
Waktu terus berjalan, tapa terasa hari sudah menjelang malam. Setelah makan malam selesai, keluarga itupun memutuskan untuk berkumpul di ruang keluarga terlebih dulu sebelum mereka kembali ke kamarnya masing-masing.
Arzan dan Tuan Anderson sibuk dengan pembicaraan mereka mengenai pekerjaan, sedangkan Allura dan Nyonya Fika sibuk bercanda bersama Bintang. Kini bayi merah itu sudah belajar duduk, dengan badannya yang sedikit gempal, membuat bayi itu lucu ketika sedang bermain.
"Wah, Bintang sekarang sudah pintar duduk, ya, Ra!" seru Nyonya Fika seraya bertepuk tangan.
"Iya, Ma. Sebentar lagi pasti akan merangkak," sahut Allura.
Tawa keduanya semakin pecah tak kala Bintang ikut tertawa sambil menunjukkan kedua giginya yang baru tumbuh.
"Ra, Bintang sekarang sudah ada gigi. Apa dia juga selalu menggigitimu juga?" tanya Nyonya Fika yang sedari tadi begitu antusias dengan semua perkembangan cucunya. Meskipun Bintang baru keluar rumah sakit tadi siang, kini bayi itu sudah lebih baik.
"Sering, Ma. Tapi, tidak sampai membuatku luka-luka," jawab Allura sambil tersenyum simpul.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Dulu, Mama tidak sempat menyusui Arzan karena memang ASI-nya tidak keluar. Meskipun Mama sudah berusaha memakai cara apapun, tetap saja pada akhirnya Arzan hanya diberi susu formula," ucap Nyonya Fika sambil menerawang jauh, ia kembali mengingat bagaimana perjuangannya dulu untuk bisa memberikan ASI pada anaknya.
"Jadi, Mama dulu tidak menyusui Mas Arzan?"
Nyonya Fika menggeleng sambil membenarkan pertanyaan menantunya. "Tidak, Ra."
Allura menganggukan kepalanya tanda mengerti. Kedua wanita itupun kembali sibuk bersama bayi kecil di depannya. Setelah beberapa saat berbincang, Allura pamit pada mama mertuanya karena melihat Bintang yang sudah mulai mengantuk.
"Ma, aku pamit untuk menidurkan Bintang. Sepertinya dia sudah sangat mengantuk sekarang," ucap Allura sambil memangku bayi itu di tangannya.
"Tunggu, Ra." Nyonya Fika menghentikan langkah Allura yang hendak menaiki tangga.
"Ada apa, Ma?" tanya Allura sambil mengerutkan keningnya.
"Tidak apa-apa. Ayo kita ke atas bersama," jawab Nyonya Fika seraya merangkul bahu Allura untuk ia bawa ke atas.
Tanpa banyak bertanya, Allura pun mengikuti langkah Nyonya Fika. Namun, gadis itu merasa sedikit heran karena mama mertuanya membawa dia masuk ke dalam kamar lain dan bukan kamar yang diperuntukkan Arzan.
__ADS_1
"Kenapa ke kamar ini, Ma?" tanya Allura.
"Sini, Bintang biarkan tidur bersama Mama." Nyonya Fika menepuk-nepuk tempat tidurnya dan meminta Allura untuk membaringkan Bintang di sana.
"Tapi, Ma–"
"Sudahlah ... tidak apa-apa."
Allura terdiam seraya tersenyum kaku. Ia mengerti jika mama mertuanya bermaksud memberikan waktu untuk dia dan suaminya. Akan tetapi, Allura merasa tidak enak hati karena harus meninggalkan Bintang bersama sang mama.
"Kamu tidak perlu khawatir dan merasa tidak enak, Ra. Mama juga pernah muda. Jadi, Mama tahu apa yang kamu dan Arzan perlukan," ucap Nyonya Fika lagi ketika Allura masih terdiam di tempatnya.
"Tapi, Ma–"
"Akan menjadi dosa, Ra. Jika kita menolak ajakan suami. Kamu tidak mau 'kan mendapat dosa itu?" tanya Nyonya Fika lagi yang langsung membuat Allura menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Maka dari itu, biarkan Bintang tidur malam ini bersama Mama dan Papa. Malam ini pasti dia akan tidur nyenyak," tambah Nyonya Fika lagi. Kali ini wanita paruh baya itu mengambil Bintang dari tangan menantunya, ternyata bayi itu sudah terlelap sejak masih dalam dekapan Allura.
