
Sesuai rencana, hari ini Arzan dan Allura hendak mengunjungi rumah sakit tempat di mana Tuan Okta dirawat. Namun, sebelum mereka pergi ke sana, Arzan sudah memastikan untuk membuat Tuan Darion tidak mendatangi rumah sakit selagi dia dan Allura masih di sana.
"Rara, apa kamu sudah siap?" tanya Arzan yang kini sudah berdiri di depan pintu kamar Allura.
Allura yang sedang duduk di samping Bintang pun mengalihkan perhatiannya saat mendengar suara Arzan.
"Oh, Tu ... maksudku ... Mas .... Maaf, aku masih belum terbiasa menggunakan panggilan itu," ucap Allura saat melihat tatapan dingin Arzan.
Arzan mendengus pelan saat mendengar ucapan Allura. Tangan yang sedari tadi ada dalam sakunya, langsung ia keluarkan dan dilipat di depan dada.
"Sudahlah, jangan pikirkan itu. Jika sudah siap, ayo kita berangkat sekarang! Bintang tidak akan ikut, dia akan menunggu bersama Mama di rumah." Arzan mendekat dan meraup tubuh mungil Bintang untuk digendongnya.
"Baiklah, M–mas."
"Sepertinya berat badan Bintang bertambah, ya?" tanya Arzan sambil mengalihkan perbincangan mereka, Arzan tidak ingin membuat Allura tidak nyaman. Jadi, ia pun mencoba untuk mencari topik pembicaraan lain bernama ibu susu sang anak.
"Iya, M–mas. Bintang sekarang sudah lincah menggerakkan kakinya, dia juga tidak pernah mau pakai selimut kalau tidur dan gaya tidurnya pun sudah bulak-balik. Akh, pokoknya aku sangat gemas padanya," jawab Allura dengan antusias saat menceritakan perkembangan Bintang. Bahkan, raut wajah tegang Allura langsung hilang begitu saja.
Arzan diam-diam tersenyum saat melihat perubahan raut wajah Allura setelah membicarakan anaknya. Gadis itu tampak sudah melupakan ketegangan yang sempat dirasakannya.
Benar-benar wanita yang unik. Di saat para gadis lain antusias terhadap barang yang mereka sukai, dia malah antusias membicarakan bayi, batin Arzan sambil menggelengkan kepalanya samar.
"Oh, ya? Hmmm .... Aku jadi penasaran ... apa boleh nanti malam aku bergabung dengan kalian?" tanya Arzan, dia berniat untuk menggoda Allura.
Allura langsung menghentikan langkahnya, gadis itu
menatap Arzan dengan tajam dan kening sedikit berkerut.
"Apa maksudmu, Tuan?"
"Tidak, aku tidak punya maksud apa-apa ... aku hanya ingin tahu saja bagaimana kamu dan Bintang tidur," jawab Arzan sambil terkekeh pelan. Allura yang mendapat jawaban seperti itu langsung menatap sinis pria disampingnya.
"Dalam mimpi pun aku tidak mau, Tuan." Allura melangkah terlebih dulu dan meninggalkan Arzan yang masih berdiri di belakangnya bersama Bintang.
"Wah ... Bi ... sepertinya Mama Rara benar-benar marah kali ini," ucap Arzan pada anaknya, sedangkan Allura sendiri tidak menanggapi ucapan Arzan yang ia dengar.
__ADS_1
Apa sih maksud Tuan Arzan bertanya seperti itu? Jika menanyakan hal itu sekarang, tentu saja aku akan langsung menolaknya. Dasar ... gerutu Allura sambil mengerucutkan bibirnya.
Nyonya Fika dan Tuan Anderson sudah menunggu mereka di ruangan keluarga, kedua paruh baya itu langsung menatap Allura dengan heran yang baru saja menghempaskan tubuhnya di samping Nyonya Fika dengan kasar.
"Kamu kenapa, Ra?" tanya Nyonya Fika pada calon menantunya. Pasalnya, setahunya Allura jarang sekali menunjukkan raut wajah kesal di depannya.
"Tidak apa-apa, Ma." Allura pun menampakan senyumannya yang dipaksakan.
"Apa Arzan mengganggumu lagi?" tanya Tuan Anderson sambil menyimpan tablet yang sedari tadi ia pegang.
