Bukan Sekedar Ibu Susu

Bukan Sekedar Ibu Susu
Bab 72


__ADS_3

Ibu Ani merasa heran karena tadi sempat mendengar suara tangisan Bintang, tapi itu hanya sesaat dan tak lama.


Wah, benar-benar bayi yang baik. Tapi ... kenapa Allura tidak membuatkannya susu? Aku juga tidak melihat Allura membawa botol susu sejak kedatangannya, batin Ibu Ani yang merasa heran sendiri.


Lantas, ia pun bangkit dari duduknya yang tengah menunggu kedatangan Bibi Erni di ruang depan dan menuju kamar Allura, dia hendak menanyakan kondisi bayi yang sedang diasuh oleh Allura.


Ibu Ani tahu jika pintu kamar Allura tidak memiliki kunci, jadi ia cukup membukanya secara perlahan agar tidak menggangu bayi itu.


Namun, gerakan Ibu Ani terhenti, saat Allura tengah mengeluarkan salah satu aset berharganya dan memberikan itu pada Bintang.


'Degh'


Jantung yang baru beberapa hari lalu menjalani operasi, kini kembali terasa sakit dan sesak, kala melihat anak gadisnya secara langsung memberikan ASI kepada bayi yang tengah digendongnya.


A-apa ... apa-apaan ini? Sejak kapan Allura menyusui? Ba–bagaimana bisa? Kenapa Allura melakukan hal itu? Berbagai pertanyaan seperti itu, muncul begitu saja dalam benaknya. Dia masih tidak mempercayai pemandangan didepannya. Lantas, Ibu Ani pun semakin membuka lebar pintu kamar Allura.


"Allura, apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Ibu Ani sambil menatap nanar anaknya. Hati ibu mana yang tidak kecewa dan sakit, saat melihat anak gadisnya tengah menyusui bayi? Apalagi Allura belum pernah menikah dan mengandung, bagaimana bisa dia memiliki untuk diberikan pada anak majikannya?


Allura mematung, ia sudah cukup tersentak oleh pintu yang terbuka, ditambah orang yang kini sedang menatapnya adalah sang ibu. Allura tak bisa menjawab pertanyaan Ibu Ani, bibirnya seakan terkunci rapat. Dia merasa sudah sangat bersalah karena sudah mengecewakan mamanya.


"Jawab Allura, kenapa kamu bisa melakukan hal itu? Bagaimana bisa kamu menyusui Bintang sedangkan kamu sendiri belum menikah dan mengandung? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Mama? Apa kamu sudah g*la?"


Pertanyaan-pertanyaan Ibu Ani sedikit menohok dalam hati Allura. Gadis itu hanya bisa bersimpuh sambil membungkuk tanpa bisa melepaskan pay*daranya yang masih dinikmati Bintang.


"Ma–maafkan aku, Ma. Aku ... aku terpaksa menerima pekerjaan ini. Aku tidak punya pilihan lain untuk membiayai pengobatan Mama," ujar Allura pelan. Dia tidak ingin membuat Bintang kembali terbangun dan menangis.

__ADS_1


"Selesaikan itu dan segera temui Mama di luar!" perintah Ibu Ani dengan nada bicara datar dan tegas.


Allura tidak mengatakan apa-apa, gadis itu hanya bisa mengangguk pelan. Setelah melihat anggukan dari sang anak, Ibu Ani pun keluar dari kamar Allura.


Hatinya saat ini terasa hancur, bukan hanya karena Allura yang menjadi ibu susu, tapi karena alasan Allura melakukannya.


Ya Tuhan ... anakku sampai melakukan pekerjaan itu demi pengobatanku. Tolong maafkan aku yang tidak bisa memberikan kehidupan yang layak untuk anakku sendiri, batin Ibu Ani sambil terisak pelan di kamarnya.


Rasa sakit, sesak, marah dan kecewa ia rasakan secara bersamaan. Air matanya tak mampu dibendung lagi, Ibu Ani pun menangis sejadi-jadinya. Dia mencoba untuk meluapkan semua emosi itu lewat tangisan.


Tak berapa lama kemudian, pintu kamarnya diketuk seseorang. Ibu Ani melihat Allura yang sedang berdiri sambil menunduk dalam.


"Masuk dan tutup pintunya!" perintah Ibu Ani.


