
Allura sedang bersama Bintang, mereka tengah menghabiskan waktu bersama dengan Nyonya Fika di taman samping rumah. Tadinya hanya ada Allura dan Bintang saja, tapi kemudian datang Nyonya Fika.
"Lura, tadi aku sempat mencarimu di kamar. Tapi ternyata kata Bibi kamu sedang di sini," ucap Nyonya Fika sambil memainkan tangan mungil cucunya.
"Iya, Nyonya. Saya kemarin sore berniat ingin menghabiskan waktu di sini, tapi tidak sempat. Jadi, saya baru kemari sekarang. Ada apa Nyonya mencari saya?" tanya Allura.
Nyonya Fika menggelengkan kepalanya seraya tersenyum kecil.
"Tidak ada, aku hanya ingin ngobrol saja denganmu," jawab Nyonya Fika.
Allura menganggukan-anggukkan kepalanya beberapa kali, setelahnya kembali terdiam. Selanjutnya, ia merasa penasaran dengan keberadaan Rivera yang tidak di ketahui setelah keluar dari rumah sakit. Bahkan Allura merasa heran karena selama hampir tiga minggu itu, Rivera tidak pernah menjenguk Bintang, anaknya.
Namun, Allura merasa sedikit sungkan untuk menanyakan hal itu. Sepertinya aku tidak baik bertanya tentang Nyonya Rivera. Sudahlah, lagi pula itu bukan urusanku, gumamnya.
"Lura, apa kamu tahu–" Nyonya Fika kembali menatap Allura. Begitupun dengan Allura yang menatap balik.
"Ada apa Nyonya?" tanya Allura saat melihat Nyonya Fika yang tak kunjung meneruskan perkataannya.
Terdengar embusan nafas kasar dari hidung Nyonya Fika, ia seperti sedang menahan kegelisahan yang tak kunjung reda dan itu membuat Allura semakin penasaran.
Sebelum berbicara, Nyonya Fika terlebih dulu tersenyum kecut, pikirannya tiba-tiba kembali melayang pada Rivera, menantunya. Hingga sampai saat ini wanita itu belum kembali menemuinya, ia ingin sedikit berbagi cerita dengan Allura.
"Lura, bukankah saat itu kamu mengatakan, jika Rivera yang memintamu untuk menjadi ibu susu Bintang terlebih dulu?" tanya Nyonya Fika.
Allura pun mengangguk dan membenarkan pertanyaan Nyonya Fika. "Benar, Nyonya. Saat itu saya ... saya sedang membutuhkan biaya untuk pengobatan ibu. Jadi, saya menerima tawaran Nyonya Rivera untuk menjadi ibu susu anaknya," jawabnya tanpa mengalihkan tatapan dari Bintang yang sedang ia susui.
"Tapi ... apa kamu mengetahui alasan Rivera yang tidak mau menyusui anaknya secara langsung?"
Allura kembali menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Saat itu Allura memang pernah bertanya tentang alasan Rivera yang tidak mau menyusui anaknya, tapi wanita itu memilih untuk tidak menjawabnya.
__ADS_1
"Maaf, Nyonya. Saya tidak mengetahui alasan Nyonya Rivera kenapa tidak melakukan hal itu."
"Oh. Lalu, bagaimana Rivera bisa bertemu denganmu?" tanya Nyonya Fika lagi, ia semakin penasaran dengan asal-usul Allura yang bisa menjadi susu Bintang begitu saja.
"Sepupunya sahabat saya kerja sebagai pelayan di rumah orang tuanya Nyonya Rivera. Dan ... sahabat saya yang menawari pekerjaan ini," jawab Allura lagi. Entah kenapa, ia merasa jika Nyonya Fika sedang mencari informasi tentang Rivera lewat dirinya.
"Oh. Jadi, sebelumnya kamu tidak mengenal Rivera sama sekali?"
Allura kembali menggelengkan kepalanya. "Tidak, Nyonya. Saya hanya mengetahui Nyonya Rivera adalah seorang model yang sedang naik daun," jawabnya.
Saat Allura dan Nyonya Fika masih asyik mengobrol, bayi merah di tangannya tiba-tiba menarik anak rambut Allura yang tergerai sehingga membuat Allura menengok kearahnya.
"Apa, Dek? Dari tadi Adek dicuekin sama Mbak dan Oma, ya?" tanya Allura pada Bintang.
Bayi itu kembali menjadi pusat perhatian Allura dan Nyonya Fika. Mereka merasa gemas pada Bintang karena bayi itu sedang mencoba untuk mengajak berbicara dengan menggerak-gerakkan bibir mungilnya. Sehingga membuat Nyonya Fika dan Allura melupakan obrolan mereka dan terfokus pada Bintang.
