
Allura sedang berdiri sambil menatap ponselnya di kamar. Beberapa menit yang lalu, ia baru saja selesai menghubungi Ibu Ani yang masih berada di rumah sakit. Tadi, Ibu Ani menghubunginya untuk memberitahukan jika ada seseorang yang membantu Allura untuk biaya pengobatan Ibu Ani. Bahkan orang itu juga memindahkan Ibu Ani ke ruang rawat VIP demi ketenangan dan kenyamanannya.
Namun, saat Allura menanyakan siapa orang yang sudah membantu mereka, Ibu Ani tidak bisa memberitahukannya karena ia juga memang tidak mengetahui siapa orang yang sudah repot-repot membantunya.
"Kira-kira ... siapa yang sudah membantu pengobatan Mama? Kenapa orang itu mau membantu kami? Apa alasannya? Bahkan orang itu juga sampai repot-repot mencarikan pendonor untuk Mama," gumam Allura sambil melihat kearah jendela.
Sedangkan Bintang baru saja tertidur beberapa menit yang lalu sebelum Allura dihubungi oleh mamanya. Gadis itu kembali duduk di pinggir kasur, ia masih memikirkan siapa orang yang sudah membantu mamanya. Namun, hingga beberapa saat berlalu, pikirannya tidak bisa menebak orang itu karena dia dan mamanya memang tidak mempunyai kenalan dari kalangan atas.
"Sudahlah. Semoga saja orang itu tidak memiliki niat buruk padaku ataupun pada Mama," ucap Allura akhirnya. Meskipun saat ini dirinya sangat penasaran, tapi untuk saat ini ia masih belum bisa keluar dari rumah itu lagi.
Nyonya Fika memang membolehkan Allura untuk keluar dari rumah kapanpun dia mau, tapi gadis itu merasa tidak enak hati jika terlalu memanfaatkan kebaikannya. Jadi, Allura memilih untuk mengunjungi Ibu Ani di weekend saja.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi mata Allura belum juga terpejam. Pikiran gadis itu tiba-tiba teringat pembicaraannya bersama Arzan saat tadi ia memasak sup ikan untuk tuannya.
Flashback on
"Kamu bisa berbicara menggunakan bahasa Korea?" tanya Arzan dengan nada terkejut, ia tidak menyangka jika ternyata Allura bisa menggunakan bahasa Korea dengan benar.
"Kenapa? Apa ada yang salah jika saya menggunakan bahasa itu?" tanya Allura sambil memotong-memotong ikan yang tadi sudah disiapkan.
__ADS_1
"Tidak. Tapi ... cukup menakjubkan juga," jawab Arzan.
"Saya masih sedang belajar, Tuan. Saya berharap untuk bertemu dengan idola saya suatu saat nanti," jawabnya dengan antusias.
Arzan mengernyitkan keningnya saat mendengar jawaban Allura, ia menarik sudut bibir secara sebelah alisnya dan menatap Allura. Ia berpikir jika gadis itu terlalu berlebihan.
"Memangnya siapa idola favorite-mu itu?" tanya Arzan bernada acuh. Padahal, dalam hatinya sudah sedikit panas, ternyata ibu susu anaknya memiliki tipe pria idaman lain dan mungkin itu bukan dirinya.
"Sama seperti kebanyakan gadis lain. 'Cha Eun-woo' ... akh, pria yang manis," jawab Allura sambil menerawang jauh dan tersipu malu.
Berbeda halnya dengan Arzan. Andai pria itu mempunyai taring dan tanduk, mungkin saat ini sudah keluar karena saking kesalnya, bahkan wajahnya kini sudah merah padam.
Setelah berkata seperti itu, Arzan pun meninggalkan Allura di dapur sendirian. Sedangkan dirinya duduk di depan televisi dengan perasaan kesal yang tidak bisa ia jelaskan.
Berani-beraninya dia mengagumi pria lain di depan wajahku! Apa yang dia pikirkan tentangku? Huh, pria itu tidak ada apa-apanya dibandingkan aku, batin Arzan seraya mengacak-ngacak rambutnya.
Allura sendiri hanya bisa berkedip heran menatap perubahan emosi Arzan yang tiba-tiba, ia tidak mengetahui letak kesalahannya sehingga membuat pria itu kesal.
Dasar Tuan aneh, gumam Allura seraya mulai mengerjakan kembali tugasnya.
__ADS_1
Flashback off
Gadis itu tersenyum aneh saat memikirkan kejadian tadi, sampai saat ini ia masih belum mengerti dengan sikap Arzan padanya.
"Bi, tidak mungkin 'kan jika Papamu itu cemburu pada Mbak?" tanya Allura pada Bintang yang sedang tertidur lelap.
Allura kembali tersenyum kecil saat melihat gerakan bibir Bintang seperti yang sedang menyusu, ia merasa gemas sendiri hingga membuatnya bangkit dan segera mengecup ringan kening serta kedua pipinya.
"Pipimu makin berisi, Dek. Mbak jadi makin gemes," ucapnya seraya mencolek-colek pipi Bintang.
Namun, bagaimanapun cara Allura untuk membangunkan Bintang, bayi itu tak kunjung bangun hingga membuat Allura merapatkan tubuhnya dan memeluk tubuh kecilnya.
***
Di kamar Arzan, ia masih merasa kesal saat mengingat bagaimana reaksi Allura saat menyebutkan salah satu aktor dari negeri ginseng itu.
"Bahkan dia sampai bersemu merah saat ingat dengan aktor itu," gumamnya kesal sambil mencebik dalam hatinya.
"Memangnya apa bedanya aku dengan dia? Aku juga tidak kalah tampannya dari, tubuhku pun bagus, tak ada lemak bergelambir, kulitku mulus, wajahku juga tidak kalah tampan dari dia, aku juga pria yang cukup sukses. Hanya saja aku sudah mempunyai anak," gumam Arzan lagi seraya membandingkan diri dengan idola ibu susu anaknya.
__ADS_1
Sepanjang malam pria itu tidak bisa memejamkan matanya saking kesal, akhirnya ia pun memilih bangun dan keluar dari kamarnya menuju ruang kerja, ia berharap bisa mengalihkan pikirannya dari Allura dan fokus mengerjakan berkas-berkasnya.