Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 85


__ADS_3

Arzan dan Allura baru sampai ke rumah saat hari menjelang petang. Setelah tadi sempat menangis cukup lama, kini perasaan Allura sudah merasa lebih baik. Sepasang sejoli itu masuk ke rumah Tuan Anderson sambil bergandengan. Meskipun jejak air mata Allura sudah tida ada, tapi mata bengkaknya tak bisa ia sembunyikan.


Nyonya Fika merasa heran saat melihat mata calon menantunya yang sedikit bengkak, ia pun menyimpan Bintang di kasur bayi, sebelum akhirnya bangkit dan menghampiri Allura.


"Lura, kenap matamu bengkak, Nak? Apa yang terjadi, Zan?" tanya Nyonya Fika begitu dia berdiri di hadapan Arzan dan Allura.


"Ini semua gara-gara Ri–"


"Tidak ada, Ma. Aku baik-baik saja. Tadi hanya sempat berdebat kecil dengan seseorang," jawab Allura yang langsung memotong perkataan Arzan. Allura tidak ingin Arzan semakin memperkeruh keadaannya dengan Rivera. Apalagi jika sampai Nyonya Fika tahu apa yang sudah dilakukan Rivera padanya.


Nyonya Fika merasa tidak yakin dengan jawaban yang Allura berikan, ia merasa jika calon menantunya itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Lantas, wanita paruh baya itupun menatap sang anak, tapi Arzan juga tidak mengatakan apa-apa dan memilih untuk mengalihkan pandaangannya kearah lain.


Ada apa ini? Kenapa Allura dan Arzan tidak mengatakan apapun? batin Nyonya Fika yang merasa heran pada keduanya.


Allura menyadari tatapan Nyonya Fika padanya. Namun, dia segera mengalihkan topik pembicaraan lain. Selain dia harus menjaga perasaan Nyonya Fika, Allura juga tidak ingin membebani pikiran wanita paruh baya itu.


"Ma, bagaimana Bintang hari ini, apa dia rewel?" tanya Allura sambil menghampiri bayi mungil yang sedang tidur menyamping ke arahnya.


Nyonya Fika hanya bisa membuang napasnya dengan kasar saat Allura mengalihkan topik pembicaraan mereka. Namun, sebelum Nyonya Fika berbalik menghampiri Allura, ia menatap anak laki-lakinya dengan tajam. Arzan menelan ludahnya susah payah saat ia mendapatkan tatapan tajam dari mamanya.


Ya Tuhan ... kenapa Mama malah menatap sinis padaku? batin Arzan sembari mengikuti langkah mamanya di belakang.


Nyonya Fika ikut duduk di samping Allura. Gadis itu masih terus menatap mata bulat Bintang yang tengah menatapnya. Dalam hati Allura, dia bertanya-tanya, Kenapa Nyonya Vera tega memperlakukan bayi lucu ini dengan kejam? Bagaimana reaksinya saat di melihat tatapan bayi tidak berdosa ini?


Allura baru tersadar dari lamunannya saat Nyonya Fika memukul pelan bahunya. Dia langsung mengalihkan tatapan dari bintang pada Nyonya Fika yang kini sudah duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Kenapa Mama memukulku?" tanya Allura sambil mengerutkan keningnya.


"Mama lihat, dari tadi kamu terus melamun. Bahkan, Mama sudah beberapa kali memanggilmu, tapi kamu tetap tidak meresponnya. Ada apa, Ra?" tanya Nyonya Fika seraya menatap Allura dengan lekat.


Allura hanya bisa menundukkan kepalan dan kembali menyembunyikan air matanya yang mulai kembali menggenang. Dia sudah tidak ingin menangis, tapi pikirannya kembali terlempar pada beberapa saat lalu. Setelah Allura merasa lebih baik dan matanya kembali normal, barulah ia menengadah.


"Aku tidak apa-apa, Ma. Sungguh ... Mama tidak perlu khawatir, Mas Arzan selalu menjagaku," jawab Allura sambil menyunggingkan senyum untuk membuat Nyonya Fika percaya dengan ucapannya.


Lagi-lagi Nyonya Fika menatapnya dengan lekat, ia mencoba mencari tahu kejujuran Allura lewat tatapan mata. Namun, Allura benar-benar pandai menyembunyikan perasaannya sehingga membuat Nyonya Fika tidak bisa menebak apa yang dia rasakan saat ini.


"Ya sudahlah, Mama akan mencoba untuk mempercayai kalian. Lalu, bagaimana pertemuanmu dengan Tuan Okta, Kakekmu?"