Semua interaksi mereka bertiga terus diperhatikan oleh Tuan Anderson, pria paruh baya itu diam-diam tersenyum saat melihat Nyonya Fika tertawa lepas melihat cucunya yang menggemaskan.
"Huft, andai saja Fika mau mengalah, pasti aku tidak akan sekacau ini," gumam Tuan Anderson seraya mengusap wajahnya dengan kasar.
"Padahal, tidak ada salahnya untuk kembali menjodohkan Arzan. Adnan itu orang baik, mungkin putrinya juga akan baik dan bisa menerima Bintang sebagai anaknya," ucapnya lagi sambil berlalu meninggalkan taman.
***
Arzan sampai rumah saat hari mulai larut, di mana orang-orang sudah makan malam duluan tanpanya. Entah ada angin apa, dirinya sangat ingin kembali mencicipi sup ikan buatan Allura. Padahal, di atas meja makan sudah tersedia berbagai macam lauk yang biasa ia makan, tapi Arzan hanya menatapnya saja tanpa minat.
Arzan ingin meminta Allura untuk membuatkannya, tapi pria itu gengsi untuk mengatakannya langsung. Jadi, ia pun berusaha untuk membuatnya sendiri.
Allura melewati Arzan saat hendak mengambil air minum di dapur, wanita itu terdiam dan berdiri di belakang Arzan tanpa sepengetahuan orangnya. Ia terus memperhatikan gerak-gerik Arzan yang tengah mencoba untuk mengupas bawang di tangannya, sesekali pria itu juga terdengar menggerutu karena merasakan perih di matanya akibat bawang itu.
__ADS_1
Allura terkekeh pelan saat melihatnya, tapi ia pun merasa sedikit kasihan. Jadi, Allura datang mendekat dan menyapanya.
"Tuan, apa yang sedang Anda lakukan di sini? Bukankah makanan sudah tersedia di atas meja?" tanyanya sambil melihat pisau di tangan pria itu.
Arzan berbalik dan menyimpan pisau serta bawang merah di tangannya, wajahnya memang terlihat dingin dan datar tanpa ada lekukan di bibirnya, tapi percayalah, ia bersikap seperti itu hanya untuk menetralkan degup jantung yang sedang berpacu.
"Apa urusanmu? Terserah aku saja mau berbuat apapun, ini 'kan dapurku juga," jawabnya sambil mengalihkan perhatiannya ke arah lain.
Allura menanggapi ucapan Arzan dengan mengangguk-anggukan kepalanya sesaat, kemudian wanita itu pun mengambil gelas yang ada di rak piring dan berjalan menuju tempat di mana galon air berada. Enggan baginya untuk mengetahui pekerjaan pria itu. Apalagi setelah mendengar nada bicara yang menurutnya sinis.
Arzan dibuat melongo dengan tindakan Allura, tadinya ia berfikir jika Allura akan dengan senang hati membantunya memasak, tapi ternyata tidak. Kenyataannya Allura tidak memedulikannya dan memilih untuk pergi dari sana meninggalkan Arzan yang masih berdiri mematung.
"Hei!"
Arzan menghentikan langkah Allura yang hampir mendekati pintu penghubung dapur dan ruang makan, hingga membuat wanita itu membalikkan badannya.
"Anda memanggil saya, Tuan?" tanyanya sambil menunjuk kearah dirinya.
"Tentu saja, memangnya siapa lagi yang sedang ada di sini selain kamu dan aku?" tanya Arzan bernada ketus.
Allura membuang mukanya dan mendengus kesal, ia tidak berani melawan Arzan secara langsung, tapi ia juga tidak bisa menutupi kekesalannya terhadap pria itu.
"Ya, Tuanku yang terhormat, adakah yang bisa hamba lakukan untukmu?" tanya Allura sambil menggertakkan giginya.
Arzan tertawa dalam hatinya saat mendengar nada ketus Allura, ia sadar wanita di depannya itu sedang kesal dan marah padanya. Namun, saat ini keinginannya untuk memakan sup ikan lebih besar, jadi ia tidak memedulikan kemarahan Allura padanya.
"Buatkan aku suka ikan seperti yang kamu masak kemarin!" perintahnya sambil melirik ikan yang sudah disiapkan di atas meja dapur.
"Algessseubnida, Seensaengnim."
__ADS_1
Allura berjalan mendekati ikan yang ada di dekat Arzan yang masih mematung. Pria itu terkesiap saat mendengar jawaban Allura yang tiba-tiba berbicara bahasa Korea.
"Kamu bisa berbicara menggunakan bahasa Korea?"