
Arzan berjalan dengan cepat menuju ruang rawat Ibu Ani. Namun, sesampai di sana, dia tidak mendapati siapa pun. Ruangan itu sudah kosong dan sedang dirapikan oleh OB yang bertugas membersihkan setiap ruang rawat.
"Mas, apa Ibu Ani sudah menuju ruang operasi?" tanya Arzan dengan napas tersengal-sengal.
Saat tadi dalam perjalanan, mobil yang dibawa Pak Ujang mendadak mogok dan itulah yang membuatnya datang terlambat karena harus menunggu taksi online terlebih dulu.
"Oh, maksud Tuan, Ibu yang dirawat di ruangan ini?" tanya OB itu.
Arzan langsung mengangguk, membenarkan pernyataan OB itu. "Iya, Mas."
"Tadi ada beberapa perawatan yang membawanya ke luar ruangan. Semua keluarganya ikut serta, Tuan," jawab OB itu.
"Baiklah. Terima kasih informasinya, Mas." Tanpa menunggu lama, Arzan melanjutkan langkahnya menuju ruang operasi.
Hatinya kembali berdebar kala ia melihat gadis yang sangat dikenalnya, tengah duduk lesu bersama dua orang yang tidak Arzan ketahui. Arzan bisa melihat raut wajah cemas pada gadis itu.
Rasa sesak seolah tiba-tiba datang menghampirinya. Dia tidak menyangka, jika dewi penolongnya adalah gadis yang selama ini selalu menjadi teman debatnya yang selalu dikatain 'wanita aneh' olehnya.
"Allura," panggil Arzan saat ia sudah berdiri di depan ketiga wanita itu.
Allura yang merasa dipanggil langsung mendongak dan melihat seseorang yang sudah memanggil namanya. Tak hanya Allura saja, tapi Viana dan Bibi Erni juga melihat kedatangan Arzan.
"Tuan, apa yang sedang anda lakukan di sini? Maaf jika saya sudah meninggalkan Bintang bersama Nyonya Fika. Tapi, Nyonya Fika sudah memberikan izin untuk saya hari ini," ucap Allura begitu ia bangkit dari duduknya. Gadis itu masih belum mengetahui, jika Arzan—lah yang sudah membantu meringankan semua biaya rumah sakit mamanya.
Arzan menggelengkan kepalanya beberapa kali, dia tidak hanya datang untuk mencari Allura. Namun, dia juga memang berniat untuk menemui Ibu Ani.
"Aku datang kemari memang untuk menemuimu. Tapi, bukan untuk mengajakmu pulang," jawab Arzan.
__ADS_1
Allura sedikit mengernyitkan keningnya setelah mendengar ucapan Arzan. "Maksudnya, Tuan?"
"Bisakah kita berbicara sebentar? Tidak perlu jauh dari sini. Kita duduk di bangku sana saja," jawab Arzan sambil menuntun Allura menuju bangku panjang, tempatnya tak jauh dari tempat semula Allura duduk bersama Bibi Erni dan juga Viana.
Allura mengikuti langkah kaki Arzan dan duduk disampingnya. Arzan tanpa sadar terus menggenggam tangan gadis itu dan Allura pun hanya membiarkannya.
"Jadi, apa yang ingin Anda bicarakan, Tuan?" tanya Allura saat mereka sudah duduk.
"Sebelumnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Arzan mulai mengutarakan niat awalnya untuk bertemu dengan gadis penolongnya.
"Silakan, Tuan. Sepertinya hal yang sangat penting?" tebak Allura dengan tatapan bertanya.
"Apa ... apa benar kamu yang sudah menolongku dari kecelakaan yang menimpaku satu bulan lalu?" tanya Arzan langsung pada intinya.
Allura terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Arzan, ia mencoba untuk mengingat-ingat apa yang terjadi sebulan lalu. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya gadis itu pun menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Iya, benar, Tuan. Apa ada masalah dengan itu?" tanyanya.
Gadis itu merasa sedikit aneh dengan perilaku Arzan, dia tidak menyangka jika Arzan akan sangat berterima kasih padanya karena sudah membantu dia untuk keluar dari bahaya maut itu. Padahal, Allura sendiri sudah melupakan kejadian itu. Dia tidak berani untuk mengingat kejadian mengerikan, yang hampir saja merenggut nyawa seseorang di depan matanya.
