
Allura kembali ke kamarnya untuk menelpon Bibi Erni, ia berniat meminta nomor ponsel milik keluarga Nira yang ada di kampung. Walau bagaimanapun, Allura tidak bisa membiarkan Nira berlama-lama diam di rumah Nyonya Fika dan Tuan Anderson. Allura tidak ingin Nira sampai berbuat hal yang lebih nekat dari hari ini.
Cukup lama hingga Bibi Erni menjawab panggilan Allura. Setelah lama menunggu, akhirnya Bibi Erni pun menjawab panggilan Allura.
"Assalamualaikum, Ra. Ada apa kamu telepon Bibi malam-malam?" tanya Bi Erni. Ia merasa heran dengan keponakannya karena baru beberapa saat yang lalu majikan Allura menelponnya.
Allura tersenyum kaku saat mendengar suara Bibi Erni yang terdengar seperti orang sedang mengantuk.
"Wa'alaikum salam. Maaf ganggu, Bi. Lura ingin meminta nomor ponsel Paman Dani. Majikanku akan mengirim Nira pulang malam ini juga," jawab Allura.
"Oh, tapi tadi majikanmu sudah meminta nomor ponsel Paman Dani, Ra. Memangnya ada apa?" tanya Bibi Erni, pasalnya baru beberapa saat yang lalu Tuan Anderson menelponnya.
"Majikanku? Siapa, Bi?" Allura cukup terkejut saat Bibi Erni mengatakan jika sebelumnya majikannya sudah menelepon dia terlebih dulu.
"Itu, Tuan Anderson yang menelpon Bibi, Ra. Tapi, Bibi juga tidak tahu untuk apa dia meminta nomor telepon Paman Dani," jawab Bibi Erni.
Allura pun mengangguk-anggukan kepalanya beberapa kali seakan-akan Bi Erni sedang berada di hadapannya.
"Baiklah, Bi. Maaf karena aku sudah mengganggu malam-malam," ucap Allura sebelum ia mengakhiri panggilan itu.
Setelah menelpon Bibi Erni, Allura pun keluar dari kamarnya dengan membawa Bintang yang tadi sudah terbangun. Gadis itu berjalan menuju ruang keluarga, dimana ketiga majikannya sedang berkumpul di sana.
"Lura, kamu belum tidur?" tanya Nyonya Fika saat Allura datang bersama cucu kesayangannya.
"Belum, Nyonya. Saya ... saya baru saja selesai menelepon Bibi Erni untuk meminta nomor telepon Paman Dani. Tapi, beliau mengatakan jika Tuan Anderson sudah menelponnya terlebih dulu, apa itu benar?" tanya Allura pada Tuan Anderson yang sedang duduk di samping istrinya.
"Iya, aku sudah menelpon Bibimu tadi," jawaban Tuan Anderson sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Bagaimana perasaan Papa sekarang, setelah mengetahui sifat Nira yang sebenarnya." Arzan cukup penasaran dengan tanggapan Tuan Anderson terhadap Nira sekarang. Apalagi setelah Nira melakukan kekerasan pada Nyonya Fika.
Terdengar helaan nafas panjang dan berat dari Tuan Anderson, pria paruh baya itu kini sangat menyesal atas tindakannya dulu yang lebih percaya pada Nira. Gara-gara gadis itu, istrinya hampir celaka dua kali. Beruntung ada Allura yang membuat dia tidak membalas kekerasan yang dilakukan Nira. Meskipun Allura tidak memintanya secara langsung, tapi dari tatapannya, dia menginginkan jika Tuan Anderson dan Nyonya Fika tidak menjebloskan Nira ke dalam penjara.
"Andaikan saja Papa tidak menghargai Allura, rasanya Papa sudah ingin menuntut dia dan menjebloskannya ke dalam penjara. Papa benar-benar kecewa dengan semua tindakan dan niat jahatnya, sebelumnya Papa kira dia gadis baik-baik yang lugu. Tapi ternyata ...." Tuan Anderson menghentikan ucapannya dan menggeleng pelan. Intinya dia sudah sangat kecewa dengan semua tindakan yang sudah dilakukan oleh Nira terhadap keluarganya.
