Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 88


__ADS_3

Allura mengantarkan kepergian Arzan hanya sampai depan pintu bersama kedua orang tuanya. Arzan terlihat sangat enggan untuk pergi dalam tugas pekerjaannya. Jika biasanya dia akan semangat ketika keluar kota, maka kali ini dia terlihat sangat terpaksa melakukannya. Bagaimana tidak, siapa pun pasti akan merasa berat untuk berjauhan dengan seseorang yang mereka sayangi, begitupun dengan Arzan.


"Kamu kenapa, Zan?" tanya Tuan Anderson saat melihat raut wajah Arzan seperti orang yang tak memiliki semangat hidup. Padahal, Tuan Anderson pun akan pergi dengannya dan meninggalkan Nyonya Fika bersama Allura.


"Tidak ada apa-apa, Pa. Aku ...."


Tuan Anderson menggelengkan kepala lalu menepuk bahu sang anak yang kini sudah berada duduk di sampingnya.


"Kamu ini, Zan .... Kita pergi hanya tiga hari, tapi kenapa kamu berekspresi seolah kita akan pergi berbulan-bulan?" tanyanya sambil tersenyum geli.


"Papa ini ... apa Papa tidak akan merindukan Mama?"


"Tentu saja Papa akan merindukan dia, Zan. Tapi, Papa tidak mau jika harus bersikap seperti kamu." Tuan Anderson kembali membenarkan posisi duduknya, sambil membuang pandangannya ke arah lain.


Arzan sendiri hanya bisa mendengus pelan saat mendengar ucapan sang papa. Dia memang merasa berat karena harus meninggalkan Allura dan Bintang. Bahkan Arzan sampai berandai-andai jika dia bisa membawa anak serta calon istrinya itu sekaligus.


Saat mobil yang mereka kendarai baru sampai bandara, Arzan segera mengirimkan pesan singkat untuk Allura. Dia memberi tahukan jadwal penerbangannya yang hanya tinggal lima belas menit lagi. Semua tingkah laku Arzan tak luput dari perhatian Tuan Anderson, pria paruh baya itu hanya bisa menggeleng pelan.


Ya Tuhan ... Arzan ... Arzan ... kamu sampai seperti itu jauh dari Allura dan Bintang, batinnya sambil tersenyum tipis.


***


Di kediaman keluarga Tuan Anderson, Allura dan Nyonya Fika tengah duduk sambil berbincang di ruang keluarga. Setelah Allura tadi membalas pesan Arzan, wanita itu kembali fokus pada calon mama mertua serta anak sambungnya.


"Ra, apa itu Arzan meneleponmu lagi?" tanya Nyonya Fika saat mendengar suara ponsel Allura yang kembali berdering.


Allura menggeleng pelan, ia tidak yakin jika yang saat ini menghubunginya adalah Arzan. Pasalnya, baru beberapa menit lalu Arzan berpamitan karena pesawat yang ia tumpangi akan lepas landas.


"Sepertinya bukan, Ma. Mas Arzan dan Papa sudah berangkat beberapa menit lalu," jawab Allura sambil bangkit dan menggapai ponsel yang ia simpan jauh dari Bintang.

__ADS_1


"Lalu, siapa yang sedang meneleponmu, Ra?" tanya Nyonya Fika lagi.


"Viana, Ma. Temanku. Boleh aku ijin untuk menjawabnya?"


Nyonya Fika mengangguk samar saat Allura meminta ijinnya. Gadis itu pun langsung menjawab penggilan dari Viana tak jauh dari sana. Sementara itu, Nyonya Fika terus memperhatikan raut wajah Allura yang tampak terkejut dan cemas dia menerima telpon itu. Hingga tak lama kemudian, panggilan Allura dan Viana pun berakhir.


"Ada apa, Lura?" tanya Nyonya Fika saat Allura sudah kembali duduk di sampingnya.


"Itu, Ma ... Viana ... Viana kecelakaan. Dia ... dia jadi korban tabrak lari karena menolong Mamaku di pasar," jawab Allura pelan sambil menundukkan kepalanya.


Nyonya Fika ikut terkejut saat mendengar penuturan Allura. Wanita paruh baya itu langsung menutup mulutnya dengan mata yang membesar.


"Ya Tuhan ... lalu, bagaimana dengan keadaan Ibu Ani? Apa dia baik-baik saja?" tanyanya dengan khawatir.


