan muda saat ini ada di Apartemen Casa Felice," jawab Zoi sambil memberikan bukti-bukti kejahatan yang sudah dilakukan putra angkatnya.
"Berhenti memanggil di dengan sebutan 'Tuan Muda'. Dia sudah bukan anggota keluarga ini lagi semenjak dia sudah tega membunuh Papa," ucap Tuan Darion dengan tegas. Ya, rasa sayang di hatinya untuk Ethan sudah hilang menguap entah kemana. Kini yang tersisa di sana hanyalah amarah dan kekecewaan saja.
Zoi hanya bisa terdiam seraya menundukkan kepalanya. Dia mengerti atas kekecewaan yang saat ini sedang di rasakan tuannya. Dia juga menyayangkan tindakan Ethan yang sudah membunuh Tuan Okta, kakek angkatnya sendiri. Zoi dan Ethan hampir seumuran, mereka pernah berada dalam satu naungan sebuah asrama. Hanya saja mereka tidak kenal dekat. Terkadang Zoi tidak habis pikir dengan semua tindakan yang sudah dilakukan Ethan, seharusnya dia sadar diri dan mau berpulangkasih pada keluarga angkatnya, bukan malah menikam mereka dari belakang atas nama harta.
"Maaf, Tuan. Saya tidak akan mengucap namanya lagi," ujar Zoi dengan yakin.
__ADS_1
"Ya sudah .... Ayo, kita ke sana sekarang! Jangan sampai dia berulah lagi pada keluarga Papaku," ajak Tuan Darion yang langsung diangguki oleh Zoi.
Pria muda itupun mulai mendorong kursi roda tuannya untuk ia bawa menuju mobil. Bahkan, Zoi juga membantu semua aktifitas yang dilakukan Tuan Darion.
Tuan Darion merasa beruntung karena Zoi mau mengabdi padanya. Pria muda yang ia ketahui hidup hanya berdua dengan adiknya itu tidak banyak berkata dan lebih sering mengerjakan semuanya secara langsung. Semenjak Zoi bekerja dengannya, Tuan Darion tidak lagi merasa kesepian.
Mereka menempuh perjalanan yang cukup lama menuju apartemen yang ditinggali oleh Ethan. Apartemen itu berada di pinggir kota. Sepertinya Ethan memang sengaja mengambil daerah sana, agar ia tidak mudah ditemukan. Namun, bukan Zoi namanya jika tidak ia tidak menemukan keberadaan anak angkat tuannya itu.
"Apa masih lama, Zo?"tanya Tuan Darion yang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ethan, dia sama sekali tidak merindukan anak angkatnya itu. Akan tetapi, saat ini dia ingin menghajarnya habis-habisan.
"Sekitar dua kilometer lagi kita akan sampai, Tuan," jawab Zoi tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan yang mereka lewati.
Belum sempat mereka sampai di tujuan, tiba-tiba pandangan Tuan Darion dikejutkan oleh sosok pemuda di pinggir jalan yang sedang memalak salah seorang ojol. Wajahnya memang tertutup topi dan tubuhnya pun tertutup jaket kulit, tapi dia mengenali postur pria itu, begitu pula Zoi. Lantas, Zoi pun segera meminggirkan mobilnya tanpa disuruh oleh Tuan Darion.
Pemuda itu mematung seketika setelah mendengar sapaan Tuan Darion padanya. Dengan gerakan perlahan, pria itu memutar tubuhnya untuk menatap orang yang sudah membesarkannya.
"Papa ...." Ethan tergugu di tempatnya, ia juga membiarkan ojol yang sedang bermasalah dengannya tadi lari begitu saja.
"Papa? Kamu masih punya muka untuk memanggilku dengan sebutan itu?" tanya Tuan Darion seraya menatap tajam pria yang kini sedang berdiri tak jauh dari tempatnya.
"Pa ..., a–aku ... aku–"
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan lagi," jawab Tuan Darion dengan sengit. Saat ini ia sudah tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari anak angkatnya. Kini baginya semua perkataan yang Ethan katakan hanyalah bualan semata dan dia tidak ingin percaya lagi.
"Zoi, cepat tangkap dia sekarang!" perintah Tuan Darion yang langsung diangguki Zoi.
"Tu–tunggu! Pa, jangan lakukan ini padaku. aku bisa menjelaskan semua ini," ucap Ethan sambil memberontak ketika Zoi berusaha untuk menangkapnya.
Zoi tidak mendengarkan kata-kata Ethan, ia tetap menjalankan perintah Tuan Darion untuk menangkap teman asramanya itu.
"Cih, penjelasan katamu?" Tuan Darion tersenyum miring ketika mendengar permintaan anak angkatnya. "Silakan kamu jelaskan di kantor polisi," sambungnya lagi sebelum ia membiarkan Zoi menyeret Ethan masuk ke mobilnya.
Ethan kelimpungan saat Zoi memborgol tangan serta kakinya agar dia tidak bisa kabur.
"Hei, kamu tidak perlu memborgolku seperti ini. Lepas!" Lagi-lagi Ethan melakukan pemberontakan, dia tidak terima karena tangan serta kakinya diborgol oleh Zoi.
Si*l! Jika seperti ini rencanaku untuk membantu Pak Darda bisa berantakan, akh .... Ethan menggeram kesal dalam hatinya. Kapan lagi aku bisa mendapatkan bayaran yang sangat fantastis seperti yang dijanjikan Pak Darda padaku, sambungnya lagi.
Tuan Darion hanya tersenyum sinis saat melihat anak angkatnya yang sedang berusaha untuk melepaskan borgol tangan dan kakinya.
Meskipun aku telat melakukan kebaikan, setidaknya aku tidak benar-benar terus melakukan kejahatan, batin Tuan Darion yang merasa menyesal akan dirinya dulu. Kecelakaan yang menimpanya membuat dia sadar akan kejahatan-kejahatan yang dulu pernah dilakukannya.
Setelah ini aku harus menemui Ani untuk meminta maaf padanya. Aku tidak ingin dia membenciku lagi, gumam Tuan Darion dalam hatinya.
__ADS_1
Zoi pun kembali memutar kendaraannya menuju pusat kota, dia akan menyerahkan Ethan pada pihak berwajib.