Arzan dan Nyonya Fika hanya bisa menggeleng pelan sambil tersenyum tipis saat mendengar pengakuan Tuan Anderson. Baru kali ini mereka melihat pria paruh baya itu merasa bodoh dengan tindakannya. Padahal, tidak biasanya dia mudah mempercayai seseorang, tapi kali ini semua perilakunya keliru terhadap Allura.
"Lura, aku benar-benar minta maaf. Mulai sekarang ... bisakah kamu mengganti panggilan pada kami?" tanya Tuan Anderson pada Allura yang sedari tadi hanya terdiam sambil mendengarkan ketika majikannya berbicara.
"Maksudnya, Tuan?"
Tuan Anderson melirik istri dan anaknya terlebih dulu, setelah mendapat kedipan mata serta anggukan samar, barulah ia berkata, "Bisakah sekarang kamu memanggil kami dengan sebutan 'Mama dan Papa?"
Pertanyaan Tuan Anderson langsung membuat Allura terkejut seketika, gadis itu menganga sambil membekap mulutnya. Mata bulat gadis itu pun ikut melebar karena saking terkejutnya.
Gadis ini sifatnya benar-benar mirip dengan Adnan, tidak hanya parasnya saja yang cantik, tapi hatinya juga sangat baik, batin Tuan Anderson sambil menatap Allura dengan lekat.
"Rara, kenapa kamu hanya diam saja?" tanya Arzan sambil menyikut Allura yang sedari tadi hanya terdiam mematung dengan mata yang membulat.
"Hah?" Allura mendadak blank saat Arzan kembali bertanya padanya.
"Iya, Lura. Apa kamu tidak keberatan jika kami menginginkan dipanggil 'Mama Papa' olehmu?" tanya Nyonya Fika lagi.
Allura masih terdiam, ia tak punya kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan kedua paruh baya itu. Allura bukan gadis yang benar-benar lugu, ia tahu di balik itu semua, mereka pati menyimpan sebuah harapan besar padanya. Namun, di sisi lain Allura juga tak kuasa untuk menolak keinginan mereka berdua.
"Maaf, Tuan, Nyonya, saya rasa ... saya tidak perlu memanggil kalian seperti itu. Rasanya saya kurang sopan," tolak Allura dengan nada rendah, ia takut jika Nyonya Fika dan Tuan Anderson tersinggung dengan ucapannya.
__ADS_1
Ketiga orang dewasa di sana cukup di buat terkejut dengan jawaban Allura, hal itu benar-benar di luar dugaan mereka.
"Lho, memangnya kenapa, Ra?" tanya Nyonya Fika.
"Iya, Ra. Kenapa kamu menolaknya?" Arzan ikut bertanya, ia sangat penasaran dengan jawaban Allura yang menolak mengganti panggilannya.
"Saya hanya merasa kurang nyaman dan terkesan sudah kurang ajar saja, Nyonya, Tuan. Jadi, saya memilih untuk memanggil kalian dengan panggilan saat ini," ujar Allura.
Setelah mendengar penjelasan Allura, Nyonya Fika, Tuan Anderson dan Arzan pun tak mau memaksanya lagi. Mereka tak ingin membuat gadis itu merasa tak nyaman dengan semua ketentuan yang mereka inginkan.
"Baiklah, kami mengerti. Panggilan kami senyaman kamu saja, Lura," tanggap Tuan Anderson diikuti Nyonya Fika yang mengangguk pelan dan tersenyum hangat pada Allura.
Sesaat ruangan itu kembali hening, hingga tiba-tiba Tuan Anderson membahas perceraian Arzan dengan Rivera.
"Zan, bagaimana dengan proses pengajuan perceraianmu dengan Vera?" tanya Tuan Anderson. Ia ingat jika Arzan kini tengah disibukkan dengan kasus perceraiannya dengan sang mantan istri.
.
.
.
.
Halo kakak-kakak yang baik, mohon dukungannya untuk novel salah satu teman Author yang ini. Jangan lupa mampir, ya 🤗🤗🤗👇👇👇
__ADS_1