"Aku tidak mengganggu dia, Pa," jawab Arzan sambil mendudukan dirinya di samping sang papa.
Arzan juga mengerlingkan matanya pada Allura. Namun, gadis itu malah membuang wajahnya ke arah lain dan enggan menetap pria yang ada di hadapannya.
Nyonya Fika serta Tuan Anderson hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis tak kala melihat anak serta calon menantunya berselisih.
"Zan, berapa kali Mama mengatakan padamu untuk tidak menggoda Allura, kenapa kamu masih menggodanya juga?" tegur Nyonya Fika pada sang anak.
Arzan hanya menanggapi teguran mamanya dengan senyuman tipis tanpa mengalihkan tatapannya dari Allura.
"Papa, kenapa memukulku?" sergah Arzan pada papanya.
"Kamu ini, Zan .... Apa kamu tidak melihat raut wajah Allura yang semakin kesal?" tunjuk Tuan Anderson pada calon menantunya.
Allura memang sudah tidak mengerucutkan lagi bibirnya, tapi gadis itu diam dan bungkam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Bahkan, Arzan tidak bisa membaca ekspresi dari raut wajahnya.
Apa sekarang dia benar-benar marah? Wah ... bisa gawat, batin Arzan. Namun, dia tetap berusaha untuk bersikap biasa saja.
"Ya sudah, Ma, Pa, sebaiknya aku dan Allura berangkat sekarang. Papa sudah menangani Tuan Darion, 'kan?" tanya Arzan untuk memastikan semuanya berjalan lancar.
"Tentu saja sudah, Zan. Saat ini asisten Papa sedang bersama dengannya dan sebentar lagi Papa akan menyusul dia ke sana. Kamu tenang saja, papa akan berusaha selama mungkin menahannya," jawab Tuan Anderson sambil menepuk bahu Arzan.
Arzan pun mengangguk dan bangkit dari duduknya untuk memberikan Bintang pada sang mama. "Ma, aku dan Allura pamit pergi dulu," ucapnya.
"Iya, kalian hati-hati di jalan dan pulang sesegera mungkin," pesan Nyonya Fika sambil menerima Bintang dari Arzan.
__ADS_1
"Ayo, Ra," ajak Arzan pada gadis yang masih setia duduk di samping sang mama tanpa menatapnya.
"Ya, Baik."
Allura ikut berpamitan pada Nyonya Fika dan juga Bintang. Tidak lupa, Allura juga sempat mencium kedua pipi serta kening bayi itu sebelum ia bersalaman pada Nyonya Fika.
"Bi ... Mbak–"
"Mama, Ra. Kamu harus belajar membiasakan diri untuk menerima panggilan baru itu," tegur Nyonya Fika. Dia harus mengingatkan Allura tentang status yang sebentar lagi akan disandangnya.
"Tapi, Ma–"
"Benar, Allura. Gantilah panggilan itu. Lagi pula, kamu bukan hanya sekedar Ibu susu untuk Bintang. Jadi, jangan pernah merasa tidak nyaman dengan Rivera. Wanita itu memang ibu kandung Bintang, tapi dia sudah menelantarkan anaknya," ucap Tuan Anderson yang ikut menimpali perkataan sang istri.
Allura sendiri hanya bisa menunduk saat mendengar ucapan dari kedua calon mertuanya, sedangkan Arzan sendiri hanya tersenyum tipis setelah mendengar ucapan sang papa.
tenyata, tidak hanya aku saja yang menganggap Allura lebih dari sekedar ibu susu untuk Bintang, Papa dan Mama pun berpikiran sama sepertiku, batinnya.
"Ba–baiklah. Terima kasih," jawab Allura sambil menundukkan kepalanya.
Setelah berpamitan dengan benar pada semua orang, Arzan dan Allura pun pergi dari rumah itu menuju rumah sakit tempat di mana Tuan Okta dirawat.
.
.
.
.
Selamat siang kakak-kakak 👋👋👋, ada yang masih nungguin nggak nih 😁 untuk part selanjutnya, di mohon bersabar. Sambil nunggu mampir juga ke karya Author Suka_Paris, ceritanya seru loh 😁👍
...Nah ini dia 👇👇👇...
__ADS_1