
Arzan cukup lama menghabiskan waktunya di rumah Ibu Ani. Bahkan, pria itu juga sempat membantu menjaga Bintang sambil membiarkan Allura memasak makanan untuk keluarga serta dirinya.
Saat makanan sudah matang, Allura dan Bibi Erni membawanya ke ruang tengah rumah itu, mereka makan sambil lesehan.
"Anda tidak keberatan 'kan jika kita makan sambil lesehan seperti ini?" tanya Allura sambil mendudukan dirinya di samping Arzan.
"Tentu saja tidak, Ra. Aku juga sudah biasa makan lesehan seperti ini ketika salah satu klienku mengajak makan di restoran keluarga," jawab Arzan sambil tersenyum.
Allura mengambil alih Bintang yang sedang digendong oleh papanya, dia membiarkan Arzan untuk mengisi perut terlebih dulu sebelum dia pulang ke rumahnya.
"Lura, apa kamu tidak ikut makan?" tanya Arzan saat melihat Allura yang malah bangkit dari sana.
"Tidak, Tuan. Saya akan menidurkan Bintang terlebih dulu," jawab Allura sambil menghentikan langkahnya yang hendak menuju ke kamar.
"Oh, baiklah. Maaf, karena aku sudah merepotkanmu," ucap Arzan.
"Tidak apa-apa, Tuan. Ini sudah menjadi kewajiban saya sebagai pengasuhnya." Allura kembali berbalik dan berjalan menuju kamar miliknya yang bersebelahan dengan kamar Ibu Ani.
Arzan menatap punggung Allura yang mulai menghilang di balik pintu kamar miliknya. Ada rasa kagum dan juga sesak dalam hatinya saat melihat bagaimana Allura memperlakukan Bintang, sangat berbeda jauh dengan ibu kandungnya sendiri, Rivera.
Ya Tuhan, aku sangat bersyukur karena sudah dipertemukan dengan Allura. Dia tidak hanya cantik dan baik, tapi dia juga merupakan wanita yang penuh dengan kasih sayang. Aku sangat beruntung, meskipun Bintang tidak disayangi dan tidak diinginkan oleh ibu kandungnya, nyatanya dia bisa mendapatkan semua itu dari gadis yang menjadi Ibu susunya, batin Arzan.
Ibu Ani dan Bibi Erni tidak menanggapi tatapan Arzan pada Allura, mereka tidak mau ikut campur lebih jauh. Meskipun Ibu Ani tidak menyetujui hubungan Arzan dan Allura. Namun, ia tak ingin memaksakan kehendaknya dengan melarang usaha Arzan. Dia hanya perlu memantau agar anaknya tidak kembali merasakan sakit hati yang pernah dirasakan dulu.
"Silakan dimakan, Tuan. Anda tidak perlu mengkhawatirkan Allura. Dia bisa menjaga dirinya sendiri," ucap Bibi Erni melihat Arzan yang tak kunjung menyantap makanannya.
__ADS_1
Arzan segera menarik diri dari lamunannya dan menjawab perkataan Bibi Erni. "Baik, Bi. Terima kasih."
Ketiga orang dewasa itu pun kembali melanjutkan acara makan malamnya yang sempat tertunda tadi.
Allura sendiri di dalam kamar sedang menyusui Bintang agar bayi itu tertidur lelap. Di rumah kontrakan, Allura merasa sedikit was-was saat menyusui Bintang. Dia takut jika ibu, maupun bibinya yang tiba-tiba datang dan masuk ke kamar itu. Sedangkan, pintu kamar Allura tidak mempunyai kunci karena sudah rusak dan belum sempat menggantinya.
Mudah-mudahan saja Bibi Erni dan Mama tidak asal masuk ke dalam kamarku, batin Allura sambil terus menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat.
Setelah memakan waktu hampir setengah jam, akhirnya bintang pun terlelap dalam dekapan Allura. Gadis itu segera menurunkan Bintang dari dekapannya secara perlahan dan hati-hati. Allura membaringkan tubuh kecil Bintang di atas kasur busa miliknya.
Selepas itu, ia pun keluar dari kamar untuk mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Allura juga sempat mengangguk sesaat kala melihat Arzan yang masih ada di sana sendirian.