Allura menganggu dan melakukan apa yang diperintahkan sang mama padanya. Setelah pintu tertutup rapat, Allura segera menjatuhkan dirinya di hadapan Ibu Ani. Gadis itu sujud sambil menangis di kaki mamanya. Allura merasa sangat bersalah karena sudah mengecewakan sang mama.


"Ma–maafkan aku, Ma. Maaf karena aku sudah membuatmu kecewa. Maaf karena sudah membuatmu malu," ucap Allura disela-sela tangisannya.


Ibu Ani masih bergeming, tidak ada niatan untuknya menjawab semua ucapan Allura padanya. Dia terlalu malu pada sang anak yang belum bisa ia berikan kebahagiaan.


"Ma, aku benar-benar minta maaf. Aku tahu, apa yang kulakukan ini salah. Tapi ... aku ... aku terpaksa. A–"


Ucapan Allura terhenti, Ibu Ani tiba-tiba merangkul dan memeluknya dengan erat. Ibu Ani sadar, Allura tidak akan melakukan semua itu jika bukan karena terpaksa untuk membiayai pengobatannya. Jadi, dia tidak bisa menyalahkan sang anak kerena pekerjaannya. Namun, ia juga tidak mudah menerima kenyataan itu. Apa yang akan dia katakan jika sampai ada salah satu keluarga ataupun tetangganya yang mengetahui tentang pekerjaan Allura, tentu saja dia tidak bisa menjawab apa-apa, walau bagaimanapun itu menjadi salahnya.


"Maafkan Mama, Lura. Mama tidak bisa memberikan kebahagiaan padamu. Justru, Mama yang malah menyusahkanmu," ucap Ibu Ani disela-sela pelukannya.

__ADS_1


Allura, anak yang selama ini dia jaga dan sangat disayangi harus mempertaruhkan masa depan demi pengobatannya. Bagaimana mungkin dia tidak sedih akan hal itu. Bahkan, Allura tidak memedulikan dirinya sendiri.


"Maafkan Mama, sayang. Mama benar-benar sudah menyusahkanmu."


"Tidak, Ma. Aku yang minta maaf ... karena ... karena aku sudah mencoreng nama baik Mama," kilah Allura yang tidak ingin mamanya merasa bersalah atas pekerjaan yang sudah diambil.


"Kamu tidak bersalah, Nak. Kamu tidak mencoreng nama baik Mama. Bahkan kamu berkorban sebesar ini untuk Mama, Nak."


Sepasang ibu dan anak itu terus berpelukan, sampai-sampai mereka tidak menyadari kehadiran Bibi Erni yang sudah mematung di ambang pintu melihat Ibu Ani dan Allura tengah berpelukan sambil menangis. Dia pun tidak mengerti alasan keponakan serta sepupunya menangis seperti itu.


"Apa yang sedang terjadi, An?" tanya Bibi Erni pada Ibu Ani.


Ibu Ani dan Allura melepaskan pelukannya setelah mendengar suara Bibi Erni yang menegur mereka.


"Ada apa, An? Kenapa kalian menangis seperti itu? Apa ada hal yang membuat kalian bersedih?" tanya Bibi Erni lagi saat tak kunjung mendapatkan jawaban.


Ibu Ani melirik Allura sesaat, sebelum menjawab pertanyaan sepupunya. Allura mengerti dengan tatapan mamanya, gadis itu segera menggeleng samar ia meminta sang mama supaya tidak mengatakan hal yang sebenarnya pada Bibi Erni.


"Ti–tidak apa-apa, Ni. Kami ... kami hanya sedang mengingat mendiang Mas Adnan saja," jawab Ibu Ani akhirnya.


Allura langsung mengangguki jawaban mamanya, dia belum siap jika ada salah satu anggota keluarga yang mengetahui pekerjaannya saat ini.


"Oh, baiklah. Kalian yang sabar. Mudah-mudahan beliau tenang di alam sana," ucap Bibi Erni seraya melangkah mendekati sepasang ibu dan anak itu.


"Kamu segera istirahat, Ra. Biar Mamamu, Bibi yang akan menjaganya," sambung Bibi Erni pada Allura.

__ADS_1


Allura pun hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan Bibi Erni. Gadis itu segera keluar dari kamar sang mama dan menuju kamarnya untuk beristirahat.


__ADS_2