Allura mengangguk dan menjawab, "Mamaku baik-baik saja, beliau tidak apa-apa. Luka Viana pun tidak terlalu parah, Dia hanya memintaku untuk berhati-hati karena Viana bilang orang itu sepertinya sedang mengincarku."


"Mengincarmu? Tapi ... kira-kira siapa, Ra?"


Nyonya Fika pun langsung memeluk tubuh calon menantunya yang sudah mulai bergetar akibat menahan tangis. Dia sendiri tidak bisa menebak siapa yang sedang mengincar Allura, hingga berniat untuk melenyapkannya. Akan tetapi, tiba-tiba saja pikirannya teringat pada kejadian beberapa hari lalu.


Mungkinkah semua ini ulah Tuan Darion, atau ... putra angkatnya, Ethan? Sepertinya tidak mungkin Rivera, wanita itu sudah dalam keadaan kesulitan ekonomi. Jadi, dia tidak bisa menyewa jasa orang untuk mencelakai Allura dan keluarganya, batin Nyonya Fika. Tidak ada lagi orang yang bis dicurigai dalam hal ini selain dua orang itu.


"Sudahlah, Ra. Nanti kita akan jenguk Viana sama-sama," bujuk Nyonya Fika. Namun, Allura langsung menggeleng .


"Tidak, Ma. Viana memintaku untuk tetap berada di rumah. Dia ... dia memintaku untuk tidak menemuinya sementara waktu," jawab Allura.


"Lho, memangnya kenapa, Ra? Bukankah akan lebih bagus jika kita menemuinya?"


"Viana itu orangnya keras, Ma. Dia akan marah jika aku tidak menuruti keinginannya," jawab Allura sambil tersenyum kecut. Ya, Viana sudah seperti ibu kedua untuk Allura, meskipun usia mereka tak jauh berbeda, tapi Viana selalu bisa melindungi dan menjaganya.

__ADS_1


"Ya sudah, kalau begitu Mama akan meminta Edwin untuk menemui Viana dan menjaganya," ujar Nyonya Fika yang langsung diangguki oleh Allura.


"Maaf sudah merepotkan Mama," ucap Allura merasa tidak enak hati.


"Tidak apa-apa, kamu tidak merepotkan Mama, Ra." Nyonya Fika kembali memeluk Allura.


Setelah beberapa saat kemudian, Nyonya Fika segera menelpon Edwin untuk ia minta bantuan. Allura beruntung, baik sahabat, maupun calon mertuanya sangat menyayangi dia. Setelah melihat Nyonya Fika mengakhiri panggilannya, Allura pun segera menelepon Ibu Ani untuk menanyakan keadaannya saat ini. Cukup lama Allura menunggu hingga Ibu Ani menerima panggilannya. Hingga beberapa saat kemudian, barulah panggilan itu dijawab oleh seseorang di seberang sana.


"Assalamualaikum, Ma," sapa Allura dengan cemas.


"Wa'alaikum salam, Ra. Lura, kamu baik-baik saja 'kan, Nak?" tanya Ibu Ani dengan cemas.


Allura menganggukkan kepalanya beberapa kali seakan Ibu Ani yang bisa melihat apa yang dia lakukan.


"Aku baik-baik saja, Ma. Bagaimana dengan keadaan Mama, apa Mama juga baik-baik saja?" Allura pun sama cemasnya seperti Ibu Ani.


"Mama tidak apa-apa, Ra. Tapi ... Viana ...."


"Mama tidak perlu khawatir. Mama Fika akan menyuruh bawahannya untuk menjaga Viana," ucap Allura saat mendengar suara Ibu Ani yang seakan tercekat ketika akan mengatakan tentang keadaan Viana.


Nyonya Fika tak sekalipun jauh dari calon menantunya, ia tetap duduk di sana dan mendengarkan pembicaraan Allura dan Ibu Ani. Nyonya Fika tampak sangat cemas karena saat ini suami dan anaknya sedang berada jauh dari mereka dan tidak bisa menjaga dia serta Allura.


Ya Tuhan, kenapa semua ini seakan terencana. Orang itu ingin melukai keluarga Allura di saat Arzan tidak ada disini, batin Nyonya Fika.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Selamat pagi menjelang siang Kakak-kakak 👋👋👋 Gimana kabarnya hari ini? Semoga kalian sehat selalu 🤲🤲🤲. Sambil tunggu ini up, baca rekomendasi novel dari temanku yu 😊😊😊 Jangan lupa mampir, ya 🤗🤗🤗


...Nah, ini dia 👇👇👇...

__ADS_1



__ADS_2