Allura tersenyum kecil mendengar ucapan Mama mertuanya, ia sudah tidak sanggup lagi berkata-kata. Ya, meskipun dirinya terus-menerus mengulur waktu, tapi tetap saja saat-saat itu akan ia lewati.
Sudahlah, sepertinya aku harus benar-benar menyerah untuk tidak mengulur waktu lagi. Lagi pula, aku tidak mau menjadi istri durhaka karena sudah menolak setiap ajakan suamiku, batin Allura membenarkan ucapan sang mama mertua.
"Baiklah, Ma. Mohon bantuannya. Dan ... maaf karena aku selalu merepotkan Mama."
"Tidak, Ra. Ini sudah menjadi tanggung jawab Mama sebagai mertuamu. Lakukanlah apa yang perlu kamu lakukan." Nyonya Fika kembali memeluk Allura sebelum membiarkan wanita muda itu keluar dari kamar miliknya.
"Lura pamit masuk kamar dulu, Ma," ucap Allura begitu pelukan itu terlepas.
"Baiklah." Nyonya Fika pun membiarkan menantunya keluar dari kamar. Namun, baru beberapa langkah Allura beranjak, tiba-tiba ia mengingat sesuatu. "Ra, tunggu sebentar!"
Allura menghentikan langkah dan berbalik menatap Nyonya Fika yang sedang mengambil sesuatu di dalam lemarinya. Tak lama kemudian, wanita paruh baya itu pun memberikan sebuah paper bag kecil ke tangan Allura.
__ADS_1
"Pakai ini!" perintahnya sambil sedikit mendorong tubuh Allura agar ia segera masuk ke kamarnya sendiri.
"Apa ini, Ma?" tanya Allura seraya hendak membuka paper bag gitu, tetapi gerakannya segera ditahan oleh Nyonya Fika.
"Jangan di buka di sini! Cepat masuk ke kamar dan segera ganti bajumu dengan itu," perintah Nyonya Fika.
Allura pun tidak membantah lagi, ia mengikuti perintah mama mertuanya. Sesampai di kamar, Allura segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menggosok gigi serta mencuci kakinya. Namun, saat hendak mengganti pakaian, matanya membeliak seketika. Bagaimana tidak, baru kali ini Allura melihat sebuah lin*erie se*si berwarna merah di tangannya dan ia dapatkan dari orang tua suaminya.
"Kenapa Mama Fika memberikanku ini?" gumam Allura sambil memerhatikan potongan kain tipis itu.
"Apa benar aku harus memakai ini? Tapi ... pasti akan malu sekali saat Mas Arzan melihatnya nanti." Lagi-lagi gadis itu bergumam sendirian di dalam kamar mandi.
Setelah menimbang cukup lama, akhirnya ia pun memutuskan untuk menyimpan kembali kain tipis pemberian mama mertuanya itu dan memilih untuk mengambil salah satu baju tidur yang ada dalam lemarinya. Akan tetapi, ketika ia membuka lemari, baju baju tidurnya tidak ada di sana. Bahkan Allura sampai mencarinya ke segala sudut, tapi tetap tidak ia temukan.
"Di mana semua baju-baju tidurku? Kenapa tidak ada di sini?" tanya Allura lagi. Tidak mungkin dirinya tidur dengan mengenakan celana levis.
"Sudahlah .... Untuk malam ini saja aku kenakan itu," gumam Allura seraya kembali berjalan memasuki kamar mandi.
Tak berselang lama, ia pun melihat pantulan dirinya di dalam cermin. Gaun lin*erie itu melekat indah di tubuh rampingnya, begitu kontras dengan warna kulitnya yang kuning langsat.
"Tidak buruk juga," ucap Allura sambil tersenyum menatap tubuhnya. "Sebaiknya aku segera keluar. Jangan sampai Mas Arzan melihatku berpenampilan seperti ini, atau nanti bisa-bisa dia mengira aku berniat untuk menggodanya," gumam Allura lagi.
Gadis itupun keluar dari kamar mandi seraya berjalan cepat menghampiri tempat tidur. Namun, belum sempat langkah kakinya mendekati ranjang tiba-tiba ....
"Rara ...."
...❤️❤️❤️❤️❤️...
Rekomendasi Novel hari ini kakak-kakak 👋👋👋
Jangan lupa mampir ya 🤗🤗🤗
__ADS_1