
Hari menjelang pagi, udara dingin semakin terasa menusuk kulit saat Allura tersadar dari tidurnya, ditambah sentuhan halus pada kulit wajahnya membuat dia membuka matanya perlahan. Pandangan pertamanya jatuh pada sosok mungil disampingnya yang kini tengah tersenyum lembut. Ternyata, Bintang sejak tadi sudah terbangun lebih dulu darinya.
Allura pun langsung meraup tubuh mungil itu dan memeluknya. Meskipun Bintang belum sembuh total, tapi bintik-bintik di tubuhnya sudah berkurang dan samar. Bahkan napasnya pun sudah kembali normal.
"Sayang, maafkan Mama Rara karena sudah lengah menjagamu. Mama Rara janji, mulai sekarang Mama tidak akan meninggalkanmu, walaupun sebentar. Maaf karena sudah membuatmu merasakan sakit seperti tadi malam," gumam Allura seraya menciumi kening Bintang yang kini tengah menyender di dadanya.
Bayi itu terus mendusel-dusel kepalanya, ia seperti memberi isyarat jika saat ini dirinya tengah haus dan butuh asupan nutrisi. Allura mengetahui maksud Bintang. Tanpa menunggu lama, ibu sambung Bintang pung segera memberikan apa yang diinginkan oleh bayi itu. Namun, tentu saja ia menutupi sebagian tubuh dengan selendang guna menutupi aset berharganya.
Allura membelai kepala Bintang dengan penuh kasih sayang, rasa sesak di dadanya masih terasa hingga saat ini. Apalagi ketika ia melihat Bintang yang kesakitan karena alergi yang di deritanya. Hal itu membuat Allura sedikit trauma. Bahkan, tanpa sadar Allura ikut merutuki sikap Rivera pada Bintang.
Ternyata tidak semua wanita memiliki hati seorang ibu. Dia yang ibu kandungnya, tapi dia juga yang membuat anaknya sendiri menderita, batin Allura seraya menahan gemuruh emosi dihatinya.
Allura menatap jam yang terpasang di dinding ruangan itu. Waktu saat ini menunjukkan pukul tiga dini hari. Itu artinya ia baru tidur sekitar empat jam yang lalu. Namun, sekarang matanya sudah tak merasakan kantuk lagi. Apalagi setelah melihat senyuman manis Bintang padanya tadi.
Bintang sendiri pun tidak kembali tidur. Justru bayi itu malah mengajak Allura bermain dengan terus mengoceh. Meskipun keadaannya masih lemah, tapi bayi itu terlihat sangat bersemangat sekali dan membuat tersenyum lega karena melihat keaktifannya.
"Semoga kamu cepat sembuh, Nak. Supaya kita bisa pulang dan tidur di rumah dengan nyaman," ucap Allura yang ditanggapi suara bayi.
Ketika Allura dan Bintang masih bercengkerama, Arzan ikut terbangun. Pria itu memiliki telinga yang sangat sensitif saat sedang tidur dan membuatnya mudah untuk terbangun.
"Kenapa kalian tidak tidur?" tanya Arzan sembari mengusap wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuk. Pria itupun bangkit dan menghampiri anak serta istrinya yang sedang bergurau. "Bagaimana keadaan Bintang, Ra?" tanyanya lagi saat sudah berdiri di depan brankar.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Mas," jawab Allura.
Arzan tersenyum setelah mendengar jawaban Allura. Pria itu tidak kembali ke sofa, melainkan yang duduk di samping brankar dan ikut berinteraksi dengan Bintang. Kini, mereka bertiga layaknya keluarga kecil yang tengah berbahagia.
Saat menjelang subuh, Ibu Ani yang sedang terlelap pun bangun dari tidurnya. Wanita paruh baya itu menatap haru anak gadisnya yang sudah kembali ceria. Allura–nya sudah kembali tersenyum dan tidak termenung seperti tadi malam.
Ya Tuhan, terima kasih karena sudah mengembalikan kesembuhan untuk Bintang dan membuat putriku kembali ceria, batin Ibu Ani.
"Ra, bagaimana keadaan Bintang?" tanya Ibu Ani setelah beberapa saat hanya memperhatikan anak serta menantunya.
"Alhamdulillah, Ma. Bintang sudah lebih baik. Mudah-mudahan saja kembali sehat seterusnya," jawab Allura.
"Amiin," seru Arzan dan Ibu Ani secara bersamaan.
