Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 31


__ADS_3

Sudah beberapa hari semenjak kejadian di mana Arzan melihat Allura menyusui Bintang secara langsung, kini pria itu tengah terdiam di ruang kerjanya. Hujan di luar sangatlah deras dengan diiringi angin kencang, sehingga membuat siapapun pasti akan enggan untuk keluar rumah.


Saat ia berdiri dari duduknya dan berjalan menuju jendela yang sedikit terbuka, netranya tidak sengaja menangkap sesuatu yang sedikit membuatnya merinding. Di bawah sana, Arzan melihat seseorang yang berpakaian serba hitam dengan rambut tergerai, serta kepalanya terus celingukan menatap arah sekeliling rumah.


Namun, orang itu tak kunjung pergi dari halamannya dan membuat Arzan sedikit memicingkan mata, agar bisa memperjelas seseorang yang ia lihat di bawah itu.


"Allura?" gumam Arzan saat ia sudah mengenali siluet seorang itu. "Sedang apa dia di sana?" tanyanya lagi.


Arzan segera turun dari tangga dan berjalan dengan cepat menuju pintu utama.


'Ceklek'


Suara pintu yang terbuka secara tiba-tiba membuat Allura terperanjat kaget, gadis itu memegangi dadanya yang tengah bergemuruh.


"Tu–tuan?!" sapa Allura saat melihat tubuh laki-laki yang terpampang tinggi di depannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan di luar sini? Bagaimana dengan Bintang? Apa kamu berniat kabur? Atau hendak menemui pria simpananmu? Apa kamu tidak melihat di luar sini sedang hujan badai? Di mana pikiranmu?" Berbagai macam pertanyaan keluar begitu saja dari bibir Arzan tanpa membiarkan Allura untuk menjawab pertanyaannya.


"Cepat masuk!" perintah Arzan dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.


Allura yang mendengar berbagai pertanyaan dari Arzan hanya bisa mematung bingung, gadis itu hendak berbicara, tapi belum sempat ia mengatakan jawabannya, Arzan sudah terlebih dulu memotongnya dengan kalimat perintah.


Allura mengikuti perintah Arzan dengan kesal, padahal saat ini dirinya tengah sangat kebingungan.


Bagaimana caranya untuk bisa keluar? Duh, padahal sangat darurat, gumam Allura sambil sesekali melirik Arzan dengan kesal.


Arzan kembali melihat gadis di depannya yang belum juga beranjak dari hadapannya.


"Kenapa kamu masih berdiri disini? Cepat masuk kamar! Kasian Bintang jika kamu tinggalkan sendirian, apalagi ini sudah malam dan di luar sedang hujan. Kamu malah sibuk sendiri dengan urusanmu." Lagi-lagi Arzan menggerutu tanpa mau mendengarkan penjelasan Allura.

__ADS_1


"Tuan, saya keluar juga karena terpaksa!" ucap Allura dengan cepat. Jika dia tidak segera berbicara, mungkin akan lebih memalukan.


"Apa maksudmu keluar malam-malam saat hujan karena terpaksa?" tanya Arzan masih dengan nada tinggi. Pria masih terengah-engah karena tadi sempat berlari saat keluar ruang kerja.


Allura menunduk, wajahnya sudah memerah, antara kesal, malu bingung, menjadi satu.


"Kenapa tidak di jawab?" tanya Arzan sambil menatap tajam Allura yang masih menunduk.


"Saya ... saya keluar karena sedang membutuhkan sesuatu, Tuan," jawab Allura dengan suara pelan yang hampir tak terdengar.


Arzan tidak terlalu mendengar ucapan Allura di akhir kalimatnya. Lantas ia pun kembali meminta Allura untuk memperjelas kalimatnya.


"Apa yang sedang kamu coba kamu katakan, Lura?" tanyanya lagi, tetapi kali ini dengan suara yang lebih lembut.


Allura mendongakkan kepalanya menatap Arzan dengan ragu-ragu.


