Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 73


__ADS_3

Pagi telah tiba, seorang pria dewasa tengah mempersiapkan diri untuk segera menjemput seseorang yang kini selalu ada dalam hatinya.


Arzan Rafindra, baru pertama kali dia merasa nervous saat hendak bertemu dengan orang yang disukainya. Meskipun dia seorang duda, nyatanya dia sama sekali tidak merasa gugup saat bersama dengan mantan istrinya dulu, Rivera. Kali ini dia mempersiapkan dirinya sebaik mungkin, agar tidak mengecewakan calon ibu mertua yang sedang berusaha ia dekati.


Ambil dulu hati ibunya, baru nanti anaknya, gumam Arzan sambil merapikan kembali tampilannya.


Nyonya Fika mengernyit heran saat memasuki kamar sang anak yang tidak tertutup rapat, dia melihat anaknya sedang merapikan tampilannya sambil bersenandung.


Tidak biasanya Arzan terlihat seceria ini. Apa dia sedang jatuh cinta? Mungkinkah itu pada Allura? Atau ... gadis lain? Tidak ... tidak ... jangan sampai Arzan terpikat oleh wanita lain selain Allura, batin Nyonya Fika sambil terus memperhatikan Arzan dari ambang pintu kamar.


"Mama, sedang apa di sana?" tanya Arzan saat ia menyadari kehadiran sang mama yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya.


"Hmmm ... ti–tidak ada apa-apa. mama hanya ingin memanggilmu karena sudah waktunya sarapan," jawab Nyonya Fika sambil terus meniti penampilan anaknya.


"Mama kenapa?" Arzan menatap Nyonya Fika yang sedang memperhatikan penampilannya sambil sedikit memicingkan matanya.


"Kamu mau ke mana? Penampilanmu pagi ini terlihat berbeda," tanya Nyonya Fika sambil terus menatap lekat anaknya.


Arzan tersenyum kecil saat mendengar pertanyaan sang mama. Pria dewasa berusia tiga puluh tahun itu tersipu malu kala mendapat tatapan dekat dari mamanya. Akhir-akhir ini Arzan semakin menunjukan ekspresinya, dia sudah jarang menampilkan wajah dingin dan datarnya.

__ADS_1


"Itu, Ma ... aku ... aku akan menjemput Allura dan Bintang di rumah Ibu Ani," jawab Arzan seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"O ... h, pantas saja kamu terlihat riang seperti ini, tidak biasanya," ucap Nyonya Fika sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya menggoda Arzan.


"Apa sih, Ma. Sudahlah ... ayo kita segera sarapan." Arzan merangkul bahu sang mama dan mengajaknya turun untuk sarapan bersama.


Di bawah, ternyata sudah ada Tuan Anderson yang menunggu kedatangan mereka. Pria paruh baya yang masih terlihat segar bugar itu tengah menikmati roti isi, serta kopi hitam yang sudah tersaji di hadapannya.


"Kenapa kalian lama sekali?" tanya Tuan Anderson pada anak dan istrinya yang baru saja duduk di kursi meja makan.


Tuan Anderson menampilkan ekspresi yang sama seperti pertama kali Nyonya Fika melihat penampilan Arzan, pria itu menatap penampilan anaknya dengan teliti seraya mengernyitkan keningnya.


"Kamu mau kemana, Zan? Tumben sekali? Bukankah ini weekend? Apa kamu sedang memiliki janji temu dengan seseorang sepagi ini?" tanya Tuan Anderson.


"Bukan, Pa. Arzan mau ketemu Ibu Ani, dia mau menjemput Allura dan Bintang yang sedang menginap di sana," kata Nyonya Fika sambil melirik anaknya yang sedang berpura-pura acuh.


"Lho, memangnya Allura dan Bintang menginap di rumah Bu Ani, Zan?" tanya Tuan Anderson dengan menampilkan ekspresi terkejutnya.


Arzan menyadari ekspresi sang papa, ia langsung menatapnya sambil menganggukkan kepala. "Iya, Pa. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Ya Tuhan, Zan .... Apa kamu lupa, Allura 'kan sedang menyusui Bintang. Mereka juga tidak membawa botol susunya. Lalu, bagaimana jika Ibu Ani mengetahui Allura menjadi ibu susu Bintang?"


Baik Arzan, maupun Nyonya Fika langsung mematung seketika setelah mendengar ucapan Tuan Anderson. Mereka benar-benar melupakan hal itu.


"Ya Tuhan ... Mama juga lupa, Pa. Bagaimana jika sampai Ibu Ani mengetahui hal ini? Apa yang akan kita sampaikan padanya?" tanya Nyonya Fika yang mulai heboh. Dia sangat takut jika kabar tentang Allura yang menjadi ibu susu untuk cucunya, membuat Ibu Ani terkejut dan menyebabkan penyakitnya kembali kumat.


"Mudah-mudahan saja Ibu Ani tidak kembali kumat, Ma. Papa merasa sangat was-was dan juga khawatir," tanggap Tuan Anderson.


"Zan, apa Allura tidak menghubungimu?" tanya Nyonya Fika pada anaknya.


Arzan menggeleng lemah, dia juga ikut salah karena teledor dengan membiarkan Allura menyusui Bintang di rumah kontrakan mamanya.


"Allura tidak menghubungiku, Ma. Semoga saja Ibu Ani tidak mengetahui hal ini. Aku sangat khawatir beliau kembali jatuh sakit karena shock," jawab Arzan.


Lantas, Arzan pun segera mengambil ponselnya yang di simpan dalam saku celananya untuk menghubungi Allura. Cukup lama Arzan menunggu hingga panggilannya dijawab oleh Allura di seberang sana.


"Bagaimana, Zan. Apa Allura belum menjawab panggilan telepon darimu?" tanya Nyonya Fika dengan raut wajah yang sudah panik.


"Belum, Ma."

__ADS_1


"Sudahlah, ayo kita sarapan dulu. Setelah itu kita ke rumah Allura bersama-sama," saran Tuan Anderson yang langsung diangguki oleh Nyonya Fika dan Arzan.


Akhirnya, ketiga orang itu pun meneruskan acara sarapan mereka dengan hati yang tidak tenang. Bahkan, Arzan beberapa kali tersedak oleh minumannya sendiri. Setelah selesai mengisi perutnya, mereka pun memanggil Pak Ujang untuk mengemudikan mobil menuju rumah Ibu Ani berada.


__ADS_2