
"Nira adalah sepupuku yang di kampung," ujar Allura. Gadis itu tidak berniat untuk mengikuti arah permainan Nira terhadapnya. Meskipun Nira menolak untuk mengakui dirinya sebagai keluarga, tapi alura tidak ingin melakukan hal itu.
Allura memang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi di rumah keluarga Rafindra, tapi Allura akan mencoba untuk mencari tahunya sendiri. Dia tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan keluarga majikan, Allura hanya ingin mengetahui alasan sepupunya berada di tengah-tengah keluarga itu. Bahkan dia disambut baik oleh tuan pemilik rumah, Allura merasa ada yang janggal dengan keberadaan Nira di sana. Namun, dia belum mengetahui alasannya.
"Benarkah?" tanya Arzan yang terkejut atas pernyataan Allura. Dia tidak menyangka jika gadis yang masih berada di ruang tamu itu adalah sepupu dari ibu susu anaknya. Hal itu disebabkan sikap Nira yang seolah tidak mengenal Allura.
"Ya, sebenarnya saya merasa penasaran. Bagaimana bisa dia mengenal keluarga Anda, sedangkan setahu saya keluarganya tidak ada yang pernah ke kota selain kami," jawab Allura.
"Mungkin dia mempunyai kenalan atau pernah ke kota sebelumnya?" tebak Arzan.
Allura seketika itu juga menggeleng, dia menampik tebakan Arzan. Bahkan baru sebulan yang lalu dia menghubungi keluarga bibinya, saat memberitahukan kondisi Ibu Ani yang sedang dirawat di rumah sakit.
"Tidak, Tuan. Sebulan yang lalu, saya baru saja menghubungi keluarga Nira untuk meminta bantuannya menjaga Mama di rumah sakit. Tapi, tentu sana Bibi menolaknya, dengan alasan mereka sendiri sedang sibuk di sawah," ujar Allura.
Kini Arzan dibuat penasaran dengan niat dari sepupu Allura itu. Dia merasa seolah ada yang tidak beres dengan sepupu Ibu susu Bintang.
Sepertinya ada yang tidak beres dengan gadis itu. Mungkin Papa melewatkan suatu informasi, batin Arzan.
"Begitukah? Lalu, apa lagi yang kamu ketahui tentang keluarga sepupumu itu?" tanya Arzan. Dia menyempatkan diri untuk sedikit mengorek informasi tentang Nira lewat Allura, sepupunya.
Allura sadar, Arzan saat ini sedang mencari tahu tentang calon istrinya lewat dia dan itu sedikit membuatnya kesal.
"Kenapa Anda tidak coba tanyakan saja padanya? Dia 'kan calon istrimu. Jadi, silakan saja tanyakan semua yang ingin Anda ketahui padanya langsung. Jangan padaku!" sergah Allura dengan nada kesal. Lalu, gadis itu pun mengalihkan perhatiannya ke arah lain agar Arzan tidak melihat wajah kesalnya.
Arzan sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar perubahan nada bicara Allura. Bahkan gadis itu sekarang tidak lagi menatapnya, seolah-olah dia sedang kesal terhadapnya.
__ADS_1
Kenapa dia tiba-tiba berubah? Apa aku salah bicara lagi? Bukankah hal yang wajar jika aku ingin mengetahui tentang keluarganya? batin Arzan yang tidak peka terhadap perubahan sikap Allura padanya.
"Hei, kenapa nada bicaramu berubah? Apa aku mempertanyakan sesuatu yang salah?" tanya Arzan sambil menatap gadis disampingnya.
"Tidak." Bahkan Allura menjawab pertanyaan Arzan dengan singkat.
"Hei, katakan padaku jika aku memang salah. Jangan merubah sikap secara tiba-tiba seperti ini tanpa alasan!" ucap Arzan.
"Sikapku tidak berubah, Tuan. Tapi, jika anda ingin mencari informasi tentang calon istri Anda, sebaiknya jangan melalui wanita lain. Karena ... bisa saja saya malah menjelek-jelekkan dia dan membuat Anda tidak menyukainya," jawab Allura tegas.
Arzan terdiam seketika kala mendengar penuturan Allura, ia masih belum bisa menebak apa yang sebenarnya dirasakan oleh ibu susu anaknya itu.
Hei, tunggu. Apa dia sedang cemburu karena aku bertanya tentang wanita lain padanya? Jika 'Iya', itu sangat ... manis, batin Arzan sambil menipiskan bibirnya.
"Lura, kamu tahu–" Arzan meminta Allura untuk berbalik menatap ke arahnya.
"Apa?" jawab Allura dengan ketus.
"Aku tidak berniat untuk menerima perjodohan ini. Justru aku ingin menolaknya. Entah kenapa, aku merasa seperti ada yang sedang disembunyikan oleh sepupumu itu," ucap Arzan tiba-tiba.
"Kenapa Anda berpikir seperti itu, Tuan?"
"Aku juga tidak tahu. Sudahlah, kalau kamu tidak berniat untuk membantuku, setidaknya jangan bersikap acuh padaku," ucap Arzan sambil bangkit dari duduknya.
"Dasar aneh," gerutu Allura pelan. Namun, Arzan masih tetap bisa mendengarnya. Pria itu langsung menghentikan langkahnya dan berbalik lagi mendekati Allura yang masih duduk bersama Bintang.
__ADS_1
"Atas dasar apa kamu mengataiku aneh," tanyanya sambil berkacak pinggang di depan Allura.
"Iya, Anda aneh, Tuan. Bukankah tadi Anda menghampiri kami untuk bergabung bersama Bintang? Tapi, Anda langsung pergi begitu saja setelah pembicaraan kita selesai. Bahkan Anda juga tidak menyapa Bintang," jawab Allura.
Arzan kembali diam. Niat awalnya tadi memang untuk menghampiri Bintang, tapi dia sendiri yang malah melupakannya. Pria itu pun kembali duduk di samping Allura.
"Kemarikan Bintang!" pintanya sambil mengangsurkan tangannya kearah Bintang.
Allura tersenyum simpul saat melihat Arzan yang hendak menggendong anaknya. Dia pun segera memberikan bayi yang ada di pangkuannya pada Arzan.
Arzan menggendong Bintang dengan hati-hati, sedangkan Allura mencoba untuk mengajak bayi kecil itu berbicara. Diam-diam Arzan tersenyum lagi saat melihat Allura yang menunjukkan wajah jeleknya untuk menggoda Bintang hingga bayi itu tertawa kecil.
"Wajahmu mirip sekali dengan bebek," ucap Arzan tiba-tiba saat Allura sedang memperagakan wajah bebek di depan Bintang. Gadis itu langsung menghentikan ulahnya dan menatap nyalang pria yang sedang menggendong anaknya.
"Wah, ucapan Anda sangat tidak sopan, Tuan!" seru Allura sambil menunjukkan wajah marahnya.
Arzan malah tertawa kecil saat melihat Allura yang lagi-lagi bersikap menggemaskan. Andai saja hubungan mereka sudah sangat dekat, mungkin Arzan tidak akan segan-segan untuk mencubit kedua pipi wanita itu.
Namun untuk saat ini, Arzan hanya bisa tertawa menanggapi ocehan Allura yang sedang kesal padanya.
Tanpa mereka ketahui, ada tiga pasang mata yang sedang memperhatikan kebersamaan mereka.
"Pa, Mama baru kali ini lagi melihat Arzan yang tertawa lepas seperti itu," ucap Nyonya Fika pada suaminya.
Tuan Anderson sendiri tidak menanggapi ucapan istrinya, pria paruh baya itu langsung pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun.
__ADS_1