"Alhamdulillah, semua berjalan lancar, Ma. Hanya saja ... kami tidak sempat mengobrol karena kondisinya belum benar-benar pulih dan ada Ethan yang memergoki kami," jawab Allura seadanya.


"Ethan? Maksudmu Ethan cucu tiri Tuan Okta?" tanya Nyonya Fika dengan nada terkejut, sehingga membuat Allura dan Arzan terheran-heran.


"Zan, kenapa kamu tidak mengatakan jika Ethan ada di sana?" Nyonya Fika menghampiri Arzan dan mendudukan dirinya di samping sang anak.


"Apa maksud Mama? Bukankah Ethan memang biasa ada di sana?"


"Bukan begitu, Zan. Kemarin dia sempat menjadi buronan, gara-gara dia sudah menipu anak teman Mama." Nyonya Fika mengapa kan tangannya kuat-kuat karena kesal, dia mendengar salah satu teman arisannya mengatakan jika sudah menjadi korban penipuan dari pria yang bernama Ethan. Setelah Nyonya Fika tanyakan lagi, ternyata Ethan yang dimaksud temannya itu adalah Ethan cucu tiri Tuan Okta.


Baik Arzan maupun Allura begitu terkejut saat mendengar ucapan Nyonya Fika. Mereka tidak menyangka jika ternyata Ethan juga bisa melakukan kejahatan seperti itu.


"Kenapa Mama tidak mengatakannya dari pagi? Padahal, jika aku mengetahui kebusukannya dari awal, aku sudah menyeret dia ke kantor polisi," ucap Arzan yang kembali emosi saat mengingat bagaimana Ethan merendahkan Allura dengan tatapannya.

__ADS_1


"Ya ... Mama kira dia sudah kabur jauh dan tidak berani menampakkan dirinya di sekitar sini lagi, Zan," jawab Nyonya Fika sambil tertunduk lemas. Sungguh, dia ikut merasa kesal terhadap Ethan. Bagaimana tidak, pria itu sudah menipu anak tamannya hingga ratusan juta dalam kurun waktu singkat.


Allura yang sedari tadi duduk terdiam mendengarkan pun ikut penasaran. Dia semakin ingin mengetahui sifat Ethan untuk berjaga-jaga dilain hari.


"Memangnya dia sudah melakukan penipuan apa, Ma?" tanya Allura.


Nyonya Fika pun menceritakan bagaimana kronologisnya Ethan melakukan kejahatan itu pada anak dan calon menantunya. Berbagai macam ekspresi ditunjukkan oleh wanita paruh baya itu, sedangkan Allura dan Aran terus memperhatikannya. Nyonya Fika bercerita cukup lama, tapi Allura sama sekali tak merasa bosan, berbeda halnya dengan Arzan yang sudah beberapa kali menguap.


"Ya, dan yang terakhir, dia juga membawa mobil rental temannya sebelum dia jual, Ra." Nyonya Fika menyudahi ceritanya.


"Wah ... aku tidak menyangka dia akn melakukan hal seperti itu, Ma. Apalagi jika mengingat dia itu adalah cucu tunggal Kakek Okta, pasti hidupnya sudah bergelimang harta dan tidak perlu melakukan kejahatan itu," ujar Allura. Gadis itu sama sekali tak menunjukkan rasa irinya pada Ethan. Justru, dia sangat menyasayangkan atas perbuatan Ethan yang sudah membuat keluarga angkatnya malu.


Nyonya Fika tersenyum tipis saat mendengar penuturan Allura. Baginya, Allura terlalu polos dan hanya bisa melihat sisi kehidupannya saja. Padahal, nyatanya orang yang terbiasa hidup susah lebih bisa memahami dan menghargai seseorang.


"Tidak semua orang berpikiran seperti itu, Ra. Justru, mereka yang hidupnya bergelimang harta, sesalu mencari-cari masalah. Mereka tidak pernah merasa cukup dan selalu berusaha untuk mendapatkan hal yang lebih tanpa mempedulikan tindakan mereka itu benar atau salah," kata Nyonya Fika yang langsung diangguki oleh Arzan.


Ketiga orang dewasa itu terus mengobrol dan bercerita hingga waktu menjelang maghrib. Setelah mendengar suara adzan berkumandang, barulah mereka membubarkan diri dan masuk kamar masing-masing.


...❤️❤️❤️...


Terima kasih atas dukungannya kakak-kakak 😊🙏 Semoga kalian sehat selalu🤗🤗 Sambil tunggu ini up, baca rekomendasi novel pagi ini yu 😁😁


...Nah, ini dia 👇👇👇


__ADS_1


...


__ADS_2