"Lho, Anda belum pulang, Tuan? Bibi dan Mamaku ke mana?"
"Belum, aku sengaja menyuruh Ibu untuk beristirahat. Sedangkan Bibi Erni tadi pamit keluar, dia hanya berkata akan ke warung sebentar," jawab Arzan.
"Apakah Bintang sudah tidur?" tanya Arzan lagi.
"Sudah, Tuan. Saya permisi mau ke dapur dulu," ucap Allura sebelum dia melangkah menuju dapur untuk mengambil makanannya.
"Baiklah, silakan."
Arzan kembali fokus pada ponselnya sambil mengecek pekerjaan yang dikirimkan Edwin lewat email. Rasanya terlalu berat untuk meninggalkan Allura dan Bintang di rumah Ibu Ani, makanya sedari tadi dia hanya duduk sendirian di sana.
Apa aku ajak saja Allura dan Bintang pulang, ya? Tapi ... bagaimana dengan Ibu Ani yang masih merindukan anaknya? batin Arzan sambil mengusap wajahnya yang terasa penat.
__ADS_1
Allura datang kembali dengan sepiring nasi di tangannya, gadis itu duduk dengan sopan dan meletakkan makanannya di depan.
"Saya makan dulu, Tuan," ucap Allura yang langsung diangguki oleh Arzan.
"Silakan."
Tak sedikitpun Allura merasa canggung saat hendak menyuapkan nasi ke dalam mulutnya, gadis itu mengunyah makanannya meskipun Arzan terus menatapnya. Meskipun Allura bersikap acuh, tapi dalam hatinya dia sangat gugup. Bahkan, Allura hampir tersedak oleh makanan yang sedang dinikmatinya.
"Tuan, tidak bisakah Anda membiarkan saya makan dengan tenang?" tegur Allura saat Arzan masih terus menatapnya dengan lekat.
"Memangnya apa yang sudah aku lakukan, Ra?"
"Ish, jangan terus menatapku seperti itu! Lebih baik, sekarang Anda pulang saja. Lagi pula ini sudah terlalu malam, tidak enak dilihat di tetangga," saran Allura sambil menengok keluar pintu yang sedang terbuka lebar. Di luar sana, ada beberapa tetangga yang sengaja lewat ke depan rumahnya dan sengaja melirik rumah kontrakan yang ditempati oleh Allura serta Ibu Ani.
Arzan mendengus pelan saat melihat bagaimana para warga itu menatap rumah kontrakan Allura. Ya, para warga di sana masih selalu ingin tahu urusan orang lain. Meskipun begitu, tapi Allura merasa sedikit berterima kasih karena mereka juga mempunyai hati yang baik saat dia dan mamanya sedang kesusahan.
"Baiklah. Aku pamit pulang dulu, salam untuk Ibu dan Bibimu. Besok aku akan menjemputmu. Jadi, kamu tidak perlu pulang dengan menggunakan angkutan umum. Tunggu aku di sini," ucap Arzan sambil mewanti-wanti Allura yang baru selesai menikmati makanannya.
"Tentu, Tuan. Saya juga akan memastikan Bintang untuk tetap aman dan tenang saat saya membawanya menginap di sini," jawab Allura dengan yakin.
"Baiklah, aku percaya padamu." Arzan bangkit dari duduknya dan mulai berjalan keluar rumah, diikuti oleh Allura di belakangnya.
"Hati-hati, Tuan." ucap Allura saat mobil Arzan mulai melaju. Gadis itu terus memerhatikan mobil Arzan yang mulai menghilang di balik belokan rumah kontrakannya.
Saat Allura hendak masuk ke rumahnya, tiba-tiba Dewi datang menegurnya, hingga membuat Allura menghentikan langkahnya dan berdiri tegak didepan Dewi.
__ADS_1
"Wah ... wah ... wah, kamu sudah lama tidak pulang kemari. Dan ... saat pulang pun sudah membawa bayi serta seorang pria. Apa dia suamimu? Kapan kalian nikah? Kenapa bisa tiba-tiba punya anak? Ternyata ... kamu bukan gadis yang benar-benar polos, ya?"