"Sama-sama, Tuan. Tapi ... apa Anda juga yang sudah membantu kami untuk meringankan pengobatan Mama saya, Tuan?" Itulah pertanyaan yang sejak beberapa hari yang lalu Allura pikirkan.
"Itu bukan apa-apa, Lura. Kamu sudah menyelamatkan nyawaku dan aku hanya bisa membantumu sedikit saja," jawab Arzan.
Allura beberapa kali menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Namun, gadis itu merasa sedikit sungkan karena Arzan sudah membiayai operasi mamanya juga. Allura sangat mengetahui berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk pengobatan mamanya dan itu semua sudah ditanggung oleh Arzan.
"Tapi, Tuan ... saya ... saya merasa Anda terlalu berlebihan. biaya rumah sakit Mama tidaklah murah. Jadi–"
"Jangan pikirkan lagi tentang biaya rumah sakit Mamamu. Fokuslah saat ini pada pekerjaanmu dan semoga Mamamu lekas sembuh," ucap Arzan sambil tersenyum lembut.
__ADS_1
Allura cukup terharu atas ucapan Arzan. Gadis itu balas tersenyum lembut pada pria didepannya.
"Terima kasih, Tuan."
Di sisi lain, ada seorang wanita yang tengah mengintip kedekatan mereka berdua selain Bibi Erni dan juga Viana. Nira, gadis itu mengikuti kemana Arzan pergi bersama Pak Ujang. Bahkan, dia juga meminta Nyonya Fika untuk meminjamkan salah satu sopir keluarga Rafindra padanya.
"Si*l, kenapa Mas Arzan lebih dekat dengan Allura? Ternyata dia tidak menggubris permintaanku kemarin. Sepertinya aku harus mulai mencari cara untuk menjauhkan mereka berdua. Jika Allura tidak ingin pergi dari kehidupan Mas Arzan, maka aku harus membuat Mas Arzan sendiri yang pergi dari kehidupan Allura," monolognya sambil mengepalkan tangan.
Bahkan Nira tidak mempedulikan Ibu Ani yang sedang yang berada di ruangan operasi. Gadis itu tidak berniat untuk menemuinya saat ini, dia menyusul Arzan ke rumah sakit hanya untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh pria incarannya.
Nira tidak berniat untuk mengakrabkan diri dengan Nyonya Fika dan Bintang. Dia datang dan masuk ke rumah itu hanya untuk mendapatkan Arzan, juga harta kekayaan yang mungkin akan diberikan kepada Allura sebagai putri mendiang Pak Adnan.
Saat Arzan dan Allura masih sedang berbicara, tiba-tiba Viana datang menghampiri mereka. Sahabat Allura itu menyadari ada gerak-gerik seseorang di balik tembok lorong yang sedang memperhatikan mereka semua.
"Ra, maaf ganggu. Kamu lihat, di sana ada seseorang yang sedang mengintipmu dan Tuan Arzan," tunjuk Viana dengan dagunya.
Allura dan Arzan mengikuti arah tunjukkan Viana, mereka memang melihat sehelai baju yang sedang memunggunginya di balik dinding lorong itu.
Allura berniat untuk menghampiri wanita yang sedang memperhatikannya. Namun, begitu dia berdiri, tangannya langsung digenggam kembali oleh Arzan yang melarang dia untuk menghampiri wanita itu.
"Sudahlah, jangan pikirkan dia. Aku akan menghubungi seseorang untuk membawanya kembali ke rumah," ucap Arzan sambil menarik tangan Allura untuk duduk kembali.
"Tapi–"
"Sudah, tidak apa-apa, Ra. Nurut saja perintah Tuan Arzan. dia pasti tahu apa yang harus dilakukannya," tanggap Viana yang langsung diangguki oleh Arzan.
Akhirnya, Allura pun menurut. Dia kembali duduk bersama Arzan, Viana dan Bibi Erni untuk menunggu Ibu Ani yang masih berada di dalam ruangan operasi.
__ADS_1