"Katakan!" perintahnya dengan intonasi yang tegas.


"Hei, apa kamu sedang sakit?"


"Tidak, Tuan." Allura sudah merasa geram lagi karena Arzan dari tadi terus-menerus memojokkannya dengan berbagai pertanyaan.


"Lalu, kenapa wajah memerah seperti itu? Dan, kenapa kamu tidak juga menjawab pertanyaanku? Hal darurat apa yang membuatmu terpaksa keluar malam-malam di saat hujan seperti ini?"


"Anu ... sebenarnya ... saya ... saya ... harus ke ...." Bahkan Allura masih ragu untuk mengatakannya.


"Kemana, Lura?"


"Saya harus ke minimarket yang di depan sana," jawab Allura dengan cepat.

__ADS_1


Arzan memicingkan matanya sambil menatap heran Allura. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar sebelum mencondongkan tubuhnya tepat di hadapan wajah Allura.


"Kamu mau ke minimarket malam-malam seperti ini untuk apa? Di luar 'kan sedang hujan deras, tidak bisakah besok saja?"


"Tidak, Tuan. Ini ... ini sangat darurat. Saya ... saya harus segera kesana sebelum terlambat," jawab Allura sambil hendak melangkah menuju pintu. Namun, gerakannya dihentikan Arzan yang kembali menggenggam tangannya.


"Katakan dengan jelas, untuk apa kamu keluar? Alasannya apa dan apa maksudmu sangat darurat? Coba kamu katakan dengan jelas, supaya saya mengerti!" pinta Arzan lagi.


Allura menyerah, sepertinya Arzan memang tidak akan membiarkannya keluar dengan mudah. Saat ia hendak berbicara, tiba-tiba Bibi Endah keluar dari kamar Bintang sambil menggendong bayi itu ditangannya.


"Lho, Mbak Lura, kenapa masih di sini? katanya tadi mau beli pembalut?" tanya Bi Endah, wanita paruh baya itu diminta Allura untuk menemani Bintang saat dirinya akan pergi tadi.


Arzan yang mendengar pertanyaan Bi Endah pun akhirnya mengerti, ia menatap Allura yang semakin menunduk dalam.


Apa ini semua demi pembalut? Dia ... dia berniat hujan-hujanan demi benda itu? tanya Arzan dalam hatinya.


"Maaf, Tuan. Tapi ... tapi saya sangat membutuhkan benda itu," ucap Allura pelan saat ia melihat tatapan tajam Arzan yang sedari tadi terasa seperti sedang mengulitinya.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Arzan pergi dari sana menuju kamarnya, bahkan pria itu melangkah dengan lebar. Allura yang melihat reaksi Arzan seperti sedang marah padanya, wanita itu pun hanya bisa mengembuskan napasnya dengan kasar.


Allura masih berdiri mematung di sana. Tak lama kemudian, ia pun melihat Arzan yang sudah menuruni tangga, pria itu memakai sweater serta topi lengkap dengan topi.


"Tuan, Anda mau kemana?" tanya Allura sambil menghentikan langkah Arzan.


"Bukankah kamu sangat membutuhkan benda itu? Tunggu di sini. Aku yang akan ke mini market," perintah Arzan.


"Tapi Tuan, Anda tidak perlu melakukan hal itu. Saya masih bisa sendiri," tolak Allura yang mengetahui jika Arzan hendak membelikan keperluannya itu.


"Aku yang pergi, atau tidak sama sekali?!" ancam Arzan dengan tegas, tidak mungkin ia membiarkan seorang wanita itu keluar malam-malam dalam keadaan hujan deras.

__ADS_1


Jadi, ia pun mengalah. Lagi pula setahunya para pelayan dan mamanya pun sudah mengalami masa menopause, yang berarti mereka sudah tidak datang bulan. Sebelum keluar dari rumahnya, ia menyuruh Allura untuk masuk ke kamar dan menjaga Bintang lagi.


__ADS_2