***
Di tempat lain, lebih tepatnya di sebuah kantor polisi. Seorang wanita tengah mengamuk sejak tadi malam, ia terus mengumpati mantan suami serta orang yang pertamanya ia percayai sebagai ibu susu sang anak. Siapa lagi kalau bukan Rivera. Dia merasa kesal sekaligus marah pada Arzan karena pria itu menolak untuk membebaskannya dan malah memberatkan dia dengan kejahatan yang pernah dilakukannya dulu.
"Arzan si*lan! Ba*ingan! Aku membencimu. Sampai aku mati pun, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Aku akan membalaskan semua rasa sakit yang sudah dia torehkan padaku. Bahkan Bapakku sendiri sampai membenciku gara-gara dia!" teriaknya di pagi buta itu.
Rivera tidak peduli jika teriakannya sudah mengganggu narapidana yang lain. Apalagi saat ini dirinya hanya sendirian berada dalam sel itu. Saat ditegur oleh penjaga pun Rivera malah balik membentaknya.
__ADS_1
"Hei! Tidak bisakah kamu tenang? Ini masih pagi buta, tapi sejak kamu bangun dari tidur tadi, malah membuat kegaduhan. Semua bukti-bukti kejahatan kamu sudah terkumpul dan terpampang jelas, seharusnya meminta maaf pada orang yang sudah menjadi korban kejahatanmu. Bukan malah semakin mencaci-maki!" tegur petugas jaga sel tempat Rivera berada.
Wanita itu tidak menjawab ucapan dari petugas penjaga, dia semakin gelap mata setelah mendengar teguran sang petugas yang semakin menyudutkan dirinya jika dia sudah bersalah. Sekarang dia tidak mempunyai apapun untuk dijadikan jaminan agar bisa melepaskan diri dari jeratan hukum. Bahkan pria-pria yang dulu begitu memujanya, kini tak ada satupun yang mau meliriknya.
Arzan juga sudah memberitahukan keadaan Rivera saat ini kepada orang tuanya. Namun, bapak kandung Rivera tidak terlalu memusingkan putrinya yang sedang ada dalam sel tahanan. Dia menyayangkan perlakuan Rivera pada Arzan. Padahal, bapaknya sudah sangat bahagia saat Tuan Anderson menjodohkan Arzan dengan Rivera, selain hutang-hutangnya lunas, kehidupan dia dan Rivera pun terjamin sejahtera. Akan tetapi, semuanya hancur seketika saat Rivera memilih untuk bercerai dari Arzan. Sejak itu pula bapak kandung Rivera tidak mempedulikan putrinya lagi.
"Tidak, aku tidak bersalah. Aku tidak mau tinggal di sini. Aku ... aku adalah model terkenal. Pekerjaanku banyak, aku tidak mau di sini. Aku adalah Rivera Carolline. Aku model cantik dan terkenal yang sedang naik daun," racau Rivera tiba-tiba.
"Suamiku, mana suamiku? Di mana dia!" sambungnya lagi sambil mengacak-acak rambutnya yang tak terikat.
Petugas yang sejak tadi memperhatikan tingkah laku Rivera mengedikkan bahunya seketika. Ia merasa sedikit merinding ketika melihat Rivera yang merasa seperti orang gila. Namun, saat perhatiannya kembali tertuju pada Rivera, ia melihat wanita itu sedang berusaha untuk melukai dirinya menggunakan jarum penitik yang terpasang pada b*a yang ia pakai. Rivera menusuk-nusukan jarum sedikit berkarat itu pada pergelangan tangannya.
"Hei, apa yang sedang kamu lakukan? Hentikan!" Petugas itu berusaha untuk merebut jarum penitik dari tangan Rivera, sedangkan wanita itu sendiri sudah tertawa terbahak-bahak tanpa mengindahkan perintah dari sang petugas.
Tak perlu waktu lama, penitik itupun sudah berpindah tangan. Petugas itu segera mengobati luka tusukan penitik. Lukanya memang kecil-kecil, tapi cukup banyak. Bahkan sudah ada yang bernanah. Entah sejak kapan Rivera melukai dirinya seperti itu.
Setelah luka itu dibersihkan, petugas itupun memasukkan kembali Rivera dalam jeruji besi, tentunya ia sudah memastikan tidak ada lagi benda tajam yang tertinggal di tubuh Rivera.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Rekomendasi Novel hari ini kakak-kakak 🤗🤗🤗
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya 😁